Konten dari Pengguna

Makna Rukem, sebagai Dialektika Proses Pendidikan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buah rukem, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buah rukem, sumber: Pexels.

Di masa kecil yang teduh di Kampung Sawah, Bekasi di era tahun 1980-an, ada satu ritual unik sebelum menikmati buah rukem (Flacourtia rukam), yakni memijatnya. Buah bulat kecil agak keras, sepat, dan memilukan lidah jika digigit mendadak itu tidak bisa langsung dikunyah begitu saja. Ia membutuhkan sentuhan perlahan, dipijat memutar di antara dua telapak tangan hingga dagingnya melunak dan kulitnya agak memar.

Baru setelah proses telaten itu selesai, rasa manis bersanding asam yang menyegarkan terpancar sempurna. Keasyikan menikmati buah langka ini selalu membawa ciri khas yang menggelitik: bercak kuning yang tertinggal dan menempel erat di gigi.

Secara biologis, Flacourtia rukam memang memiliki karakter unik, yaitu sifat fisiknya yang keras-sepat harus dilunakkan melalui tekanan mekanis halus (dipijat) agar kandungan gulanya keluar, dan senyawa alami di dalamnya meninggalkan pigmen kuning yang melekat kuat pada email gigi. Uniknya, karakter alamiah buah ini sebangun dengan sifat dasar manusia dalam belajar.

Pengalaman memetik dan memakan rukem di Kampung Sawah bukan sekadar memori nostalgia masa kecil, melainkan metafora pedagogis yang presisi bagi realitas dunia pendidikan kita hari ini.

Di era teknokrasi yang menuntut segalanya serba cepat, serba terukur, dan serba instan, dunia pendidikan kerap terjebak dalam penyakit akut: fetishisme hasil akhir. Sekolah dan sistem kebijakan kita hari ini kerap bertindak seperti pemakan buah yang tidak sabaran—menginginkan rasa manis prestasi tanpa pernah mau berdarah-darah mengolah rasa sepat dari sebuah proses tumbuh kembang.

Padahal, peserta didik mirip seperti Flacourtia rukam yang baru dipetik dari dahan. Mereka lahir dengan watak dasar yang keras, unik, autentik, dan mungkin terasa "sepat" atau berontak pada awalnya. Jika digigit paksa tanpa diproses, ia hanya akan meninggalkan rasa pahit dan penolakan.

Celakanya, modernitas pendidikan sering kali memilih jalan pintas yang dangkal. Ketika menghadapi anak yang "sepat" dan keras, sistem bukannya memijat, melainkan memukul. Anak-anak dipaksa masuk ke dalam cetakan uniformitas yang kaku melalui standarisasi nilai, pemeringkatan mekanis, dan obsesi angka-angka komparatif. Peran pendidik direduksi hanya menjadi juru ketik kurikulum dan pengawas ujian, bukan lagi pendoa dan pendamping jiwa.

Padahal, "memijat" rukem secara anatomis adalah analogi langsung dari olah rasa dalam pengajaran. Sama seperti memijat rukem yang membutuhkan tekanan pas—tidak boleh terlalu keras agar buah tidak hancur, namun tidak boleh terlalu lemah agar dagingnya tidak tetap bebal—pendampingan pedagogis memerlukan kehati-hatian sentuhan.

Memijat dalam konteks pedagogis autentik berarti keberanian untuk berinvestasi waktu: memberikan ruang bagi anak untuk berproses, mengenali potensi diri, serta melunakkan kebebalan ego tanpa mematahkan karakter aslinya. Tanpa proses "pemijatan" berupa pembentukan karakter, pengasahan daya kritis, dan pembiasaan bertahap, potensi terbaik dalam diri anak tidak akan pernah keluar secara utuh. Yang tersisa hanyalah kepatuhan semu.

Satu hal yang tak kalah menarik dari ingatan masa kecil di Kampung Sawah adalah bekas kuning yang menempel pada gigi setelah memakan Flacourtia rukam. Mengapa gigi menjadi kuning? Karena pigmen dan zat asam dari daging buah rukem berinteraksi langsung dengan permukaan gigi saat dikunyah. Warna kuning itu bukan kotoran, melainkan jejak kimiawi dari interaksi yang intens.

Di satu sisi, gigi yang menguning tampak seperti sebuah celah, noda, atau kekurangan estetika sementara. Namun di sisi lain, warna kuning tersebut adalah tanda sahih, sebuah bukti otentik bahwa seseorang telah benar-benar mengecap, bertarung, dan menikmati buah tersebut secara langsung, bukan sekadar melihat gambarnya.

Dalam dinamika persekolahan, "gigi kuning" ini adalah metafora presisi dari jejak perjuangan, kegagalan, kelelahan, dan benturan intelektual maupun emosional yang ditinggalkan oleh proses belajar itu sendiri.

Pendidikan yang sejati tidak pernah steril dari noda, kesalahan, atau pergumulan. Justru melalui jejak-jejak pergelutan itulah—melalui rasa asam yang menyengat lidah dan warna kuning yang tertinggal di gigi—seorang anak menginternalisasi nilai-nilai kehidupan yang hakiki. Anak yang tidak pernah mengalami "gigi kuning" dalam belajarnya adalah anak yang hanya menjadi penonton; mereka menghafal teori tentang buah dari jauh, tetapi tidak pernah benar-benar mengecap rasanya.

Ironisnya, pendidikan hari ini sangat ketakutan terhadap "noda" proses. Kita mengagungkan wajah luar yang putih bersih dan sempurna: ijazah dengan angka-angka murni, ruang kelas yang tenang tanpa perdebatan, dan murid-murid yang penurut tanpa daya kritis.

Kita lupa bahwa steril dari kesalahan sering kali berbanding lurus dengan steril dari kehidupan. Memandulkan proses demi kerapian formalistis dan citra lembaga justru mencabut roh dari pendidikan itu sendiri. Kita sedang memproduksi generasi yang tampak mengkilap di luar, namun rapuh dan kosong di dalam.

Rukem (Flacourtia rukam) di Kampung Sawah mengajarkan kita sebuah kebijaksanaan radikal yang melampaui zaman: bahwa pendidikan adalah seni memproses yang keras menjadi melunak, yang mentah menjadi matang, serta keberanian untuk merayakan "noda" perjuangan sebagai bagian tak terpisahkan dari pendewasaan.

Pendidik yang bijak dan berjiwa pamong paham betul bahwa tugasnya bukan menghapus bekas kuning di gigi muridnya demi estetika semu, melainkan memastikan bahwa setiap anak memiliki keberanian untuk mengecap kehidupan—dengan segala rasa asam, sepat, dan keindahannya.