Menuju Tiongkok Modern: Pasca Qing, dan Pemikiran dari Gerakan 4 Mei 1919

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
Konten dari Pengguna
17 September 2023 9:46 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Foto Pribadi: Menuju Tiongkok Modern
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto Pribadi: Menuju Tiongkok Modern
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tiongkok, saat ini dikenal sebagai negara modern yang mempunyai kemampuan bersaing ketat dengan Amerika Serikat, terutama terkait kekuatan ekonomi, dan militer. Kedua negara ini bersaing, dan sama-sama memperluas lingkaran pengaruh mereka terhadap negara-negara di sekitar, maupun di tempat-tempat lain di belahan bumi yang lebih jauh.
ADVERTISEMENT
Baik juga perlu disimak, kapan cikal bakal gagasan menuju Tiongkok modern. Ada perubahan seperti apa, di awal pendirian negara Tiongkok? Layaknya seperti negara-negara lain yang bertumbuh, demikian juga Tiongkok mengalami proses berliku, dan panjang menuju modernitas yang diharapkan.
Kekaisaran Tiongkok, setelah berproses lebih dari tiga ribuan tahun (dimulai Dinasti Xia, tahun 2100-1600 BCE) akhirnya pada Oktober 1911 runtuh. Fullerton dan Wilson (dalam, Mitter, Rana, 2008:2) menyaksikan keruntuhan dinasti Qing, sebagai dinasti terakhir. Revolusi Xinhai yang didukung suku mayoritas Han berhasil menggulingkan Dinasti Qing.
Sun Yatsen pemimpin revolusi, selanjutnya, pada bulan Maret 1912 menyerahkan kepemimpinan kepada Yuan Shikai 袁世凯, pemimpin militer yang disegani di Tiongkok Utara guna menghindari perpecahan.
ADVERTISEMENT
Keruntuhan dinasti Qing, tentu bagi orang luar menimbulkan spekulasi, akan seperti apa Tiongkok di masa depan. Mendefinisikan Tiongkok modern bukan perkara mudah, karena perlu memahami konteks, dan kompleksitas perjalanan histori pemikiran Tiongkok.
Dalam analisis Mitter, Rana (2008:2) lamanya waktu yang dibutuhkan Tiongkok untuk mendefinisikan visi modernisasi negara mengakibatkan gambaran perjalanan dari awal abad ke-20 masih dapat bergema hingga awal abad ke-21. Terlalu sederhana mengatakan Tiongkok sudah beralih dari masa lalu yang ‘tradisional’ ke masa kini yang ‘modern’.
Sebaliknya, Tiongkok modern yang sekarang dalam analisis Mitter, Rana (2008:5) merupakan hasil perpaduan kompleksitas antara pengaruh sosial dan adat istiadat masyarakat setempat serta pengaruh eksternal, yang seringkali, namun tidak selalu berasal dari Barat.
ADVERTISEMENT
Masyarakat tidak berubah dalam semalam pada revolusi Tiongkok tahun 1912, atau pada tahun 1949 dengan revolusi Komunis. Orang perlu melihat kontinuitas perubahan terkait cara orang Tiongkok mencapai modernitas, dan dampak perubahan terhadap masyarakat dan budaya secara keseluruhan.
Ada dua peristiwa penting dalam sejarah menuju Tiongkok modern, yaitu pertama Gerakan Budaya Baru (GBB), yang dimulai pada tahun 1917, dan dipelopori kaum intelektual, seperti Chen Duxiu, Li Dazhao, dll mengenai anti pemikiran tradisional. Budaya konservatif, produk filsafat Konfusianisme dianggap usang, dan tidak mampu mengatasi masalah-masalah Tiongkok.
Kaum cendikia mengupayakan masyarakat demokratis, egalitarian, internationalisme, dan pemikiran ilmiah yang tidak terjebak pada mitos-mitos tradisional. Dalam analisis Raditio, Klaus H. (Kompas, 2021) GBB berusaha meninggalkan feodalisme dan mengganti dengan segala yang modern. Kedua, aksi demonstrasi mahasiswa pada 4 Mei 1919, yang juga di sebut the May Fourth Movement (MFM). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk sentimen kebangsaan atau politis terhadap imperialisme asing.
ADVERTISEMENT
Aksi GBB, dan MFM merupakan gerakan patriotik-nasionalistik yang dapat membangkitkan kesadaran politik masyarakat terhadap krisis nasional; dan memberikan tekanan kepada pemerintah secara lebih asertif. Menurut Chen, Joseph. (1970:63) gelombang revolusioner ini segera menyebar dengan cepat ke seluruh Tiongkok, mempelopori pertumbuhan pesat kesadaran massa dan perubahan budaya, yang memuncak pada pendirian Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada tahun 1921, dan reorganisasi Kuomintang pada tahun 1924.
GBB, dan MFM membawa kebangkitan penuh rakyat, sehingga memfasilitasi revolusi sosial yang sesungguhnya di Tiongkok. Paham Marxis-Leninisme oleh PKT diyakini sebagai jalan keluar menuju Tiongkok modern, menggantikan budaya tradisional yang dipengaruhi konfusianisme, dan dinilai gagal menjawab tantangan zaman. Konfusianisme dianggap tidak mampu mempertahankan marwah, dan kedaulatan Tiongkok menahan invasi/penjajahan bangsa asing.
ADVERTISEMENT
Keputusan pimpinan Tiongkok di masa silam, menggunakan paham Marxis-Leninnisme sebagai jalan keluar, bukan perkara mudah. Prosesnya berdarah-darah, berliku, dan melalui jalan terjal menuju Tiongkok modern yang sesungguhnya. Kendati filsafat konfusianisme ditolak pada masa itu, rupanya tidak bisa dihapus begitu saja dari ingatan masyarakat Tiongkok.
Dalam analisis Muas (2020) sikap pemerintah Republik Rakyat Tiongkok terhadap filsafat konfusius dalam periode 1980–2012 menunjukkan adanya kesamaan cara pandang, yaitu konfusianisme berguna untuk memperkuat legitimasi berbagai kebijakan pemerintah. Dengan cara yang khas, konfusianisme tetap dihayati sebagian orang, dengan corak yang berbeda hingga sekarang.
Sebagai catatan akhir, pasca runtuhnya Dinasti Qing, dan pemikiran dari gerakan modern 4 Mei 1919, secara historis mempercepat proses perubahan bangsa menuju Tiongkok Modern. Kendati prosesnya nampak dipercepat, tetapi sejatinya dinamika yang terjadi menuju Tiongkok Modern membutuhkan waktu yang panjang.
ADVERTISEMENT