Menemukan Altar Kehidupan Baru

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada sore 2 Juli 2026, Joni masih memikirkan perjalanan ke Via Renata Raya, Cipanas.
Besok pagi ia akan berangkat. Tas belum dikemas, tetapi bahan pembekalan sudah tersusun di meja. Ia akan bertemu para leader baru Strada Jaya, berbicara tentang kepemimpinan, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana seorang pemimpin harus tetap memiliki hati untuk melayani.
Joni tersenyum sendiri ketika membayangkan pertemuan itu.
Ia memang sedang menikmati hari-hari yang padat. Menulis, membaca, berbicara, mendampingi orang, menghadiri pertemuan. Tubuhnya seakan mengikuti saja semua keinginannya. Ia jarang bertanya apakah tubuh itu masih sanggup.
Sore itu tubuhnya tiba-tiba menjawab.
Ketika bangkit dari kursi, pandangannya berkunang-kunang. Tangannya mencari pegangan. Lantai seperti bergerak.
"Joni!"
Suara Rina terdengar dari belakang.
Joni mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa."
Tetapi Rina sudah mendekat.
"Kamu pucat."
Riri yang baru masuk ikut panik. "Duduk dulu."
Anton mengambilkan air. Siska dan Arman yang mendengar keributan segera datang.
Beberapa menit kemudian mereka tidak lagi bertanya apakah Joni baik-baik saja.
Mereka membawanya ke rumah sakit.
---
Di Rumah Sakit St. Carolus Indah, semuanya berubah menjadi cepat dan asing.
Darah diambil. Tekanan darah diperiksa. Dokter datang dan pergi. Perawat berbicara dengan suara tenang yang justru membuat Joni semakin cemas.
Kemudian selembar hasil laboratorium diletakkan di hadapannya.
Joni membacanya.
HB 7,7.
Ia terdiam.
"Harus transfusi," kata dokter.
Joni mengangguk.
Kemudian datang penjelasan tentang kondisi ginjalnya.
Gagal ginjal kronis.
Joni menatap dokter, tetapi pikirannya seperti sudah jauh meninggalkan ruangan itu.
Via Renata Raya.
Tas yang belum dikemas.
Materi yang sudah disiapkan.
Para leader baru yang mungkin sedang menunggunya.
Semuanya mendadak terasa seperti kehidupan orang lain.
Malam itu ia dipindahkan ke ruang perawatan.
Fr. 5.
Joni memandang tulisan itu ketika ranjangnya didorong masuk.
Ia belum tahu bahwa empat karakter sederhana itu kelak akan menjadi bagian penting dari hidupnya.
---
Malam pertama di Fr. 5 terasa panjang.
Joni mencoba tidur.
Tidak bisa.
Ia memejamkan mata, tetapi pikirannya justru semakin ramai.
Mengapa sekarang?
Mengapa ketika pekerjaan sedang begitu banyak?
Mengapa ketika ia merasa sedang menemukan kembali gairah pelayanan?
Ia membuka mata.
Lampu kamar menyala redup.
Jam bergerak lambat.
Joni memandang tangannya sendiri.
Tangan yang selama ini digunakan untuk menulis.
Tangan yang menunjuk layar ketika memimpin rapat.
Tangan yang berjabat dengan banyak orang.
Sekarang tangan itu hanya terbaring di atas selimut.
Ia tiba-tiba merasa tidak berguna.
Perasaan itu membuatnya marah.
Kepada keadaan.
Kepada tubuhnya.
Dan diam-diam, kepada Tuhan.
Malam kedua lebih buruk.
Malam ketiga ia mengambil pena.
Di atas kertas ia menulis:
Antara Luka dan Doa.
Kata-kata itu keluar satu demi satu.
Tentang malam.
Tentang luka.
Tentang keresahan.
Tentang dirinya yang kecil di hadapan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan.
Ketika sampai pada bait terakhir, tangannya berhenti sejenak.
Kulepas ego yang mencengkram,
Kuruntuhkan angkuh yang tersisa,
Biar air mata jatuh tenggelam,
Membasuh perih di dalam dada.
Joni meletakkan pena.
Ia tidak merasa sembuh.
Ia bahkan belum merasa damai.
Tetapi setidaknya malam itu ia tidak lagi melawan sendirian.
---
Rina datang pagi-pagi.
Ia membawa kopi, lalu teringat bahwa Joni tidak boleh minum sembarangan.
"Kopi ini akhirnya menjadi milikku," katanya.
Joni tertawa kecil.
"Memang sejak kapan kamu mau berbagi?"
"Sejak kamu masuk rumah sakit."
"Berarti sakit saya ada gunanya."
