Jebakan "Hanya" Belajar di Ruang Kelas

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah berbagai diskursus pembaruan pendidikan, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yaitu pembelajaran yang tidak relevan dengan kehidupan nyata.
Di banyak sekolah, proses belajar mengajar masih terpusat pada guru, terbatas di ruang kelas, dan terpaku pada buku serta ujian. Pendidikan sering kali berhenti pada teoretis pengetahuan, bukan pemahaman membumi dan kontekstual.
Dalam situasi seperti ini, penulis belajar dari sosok guru bernama Pak Joni (bukan nama sebenarnya) puluhan tahun silam. Pak Joni bukan guru biasa. Ia tidak membatasi ruang belajar hanya di dalam kelas. Ia mengajak murid-murid menyusuri sungai, membersihkan pantai, berkegiatan di alam, bahkan mendaki gunung di sekitar sekolah.
Bagi Pak Joni, setiap kegiatan di luar kelas bukanlah sekadar “jalan-jalan edukatif”, tetapi proses pedagogis yang menyeluruh, membentuk karakter, kesadaran ekologis, dan kepekaan sosial.
Model pendidikan yang diterapkan Pak Joni merupakan sintesis dari beragam pendekatan pembelajaran yang sudah lama dikembangkan oleh para pakar pendidikan global, yaitu pedagogi, andragogi, heutagogi, peeragogi, dan cybergogi.
Kelima pendekatan ini dapat menjadi fondasi kuat dalam membenahi pendidikan Indonesia—asal diterapkan dengan pemahaman yang tepat dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman pendidikan formal.
Dalam pendekatan pedagogi klasik, guru menjadi pusat proses belajar. Ia mengarahkan, mengontrol, dan menyalurkan pengetahuan kepada murid yang diposisikan sebagai penerima pasif. Model ini mungkin cocok di masa lalu, ketika akses informasi terbatas. Namun, dalam dunia yang sudah sarat informasi dan keterbukaan seperti saat ini, pendekatan ini menjadi usang jika diterapkan secara tunggal.
Pak Joni menunjukkan bahwa pedagogi tetap penting, namun perlu ditransformasi. Ia tetap memandu murid, tetapi tidak mendominasi. Ia hadir sebagai fasilitator kehidupan, bukan penguasa kelas. Ia tidak hanya menjelaskan materi, tetapi membimbing proses mengalami dan memahami. Pembelajaran yang dialami murid tidak datang dari hafalan, melainkan dari interaksi langsung dengan dunia nyata.
Andragogi, yang diperkenalkan oleh Malcolm Knowles, berfokus pada pembelajaran orang dewasa—yakni pembelajar aktif, mandiri, dan membawa pengalaman hidup dalam proses belajar.
Meski murid Pak Joni bukan orang dewasa secara usia, mereka didorong agar bertumbuh seperti pembelajar dewasa. Dalam kegiatan debat, sidang akademis, penulisan paper, dan forum refleksi, murid diajak untuk membangun argumen, menguji ide, dan mempertanggungjawabkan pemikiran mereka.
Pendidikan bukan lagi tentang “mengisi” kepala murid, tetapi memantik kesadaran berpikir. Guru dan murid tidak berada dalam relasi vertikal, tetapi setara secara intelektual. Di sinilah letak semangat andragogi yang relevan diterapkan bahkan sejak usia remaja—sebagai cara menumbuhkan tanggung jawab dan keberanian berpikir.
Lebih radikal lagi, pendekatan heutagogi menempatkan murid sebagai subjek penuh dari proses belajar. Mereka tidak hanya belajar tentang sesuatu, tetapi belajar bagaimana belajar.
Pak Joni mempraktikkan pendekatan ini lewat kegiatan-kegiatan kreatif, yakni proyek budaya, ajang kreativitas, pelatihan khusus, hingga festival yang dirancang dan dikelola oleh murid sendiri. Di sini, murid diberi ruang untuk mengeksplorasi minatnya, menentukan tujuan belajar, dan mengevaluasi hasilnya sendiri.
Inilah wujud konkret dari “merdeka belajar” yang sering digaungkan dalam wacana pendidikan nasional. Namun, kenyataannya, tidak banyak sekolah yang benar-benar memberi kebebasan belajar ini kepada muridnya. Masih terlalu banyak pembatasan, ketakutan gagal, dan tekanan pada nilai akhir. Padahal, tanpa merdeka belajar, kita tidak akan pernah menghasilkan pembelajar sejati.
Salah satu kekuatan pendidikan yang kerap terabaikan adalah pembelajaran sejawat. Dalam pendekatan peeragogi (atau paragogi), murid belajar bersama, saling memberi dan menerima, membentuk komunitas belajar kolaboratif.
Pak Joni memfasilitasi hal tersebut melalui kaderisasi, kerja tim, dan forum terbuka. Ia memahami bahwa belajar tidak hanya soal isi, tetapi juga proses sosial. Melalui interaksi dengan teman, murid belajar mendengarkan, menyanggah, memperbaiki, dan menyempurnakan pemikirannya.
Sayangnya, sistem pendidikan kita masih cenderung individualistik. Penilaian didasarkan pada hasil ujian atau assessment individu. Kolaborasi sering dicurigai sebagai bentuk kecurangan. Padahal dunia kerja dan kehidupan nyata justru menuntut kerja sama dan kemampuan bersosialisasi yang baik. Peeragogi menawarkan jalan keluar dari pendekatan kompetitif yang menyesatkan.
Era digital tidak bisa dihindari. Di sinilah pendekatan cybergogi menjadi penting. Pak Joni, meski lebih dikenal lewat kegiatan luar ruang, juga tidak menutup mata terhadap teknologi. Ia memanfaatkan media digital untuk dokumentasi, komunikasi, bahkan sebagai ruang ekspresi murid. Teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi jembatan ke dunia lebih luas. Pembelajaran menjadi fleksibel, personal, dan adaptif.
Kendati demikian tantangan pendidikan digital di Indonesia masih besar. Ketimpangan akses, keterbatasan kompetensi guru, serta minimnya kurikulum digital menjadikan cybergogi lebih sebagai wacana ketimbang praktik nyata. Pemerintah perlu serius membangun ekosistem pembelajaran digital yang tidak hanya bertumpu pada perangkat, tetapi juga perubahan paradigma.
Kisah Pak Joni memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan bukan sesuatu utopia. Ia mungkin hanya satu dari sedikit guru yang berani menjelajah jalan berbeda, tetapi keberadaannya penting sebagai arah panutan.
Pendidikan tidak harus dibenahi dari atas, melalui regulasi kaku dan kurikulum teknis. Justru dari praktik-praktik kecil dan otentik seperti yang dilakukan Pak Joni, kita belajar bagaimana pendidikan dapat benar-benar menyentuh kehidupan.
Pemerintah, pembuat kebijakan, dan pemimpin sekolah seharusnya melihat lebih jauh dari sekadar angka kelulusan dan akreditasi. Pendidikan harus dilihat sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya—yang berpikir, merasa, bertindak, dan berani bertanggung jawab atas masa depan.
Sudah saatnya sekolah-sekolah agar tidak terjebak belajar "hanya" di ruang kelas. Dunia luar menunggu untuk menjadi ruang belajar sesungguhnya. Guru seperti Pak Joni bukan pengecualian yang aneh, tetapi justru contoh pendidikan yang dibutuhkan sekarang dan di masa depan.
