Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.1
Konten dari Pengguna
Kembalinya Dua Anak Hilang
22 Februari 2025 9:30 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Kehidupan di jalan-jalan kelam mengajarkan Pardi, Sandi, dan Ramos cara bertahan di tengah kerasnya dinamika dunia yang tak mengenal belas kasihan. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, mereka terpaksa meninggalkan perkampungan kumuh akibat kondisi hidup yang makin memburuk.
ADVERTISEMENT
Demi bertahan hidup, mereka terbiasa mencuri makanan, terlibat perkelahian dengan geng lain demi mempertahankan wilayah, dan tidur di emperan toko yang dingin serta berdebu. Setiap hari menjadi perjuangan tanpa kepastian dan perlindungan.
Akan tetapi segalanya berubah ketika petugas sosial menangkap dan membawa mereka ke Panti Asuhan Darma Kasih Jaya. Di sana, mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak dan berkesempatan kembali ke sekolah -- sesuatu yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan. Meski demikian, kebebasan yang selama ini mereka kenal seakan lenyap, digantikan oleh aturan dan rutinitas yang terasa mengekang.
Pak Darmo, pemimpin panti, dengan sabar membimbing mereka, berharap anak-anak itu bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan secara lebih baik. Namun, ketiganya sulit diatur. Mereka sering membolos dari sekolah, terlibat perkelahian dengan anak-anak lain, dan bahkan beberapa kali melarikan diri untuk kembali ke jalanan.
ADVERTISEMENT
Bagi mereka, hidup di panti terasa seperti kurungan yang membosankan. Suatu malam, mereka duduk di sudut kamar dengan wajah murung. "Hidup di sini membosankan," keluh Ramos, menendang-nendang lantai dengan kedua kakinya.
"Kita bisa cari makanan sendiri, tanpa harus tunduk pada aturan!" tambah Sandi, suaranya penuh keyakinan. Pardi hanya diam, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa kebebasan yang mereka rindukan penuh dengan risiko.
Malam itu perut yang kosong ternyata lebih sulit diabaikan. Mereka nekat kembali ke jalanan dan mencuri makanan di sebuah warung kecil. Namun demikian, aksi mereka kali ini berakhir tragis. Pemilik warung memergoki mereka, memaksa anak-anak itu melarikan diri dalam kepanikan.
Tanpa memperhatikan sekeliling, mereka berlari secepat mungkin. Namun, dalam sekejap, suara benturan keras menggetarkan udara.
ADVERTISEMENT
"Braaak!"
Sandi tertabrak mobil yang melaju kencang. Tubuhnya terlempar ke jalan, tak bergerak. Pardi dan Ramos hanya bisa berdiri terpaku, mata mereka membelalak saat melihat darah menggenang di aspal. Dunia yang selama ini mereka kenal tiba-tiba terasa lebih kejam daripada sebelumnya.
Sang sahabat tak lagi bergerak. Keheningan mencekam sejenak sebelum teriakan serempak memecah udara, "Sandi!!!" Isak tangis pun pecah, ketakutan merayap di hati mereka, dan penyesalan mulai mencengkeram batin.
Anak-anak itu bergegas kembali ke panti asuhan, melaporkan segalanya kepada Pak Darmo. Wajah lelaki tua itu mendadak pucat, matanya menerawang, seolah-olah tak percaya bahwa tragedi ini benar-benar terjadi.
Hari pemakaman Sandi dipenuhi duka. Air mata mengalir tanpa henti, tak hanya dari mata Pardi dan Ramos, tetapi juga dari teman-teman mereka -- Sinta, Ayu, dan Rokky -- yang datang untuk memberikan dukungan.
ADVERTISEMENT
Suasana sekolah terasa berbeda tanpa Sandi. Pak Hendro dan Bu Dewi, guru mereka, berusaha meneguhkan hati anak-anak yang berduka. "Hidup selalu memberi kesempatan kedua. Jangan sia-siakan hidup yang masih kalian miliki," ujar Pak Hendro penuh makna.