Rina tersenyum.
Mereka terdiam.
Setelah beberapa saat Rina bertanya, "Takut?"
Joni tidak menjawab.
"Jon?"
"Takut."
Itulah pertama kalinya ia mengucapkan kata itu dengan jujur.
Rina tidak memberi nasihat.
Ia hanya duduk.
Dan Joni tiba-tiba merasa lega.
Tidak semua orang datang untuk memberikan jawaban. Ada yang datang hanya supaya seseorang tidak merasa sendirian.
---
Hari-hari berikutnya Fr. 5 mulai memiliki wajah-wajah yang akrab.
Riri datang membawa kabar dari luar.
Anton datang dengan cerita tentang pekerjaan yang tetap berjalan.
Siska lebih banyak diam. Ia duduk di dekat jendela dan kadang membaca sesuatu di telepon genggamnya.
Arman datang paling berisik.
"Kalau kamu bosan, kita bisa main kartu."
"Aku di rumah sakit, Man."
"Justru itu. Kalau di kantor kamu sibuk terus."
Joni tertawa.
Tawa itu kecil.
Tetapi Rina yang saat itu datang langsung tahu bahwa ada sesuatu yang berubah.
"Sudah bisa tertawa," katanya.
"Sedikit."
"Bagus. Sedikit-sedikit saja."
Pater Rangga datang.
Romo Johan datang.
Rm. Ben Warih dan Rm. Sulis juga bergantian menjenguk.
Tidak seorang pun meminta Joni menjadi kuat.
Mereka justru membiarkannya menjadi lemah.
Dan perlahan-lahan Joni mulai mengerti: mungkin selama ini ia terlalu terbiasa menjadi orang yang datang membawa sesuatu kepada orang lain.
Sekarang ia sedang belajar menerima kehadiran.
---
Suatu sore, ketika kamar mulai sepi, telepon Joni berdering.
Ia melihat nama di layar.
Pembesar.
Joni mengangkat telepon.
"Bagaimana?"
"Masih di Fr. 5, Pembesar."
"Bagaimana perasaanmu?"
Joni diam cukup lama.
"Saya masih mencoba memahami semuanya."
Di seberang sana terdengar suara yang tenang.
"Joni, hidup akan terus berlanjut dengan kebiasaan baru."
Hanya itu. Tidak panjang. Tidak ada uraian.
Tetapi kalimat itu tinggal lama di kepala Joni.
**Kebiasaan baru. **
Joni memandang jendela.
Selama ini ia berpikir hidup yang baik adalah hidup yang dapat ia atur.
Mungkin sekarang ia sedang belajar bahwa hidup bukan sesuatu yang seluruhnya harus dikendalikan.
Ia teringat Anthony de Mello dan gagasannya tentang *detachment*: melepaskan kelekatan terhadap gambaran diri yang selama ini kita anggap sebagai diri kita sendiri.
Joni mulai bertanya:
Kalau aku tidak lagi sesibuk dulu, apakah aku masih Joni?
Kalau aku tidak dapat berdiri di depan kelas, apakah pelayananku selesai?
Kalau tubuhku membutuhkan mesin untuk bertahan, apakah hidupku menjadi kurang berarti?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera memiliki jawaban.
Tetapi untuk pertama kalinya Joni tidak takut membiarkannya terbuka.
---
Tanggal 6 Juli.
Pagi itu dokter menjelaskan bahwa Joni akan menjalani operasi pembuatan akses hemodialisis (HD).
Roda brankar mulai bergerak.
Lorong rumah sakit terasa panjang.
Joni menatap langit-langit.
Tangannya dingin.
Di sampingnya Siska berjalan beberapa langkah.
"Jangan terlalu banyak berpikir," katanya.
"Sulit."
"Ya."
"Kalau kamu jadi aku?"
Siska tersenyum.
"Entahlah. Mungkin aku juga takut."
Joni menoleh.
Siska melanjutkan, "Tapi kamu tidak perlu takut sendirian."
Brankar terus bergerak.
Joni menutup mata.
Kalimat itu terasa seperti doa.
---
Operasi berlangsung lebih dari satu jam.
Ketika sadar, Joni merasa tubuhnya bukan lagi tubuh yang ia kenal.
Ia mencoba bergerak.
Berat. Kaku. Nyeri.
Tetapi anehnya, ia tidak panik.
Ia hanya berbisik,
"Terima kasih, Tuhan."
Bukan karena semuanya sudah baik.
Belum.
Tetapi karena Ia masih di sini.
---
Tanggal 7 Juli.
Hari yang cerah.
Pagi itu Joni dibawa ke ruang khusus yang berbeda untuk menjalani hemodialisis pembuka selama tiga jam.
