Konten dari Pengguna

Melukis Mural: Ekspresi Seni, Kolaborasi, dan Edukasi di Ruang Publik

Odemus Bei Witono

Odemus Bei Witono

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lomba melukis mural di Dragonfly Strada Youth Camp, sumber: Dok. Strada.
zoom-in-whitePerbesar
Lomba melukis mural di Dragonfly Strada Youth Camp, sumber: Dok. Strada.

Bekasi, sebuah kota penyangga metropolitan yang penuh dinamika, pada 20 Mei 2025 disemarakkan oleh kegiatan yang sarat makna dan warna. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-101 Perkumpulan Strada, sebuah lomba melukis mural diadakan di Dragonfly Strada Youth Camp, Toyogiri.

Kegiatan lomba ini selain menjadi ajang kompetisi, juga menjadi panggung ekspresi seni, wadah kolaborasi antar murid, serta sarana edukasi kreatif yang menyentuh berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya.

Lomba yang diikuti oleh 27 tim dari kalangan pelajar SMP, SMA, dan SMK ini menjadi sorotan karena melibatkan sekitar 81 murid, masing-masing tim terdiri dari tiga orang.

Dimulai sejak pagi hari dan berlangsung hingga pukul 14.00, para peserta terlihat begitu antusias menorehkan warna-warni gagasan mereka ke dinding yang telah disediakan. Lebih dari sekadar lomba, ini merupakan selebrasi atas semangat berkarya dan bersatu melalui seni.

Mural, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai lukisan pada media dinding, seringkali memiliki fungsi yang jauh melampaui nilai estetika. Dalam sejarah seni rupa, mural kerap menjadi media ekspresi sosial, kritik budaya, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan. Namun di balik makna-makna besar tersebut, mural juga bisa menjadi media pendidikan dan pemberdayaan, terutama bagi generasi muda.

Melalui kegiatan seperti lomba mural ini, para pelajar tidak hanya diajak untuk mengasah kemampuan teknis melukis, tetapi juga belajar menyampaikan pesan melalui visual.

Mereka dituntut berpikir kreatif, bekerja sama dalam tim, dan menuangkan ide-ide abstrak menjadi bentuk-bentuk komunikatif. Dalam proses itu, mereka belajar bahwa seni bukanlah kegiatan eksklusif, melainkan medium inklusif yang dapat merangkul berbagai latar belakang dan usia.

Ajakan bangun karakter lewat pesan lukisan mural, sumber: Dok.Strada.

Kegiatan lomba mural di Dragonfly Strada Youth Camp menyimpan nilai edukatif yang kuat. Pertama, kegiatan ini mendorong murid berpikir kritis dan imajinatif.

Setiap lukisan mural bukan sekadar goresan acak, tetapi hasil dari pemikiran, diskusi, dan pemahaman terhadap tema tertentu. Tema tersebut bisa berkaitan dengan sejarah Strada, semangat kebangsaan, keberagaman, atau harapan mereka terhadap masa depan.

Kedua, kegiatan ini memperkenalkan metode pembelajaran alternatif. Pendidikan tidak selalu harus berada di dalam kelas. Dengan membawa para murid ke luar ruang dan membiarkan mereka menghasilkan suatu karya kreasi secara nyata, pendidikan menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan. Mereka mengalami langsung bagaimana konsep, kerja keras, dan kolaborasi bisa menghasilkan sesuatu yang indah dan berdampak.

Ketiga, lomba mural juga menumbuhkan rasa percaya diri. Melukis di ruang publik berarti membiarkan karya dilihat oleh banyak orang. Hal demikian bukan perkara mudah bagi banyak pelajar, apalagi bagi mereka yang belum terbiasa memamerkan hasil karyanya. Namun dengan adanya dukungan dan suasana kompetitif yang sehat, para peserta belajar menghadapi tantangan itu dan membuktikan bahwa mereka mampu.

Salah satu manfaat utama dari mural adalah kemampuannya menghidupkan ruang publik. Dragonfly Strada Youth Camp, yang menjadi tempat kegiatan ini, kini tidak sekadar menjadi lokasi perkemahan atau pelatihan, tetapi juga menjadi galeri terbuka yang merekam jejak kreativitas para murid. Dinding-dinding yang sebelumnya kosong kini berbicara melalui warna dan bentuk.

Kerja tim, upaya kreatif, dan semangat berkreasi menghasilkan karya estetika, sumber: Dok. Strada.

Ruang publik yang diwarnai dengan mural tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga memberikan identitas dan cerita. Di sinilah seni mengambil peran sosialnya.

Mural-mural yang dihasilkan oleh para peserta menjadi cermin dari dinamika pelajar zaman sekarang—penuh semangat, optimisme, dan keberagaman ekspresi. Bagi komunitas Strada, ini adalah bentuk perayaan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar pesta seremonial.

Dalam lomba, tentu ada juara. Namun menariknya, pada kegiatan ini, semangat yang ditunjukkan oleh seluruh peserta jauh melampaui hasil akhir. Mereka melukis dengan sepenuh hati, menunjukkan dedikasi luar biasa meski berada di bawah terik matahari. Goresan mereka bukan hanya bersaing agar menang, tetapi juga guna menyampaikan pesan dan merayakan semangat Strada yang telah berusia lebih dari satu abad.

Para pemenang memang layak mendapat apresiasi, tetapi tidak berarti peserta lainnya kalah. Justru, seluruh peserta adalah pemenang dalam konteks lebih luas—mereka telah memenangkan pengalaman, persahabatan, keberanian berkarya, dan pengakuan atas semangat mereka. Ini adalah nilai-nilai yang tak bisa dinilai hanya dengan piala atau piagam.

Yang paling penting dari kegiatan ini, yaitu adanya dampak jangka panjang. Mungkin mural-mural itu kelak akan memudar, tetapi pengalaman yang didapat para peserta akan terus membekas. Mereka akan tumbuh dengan ingatan bahwa mereka pernah mengambil bagian dalam peristiwa bersejarah—perayaan seabad lebih Strada—melalui medium yang mereka ciptakan sendiri.

Melalui kegiatan seperti ini, kita juga menanamkan pada generasi muda bahwa berkesenian bukanlah kegiatan pinggiran, melainkan bagian penting dari pembentukan karakter dan pembangunan bangsa.

Mural menjadi metafora dari kehidupan itu sendiri, yakni dibangun dari banyak lapisan, penuh warna, kadang tidak sempurna, tapi jika dilihat dari kejauhan, membentuk sesuatu yang indah dan utuh.

Sebagai catat akhir, lomba mural di Dragonfly Strada Youth Camp selain sebagai ajang perlombaan, juga merupakan momentum penting yang menunjukkan bahwa seni bisa menjadi jembatan pendidikan, kolaborasi, dan ekspresi sosial. Di tangan para murid Strada, dinding menjadi kanvas masa depan, tempat gagasan tumbuh, dan mimpi-mimpi direkatkan dalam warna.

Selamat ulang tahun ke-101 bagi Perkumpulan Strada. Semoga semangat ini terus hidup, menginspirasi, dan menjadikan seni sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan yang memanusiakan.