Jalan Berliku (Bu Guru) Rahmi

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langit senja menggantung muram di atas kampung kecil di pinggiran kota tak jauh dari Jakarta. Di teras rumahnya yang sederhana, Rahmi duduk termenung dengan buku biologi terbuka di pangkuan. Sore itu, ia baru saja menerima kabar yang memukul hatinya dalam, yakni ia tidak diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kampus yang selama ini menjadi pusat dari semua mimpinya.
Matanya sembab menahan tangis, namun bibirnya tetap berusaha tersenyum saat ibunya menyuguhkan teh hangat. Dalam keheningan yang menyesakkan, Rahmi mencoba mencari makna dari semua usahanya—belajar hingga larut malam, ikut bimbingan belajar, doa-doa yang dipanjatkan—semuanya terasa sia-sia seketika.
“Bu, Rahmi sudah belajar mati-matian. Tapi…” suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tak sanggup melanjutkan kalimat itu. Matanya tak berani menatap wajah ibunya yang mulai menua, penuh harap pada anak gadisnya yang dikenal cerdas dan tekun itu.
Ibunya hanya mengusap punggungnya pelan, seolah-olah ingin berkata bahwa segala kegagalan adalah bagian dari hidup. Namun bagi Rahmi, kegagalan ini bukan sekadar kehilangan kesempatan akademik, tapi juga luka pada harga dirinya. Sejak kecil, ia bermimpi membantu orang lain, menyembuhkan luka-luka, dan menjadi seperti para dokter yang dilihat pada layar kaca atau di rumah sakit kampung.
Hari-hari pun berlalu dalam kabut kekecewaan. Namun Rahmi tidak bisa selamanya larut dalam kesedihan. Dalam doa-doa panjangnya di mushola kecil kampung, ia meminta petunjuk, arah, dan kekuatan.
Selain itu, ada sosok yang selalu hadir dalam pikiran dirinya sejak kecil, yaitu Romo Yustinus, tokoh agama Katolik yang begitu dihormati oleh warga kampung, tak terkecuali umat Muslim seperti keluarganya.
Romo yang dikenal bijaksana itu kerap berbincang dengan siapa pun, tanpa membedakan latar belakang. Rahmi sering mengunjungi wisma pastor untuk sekadar berdiskusi, berbagi cerita, atau menanyakan hal-hal filosofis yang mengusik benaknya.
Suatu sore, ia datang menemui Romo sambil membawa bekal hati yang berat. “Romo, Rahmi gagal masuk FK UI,” ucapnya pelan, matanya menunduk. Romo menatapnya lekat, lalu tersenyum lembut.
Tidak ada rasa kasihan dalam tatapan itu, hanya pemahaman yang dalam dan penerimaan yang menenangkan. “Mungkin Tuhan tidak ingin kamu menyembuhkan tubuh,” katanya perlahan. “Mungkin Dia ingin kamu menyembuhkan hati.”
Kalimat itu singkat, tapi mengendap lama dalam benak Rahmi. Ia tidak langsung memahami maknanya sepenuhnya, tapi sesuatu di dalam dirinya merasa disentuh oleh harapan baru.
Dengan langkah ragu, Rahmi kemudian mendaftar ke program D3 Bahasa Mandarin di UI. Keputusan itu diambil bukan karena keyakinan, melainkan karena keterpaksaan. Ia merasa bidang itu jauh dari mimpinya menjadi dokter, namun setidaknya itu satu-satunya pilihan yang masih tersedia.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dunia yang semula asing itu justru mulai membuka pesonanya. Rahmi mulai jatuh cinta pada keunikan nada-nada tonal, pada aksara-aksara yang tampak rumit tapi penuh makna, dan pada budaya Tionghoa yang begitu kaya akan filosofi. Ia belajar dengan tekun, menulis karakter demi karakter, dan perlahan-lahan, Mandarin menjadi bagian dari dirinya. Ia bahkan menjadi salah satu mahasiswa terbaik di angkatannya.