Ketika melihat mesin di samping ranjang, dadanya kembali berdebar.
Dua selang besar terhubung dengan tubuhnya.
Darahnya mengalir keluar.
Masuk ke mesin.
Lalu kembali ke tubuhnya.
Joni memandangi aliran itu.
Untuk beberapa saat ia merasa ngeri.
Kemudian tiba-tiba ia teringat Beato Rupert Mayer, SJ.
Seorang imam yang kehilangan salah satu kakinya akibat perang.
Joni pernah membaca kisahnya.
Bagi orang lain, kehilangan kaki mungkin berarti kehilangan sebagian besar kebebasan.
Namun Rupert Mayer tidak berhenti.
Ia menemukan cara lain untuk berjalan.
Cara lain untuk berkhotbah.
Cara lain untuk melayani.
Joni menatap mesin HD.
Mungkin inilah caranya berjalan sekarang.
Ia tersenyum.
Mesin berdengung.
Darah mengalir.
Waktu berjalan.
Untuk pertama kalinya sejak 2 Juli, Joni tidak merasa sedang kehilangan sesuatu.
Ia merasa sedang menerima sesuatu.
Bukan penyakit.
Bukan penderitaan.
Melainkan kesempatan untuk melihat hidup dari sisi yang selama ini tidak pernah ia lihat.
---
Sore harin di hari berikutnya Rina datang bersama Riri, Anton, Siska, dan Arman ke ruang HD.
Mereka berdiri di sekitar ranjang.
Arman melihat mesin.
"Ini yang akan menemani kamu sekarang?"
Joni mengangguk.
"Sepertinya."
Anton berkata, "Berarti kamu punya teman baru."
Joni tersenyum.
"Teman yang mahal."
Mereka tertawa.
Kemudian hening.
Joni memandang satu per satu wajah mereka.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Terima kasih."
Rina. Siska dan Arman menggeleng.
"Jangan berterima kasih."
"Kenapa?"
"Kita teman."
Joni menunduk.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat dadanya penuh.
---
Malam itu Fr. 5 kembali sunyi.
Joni sendirian.
Ia melihat ruang di dalamnya.
Kemudian memandang kursi tempat Rina biasa duduk.
Kursi tempat Riri menaruh tas.
Kursi tempat Anton sering duduk sambil bercerita tentang pekerjaan.
Tempat Siska membaca.
Tempat Arman bercanda.
Ia melihat semuanya.
Dan mendadak Joni merasa bahwa ruangan ini tidak lagi sama.
Beberapa hari lalu ia menganggap Fr. 5 sebagai tempat yang merampas kebebasannya.
Sekarang ia melihatnya sebagai tempat di mana ia belajar menerima.
Tempat ia menangis.
Tempat ia marah.
Tempat ia didatangi.
Tempat ia didoakan.
Tempat ia belajar melepaskan kendali.
Tempat yang kemudian mengantar dirinya ke ruang HD, darahnya mengalir melalui mesin agar kehidupan terus berlangsung.
Joni tersenyum.
Ia akhirnya mengerti.
**Barangkali altar tidak selalu berada di gereja. **
Kadang altar itu berupa sebuah ranjang.
Kadang berupa tubuh yang sakit.
Kadang berupa mesin yang pada awalnya kita takuti.
Dan kadang, altar itu adalah ruang tempat seseorang akhirnya berhenti bertanya, *"Mengapa ini terjadi kepadaku?"*, lalu mulai berkata, *"Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku?"*
Joni menutup matanya.
Ia belum tahu seperti apa hari-hari berikutnya.
Ia hanya tahu bahwa hidupnya akan memiliki ritme baru.
Ia akan lebih lambat.
Lebih terbatas.
Mungkin lebih banyak bergantung kepada orang lain.
Tetapi mungkin juga lebih dalam.
Sebelum tidur, ia mengambil kertas puisinya sekali lagi.
Ia membaca baris terakhir.
Biarlah takdir-Mu yang bicara.
Kali ini ia tidak menangis.
Ia tersenyum.
Di luar, malam terus berjalan.
Di dalam Fr. 5, sebuah mesin jam berdetak pelan
Dan Joni akhirnya mengerti bahwa Tuhan tidak selalu menjumpai manusia di tempat yang ia pilih.
Kadang Tuhan menunggu di tempat yang paling ingin kita tinggalkan.
Bagi Joni, tempat itu adalah Fr. 5.
Di sanalah ia kehilangan banyak hal.
Di sanalah ia menemukan kembali dirinya.
Dan di sanalah, tanpa pernah direncanakannya, ia menemukan sebuah altar baru.
AMDG.