Kata-kata itu membekas dalam benak kedua anak itu, menjadi pengingat bahwa hidup harus terus berjalan meski luka tak mudah sembuh.
Sejak hari itu, Pardi dan Ramos berjanji untuk berubah. Mereka kembali ke sekolah dengan tekad baru. Di SMP Pandu Jaya, para guru dan teman-teman mendukung perubahan mereka. Hari-hari terasa lebih bermakna, tidak lagi diisi kenakalan tanpa arah.
Mereka belajar dengan sungguh-sungguh, mengukir masa depan yang lebih baik. Setelah lulus, jalan mereka mulai berpisah. Pardi memilih SMK, sementara Ramos melanjutkan ke SMA, keduanya mengejar impian yang mulai tumbuh dalam hati mereka.
ADVERTISEMENT
Pardi menemukan minatnya pada dunia otomotif. Ia mendalami ilmu permesinan dengan tekun hingga akhirnya lulus SMK sebagai montir andal.
Ramos, di sisi lain, memiliki panggilan berbeda. Ia bercita-cita menegakkan keadilan, tak ingin tragedi seperti yang menimpa Sandi terjadi pada orang lain. Dengan semangat membara, ia melanjutkan langkahnya menjadi seorang polisi, membawa tekad mengubah hidup dan kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Tahun-tahun berlalu tanpa terasa, hingga akhirnya di suatu hari yang tak terduga, di tengah riuh rendahnya sebuah kota, dua sahabat lama itu bertemu kembali.
Pardi, dengan seragam montir yang sudah lusuh oleh noda oli dan debu kerja kerasnya, tersenyum lebar melihat Ramos yang berdiri tegap dengan seragam dinasnya. Pertemuan itu seakan menghidupkan kembali kenangan lama yang telah lama tersimpan di sudut hati mereka.
ADVERTISEMENT
Mata Pardi berbinar, sementara Ramos menatapnya dengan penuh kehangatan. “Kita sudah jauh berubah ya, Mos,” kata Pardi dengan suara yang mengandung keharuan.
Ramos mengangguk pelan, senyum kecil terukir di bibirnya, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam -- sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan luka, kehilangan, dan penebusan.
"Iya," jawab Ramos, suaranya lebih pelan namun penuh keyakinan. “Semua berawal dari kehilangan Sandi. Aku tidak mau ada anak-anak lain yang mengalami nasib seperti kita dulu. Aku ingin melindungi mereka.”
Ada getaran emosi dalam kata-katanya, seakan-akan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kembali terbuka. Sandi, nama itu kembali hadir di antara mereka, menghadirkan bayangan masa lalu yang penuh dengan penyesalan dan harapan.
ADVERTISEMENT
Kematian sahabat telah mengubah segalanya, menjadi titik balik yang membuat mereka memilih jalan berbeda dalam hidup. Ramos, yang dulu terombang-ambing dalam ketidakpastian, kini berdiri sebagai seorang pelindung, sementara Pardi, dengan tangannya yang terbiasa mengotori diri dengan oli dan debu demi mencari nafkah, telah menemukan kebanggaan dalam kerja kerasnya.
Mereka tertawa kecil, namun tawa itu segera berubah menjadi keheningan bermakna. Mata dua orang itu menerawang, seolah-olah melihat bayangan Sandi di antara kerumunan yang lalu lalang.
Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan untuk memahami bahwa di dalam hati, Sandi tetap hidup -- bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai pengingat akan perjalanan yang telah mereka tempuh.
Meskipun semua sudah terjadi, kendati pernah tersesat, pada akhirnya mereka telah menemukan jalan pulang. Sebuah jalan yang membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik, sebuah jalan yang berbuah manis dari sebuah pertobatan.
ADVERTISEMENT