Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Kisah Kecil di Lorong Sunyi
27 Februari 2025 10:38 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di pinggiran kota besar, tepatnya di SD Pantang Mundur, seorang murid bernama Naryo menjalani kesehariannya dengan penuh perjuangan. Dia berasal dari keluarga sederhana, di mana sang ayah dan ibunya bekerja sebagai pedagang sayur di pinggir jalan.
ADVERTISEMENT
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, dia membantu orang tuanya menata dagangan, meskipun sering kali merasa lelah dan mengantuk saat belajar di kelas. Uang jajan yang diberikan kepadanya hanya Rp 1.000, jumlah yang sangat terbatas untuk membeli jajanan di kantin sekolah.
Sebatang es lilin pun tidak cukup dengan uang tersebut, apalagi bakwan goreng yang dijual seharga Rp 2.000. Jika ingin menikmati semangkuk bakso yang harganya mencapai Rp 10.000, Naryo harus menabung selama sepuluh hari penuh.
Sayangnya, kondisi ekonomi keluarganya sering menjadi bahan ejekan teman-temannya, seperti Robby, Andang, Tanti, dan Sumo. Mereka tanpa henti mengejeknya, menyebutnya miskin dan menyindirnya karena tidak mampu membeli makanan enak seperti anak-anak lainnya.
Tekanan dari teman-temannya membuat Naryo merasa rendah diri dan mulai berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan jajanan tanpa harus mengeluarkan uang. Naryo mengamati suasana kantin setiap hari dan melihat bahwa saat waktu istirahat, anak-anak selalu berdesakan di depan meja penjaga kantin.
ADVERTISEMENT
Dari pengamatannya, muncul ide licik yang perlahan mulai dirancangnya. Dia menyadari bahwa dalam kerumunan yang ramai, gerak-geriknya bisa tersamarkan. Pada suatu siang, saat kantin penuh sesak oleh siswa yang berebut membeli makanan, Naryo menyelinap masuk ke antara mereka.
Dengan gerakan cepat, dia berpura-pura terdorong dan tanpa ragu mengambil dua potong gorengan. Jantungnya berdegup kencang, tetapi wajahnya tetap tenang. Setelah itu, Naryo berpura-pura sudah membayar gorengan dan meminta uang kembalian kepada Bu Parni, penjaga kantin yang tidak menyadari kecurangan kecil itu.
Ketika Bu Parni dengan ramah menyerahkan uang kembalian sebesar Rp 6.000, Naryo merasa puas karena rencananya berhasil. Dia menggenggam uang itu erat-erat, merasa seolah-olah telah menemukan cara cerdik guna menikmati jajanan tanpa perlu bersusah payah menabung.
ADVERTISEMENT
Tanpa rasa bersalah, Naryo melanjutkan cara ini keesokan harinya dan hari-hari berikutnya. Setiap kali jam istirahat tiba, dia menyelinap dengan sigap, mengambil makanan tanpa membayar, lalu berpura-pura membeli sesuatu agar mendapatkan uang kembalian.
Bagi Naryo, ini adalah strategi bertahan hidup yang cerdas, bukan sekadar tindakan mencuri. Dia bahkan mulai merasa percaya diri menghadapi teman-temannya yang sering mengejeknya. Dengan uang yang dikumpulkan, dia bisa membeli makanan yang sebelumnya hanya bisa diimpikannya.
Sejak saat itu, Naryo semakin lihai mencuri jajanan di kantin. Dia melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari mengambil makanan saat suasana sibuk hingga meminta uang kembalian untuk barang yang tidak dibeli. Para pedagang tidak menyadari perbuatannya, dan Naryo semakin percaya diri dengan trik-triknya.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi ada satu orang yang sejak awal memperhatikan gerak-gerik Naryo. Ia adalah Sari, teman sekelas yang pendiam tetapi cerdas. Sari merasa ada yang tidak beres setiap kali melihat Naryo membeli makanan. Ia pun diam-diam mengamati dan akhirnya mengetahui kebenaran bahwa Naryo sudah mencuri.
Pada suatu siang yang sepi, Sari mendekati Naryo dan berkata dengan lembut, "Naryo, aku tahu apa yang kamu lakukan di kantin. Itu tidak baik. Mencuri itu dosa."
Naryo terkejut. Wajahnya langsung memerah dan dia menundukkan kepala, tak mampu menatap Sari. "Aku... aku hanya ingin bisa makan seperti kalian," jawabnya pelan.
Sari tersenyum dan berkata, "Aku punya uang jajan lebih. Kalau kamu butuh, aku bisa membantumu. Kamu tidak perlu mencuri. Aku yakin masih ada cara yang lebih baik."
ADVERTISEMENT
Perkataan Sari menusuk hati Naryo. Dia merasa malu sekaligus terharu. Selama ini, Naryo berpikir tidak ada yang peduli padanya, tetapi ternyata ada seseorang yang dengan tulus ingin membantu. Dia menyadari bahwa perbuatannya salah, dan ia harus berubah.
Ditemani Sari, Naryo memberanikan diri meminta maaf kepada Bu Parni. Dengan suara bergetar, dia mengakui semua kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Bu Parni terharu mendengar pengakuan Naryo.
Beliau tersenyum dan berkata, "Naryo, kalau kamu tidak punya uang, datang saja ke sini. Ibu punya banyak jajanan seperti lontong, bakwan, tahu isi, dan pisang rebus. Kamu tidak perlu membayar, asal sekolahmu rajin, itu sudah cukup bagi ibu."
Perkataan Bu Parni membuat Naryo terharu. Dia tak menyangka masih ada orang yang begitu baik padanya. Perbuatan baik Bu Parni juga menular kepada pedagang lain.
ADVERTISEMENT
Pak Sukmo, penjual bakso, dan Bu Ipah, penjual nasi uduk, juga menawarkan bantuan serupa. Mereka sepakat untuk tidak membiarkan ada anak yang kelaparan di sekolah mereka.
Naryo tersipu malu tetapi juga merasa lega. Dia mengucapkan terima kasih kepada Sari dan semua pedagang yang telah membantunya. Kini, Naryo bertekad sungguh menjadi anak yang jujur dan baik. Teman-temannya yang dulu suka menghina pun mulai menyadari kesalahan mereka.
Para murid itu melihat bagaimana Naryo berubah dan akhirnya berhenti mengejeknya. Perlahan-lahan, mereka mulai berteman dengan Naryo dan memperlakukan dirinya dengan lebih baik.
Sejak hari itu, Naryo tidak lagi mencuri. Dia belajar bahwa kejujuran dan kebaikan hati lebih berharga daripada sekadar menikmati jajanan dengan cara curang. Dia juga semakin rajin belajar dan membantu orang tuanya berjualan. Kini, Naryo tidak hanya mendapatkan makanan, tetapi juga mendapatkan sahabat sejati yang peduli padanya.
ADVERTISEMENT