Setelah menyelesaikan studinya, Rahmi kembali menemui Romo, kali ini dengan kebimbangan baru. “Romo, Rahmi sudah lulus. Apa harus kerja di perusahaan saja?” tanyanya, sambil menimbang-nimbang masa depan yang masih terasa kabur.
Romo tidak segera menjawab. Ia menatap Rahmi cukup lama sebelum berkata pelan, “Mengajarlah. Seorang guru tak hanya berbagi ilmu, tapi juga membentuk manusia. Itu profesi yang sangat mulia.”
Kata-kata itu membuat Rahmi terdiam. Ia tidak pernah benar-benar mempertimbangkan menjadi guru. Baginya, mengajar adalah profesi sulit, penuh pengorbanan, dan tidak sepopuler atau semapan profesi lainnya. Tapi ada nada keyakinan dalam suara Romo yang tidak bisa ia abaikan.
Rahmi pun mulai menapaki dunia pendidikan. Ia menawarkan les privat Mandarin dari rumah ke rumah, mengajar anak-anak tetangga, bahkan menjadi sukarelawan di sebuah sekolah kecil di tak jauh dari tempatnya tinggal.
Ia menghadapi banyak keraguan dari orang lain—dan dari dirinya sendiri. “Gadis desa mau jadi guru Mandarin? Siapa yang mau percaya?” begitu komentar yang kerap ia dengar. Tapi Rahmi tidak gentar.
Ia terus mengasah diri, memperbaiki pengucapan, menambah wawasan budaya, dan mempelajari metode pedagogis. Rahmi belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dan dari keberanian kecil yang ia pupuk setiap hari.
Tahun-tahun berlalu dalam kesunyian perjuangan. Namun Rahmi tidak pernah benar-benar menyerah. Ia mulai membangun reputasi kecil di antara orang tua murid. Ia tidak hanya mengajar bahasa, tapi juga menanamkan semangat dan nilai.
Ia menjadi guru yang disenangi murid-murid karena ketulusan dan pendekatannya yang bersahaja. Suatu hari, sebuah sekolah swasta ternama di Jakarta membuka lowongan guru Mandarin. Dengan ragu tapi berharap, ia mengirimkan lamaran. Ia tahu persaingannya tidak mudah, namun kali ini ia merasa cukup percaya diri untuk mencoba.
Dan akhirnya, untuk pertama kalinya sejak kegagalan pertamanya dulu, takdir berpihak pada Rahmi. Ia diterima. Hari pertama mengajar, ia berdiri di depan kelas dengan jantung berdebar namun wajah penuh keyakinan.
Ia menuliskan aksara-aksara Mandarin di papan tulis sambil mengingat jalan panjang yang telah dilalui. Rahmi bukan dokter seperti yang dulu diimpikan, tapi setiap hari ia merasa sedang menyembuhkan sesuatu: keraguan para murid, ketakutan mereka pada pelajaran asing, dan luka-luka kecil yang dibawa setiap anak ke dalam kelas.
Kini, Bu Rahmi adalah sosok yang menginspirasi. Ia tidak hanya mengajar bahasa, tetapi membagikan kekuatan untuk bangkit dari kegagalan, keberanian untuk mengambil jalan yang tak terduga, dan keyakinan bahwa profesi mulia tidak harus selalu sesuai dengan rencana awal hidup kita.
Setiap pagi ia datang ke sekolah dengan langkah mantap, menyambut murid-muridnya dengan senyum hangat, dan terus mengajarkan bukan hanya tentang Mandarin, tapi juga terkait dinamika kehidupan.
Dan di setiap akhir hari, saat ia duduk di ruang guru atau menyusuri lorong sekolah yang senyap, Rahmi tahu dan mengerti satu hal pasti, yakni ini memang bukan jalan yang dulu dibayangkan, tapi inilah jalan yang membawa ia menjadi dirinya yang sebenarnya. Jalan Rahmi—yang sederhana, berliku, namun penuh makna.
