Konten dari Pengguna

Pembacaan Filsafat terhadap Pandangan Kant tentang Ekologi

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
25 Februari 2025 12:11 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi manusia, bagian dari harmoni semesta, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi manusia, bagian dari harmoni semesta, sumber: Pexels.
ADVERTISEMENT
Pada 24 Februari 2025, kembali menghadiri kuliah bertema "Kant dan Ekologi: Mengiijaukan Kant Bersama Zachary Vereb." Kuliah ini cukup kompleks, mengacu pada beberapa karya seperti Gedanken von der Wahren Schätzung der Lebendigen Kräfte (1749) dan Allgemeine Naturgeschichte und Theorie des Himmels (1755) karya Kant, serta tulisan Zachary Vereb, The Case for the Green Kant: A Defense and Application of a Kantian Approach to Environmental Ethics (2019). Materi perkuliahan dibawakan oleh Rm Y. Fristian Yulianto, SJ.
ADVERTISEMENT
Gagasan Immanuel Kant dalam fase pra-kritis mengenai alam memperlihatkan sifat dinamis dan sistematis yang menjadi landasan bagi kajian filsafat dan ekologi kontemporer. Menurutnya, alam bukan sekadar entitas statis, melainkan sistem yang terus berkembang dari ketidakteraturan menuju harmoni.
Kant menekankan keterkaitan semua unsur di alam semesta dalam struktur kosmis tertata, berdasarkan prinsip dialektika seperti identifikasi dan negasi, tarik-menarik serta tolak-menolak, maupun kekuatan dan perlawanan. Pandangan ini mengindikasikan bahwa sejak awal, Kant telah memiliki perspektif ekologis tentang alam.
Ekologi dalam Perspektif Kant
Istilah "ekologi" berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos (rumah) dan logia (ilmu atau studi). Rumah dalam konteks ini mengacu pada lingkungan tempat kita tinggal, yakni alam. Sebuah rumah terdiri dari berbagai bagian yang memiliki fungsi spesifik dan saling terhubung, misalnya dapur untuk memasak dan ruang tamu berfungsi menerima tamu.
ADVERTISEMENT
Begitu pula dalam ekosistem bumi, setiap komponen memiliki fungsi mikro dan makro yang berkaitan dengan sistem yang lebih besar. Kant memahami alam dengan cara serupa, yakni sebagai suatu kompleksitas sistem kesalingtergantungan relasional.
Dalam pemikiran pra-kritis, Kant berpendapat bahwa manusia, meskipun memiliki rasionalitas yang dianggap lebih tinggi, tetap merupakan bagian dari alam, tidak terpisah darinya. Dengan demikian, posisi manusia dalam alam harus dipahami secara rendah hati, bukan sebagai penguasa mutlak, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan ekosistem yang lebih luas.
Ekologi dan Ekonomi, Keterkaitan yang Tidak Terpisahkan
Ekologi tidak dapat dilepaskan dari ekonomi (oikos dan nomos), yang berarti hukum atau aturan tentang rumah tangga. Dalam konteks ekologi, ekonomi berkaitan dengan cara manusia mengelola sumber daya alam guna memenuhi kebutuhan.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, eksploitasi sumber daya sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem. Dengan memahami kembali pemikiran Kant tentang hubungan manusia dengan alam, manusia kini dapat mengadopsi prinsip-prinsip yang lebih berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan.
Kant sendiri tidak secara eksplisit membahas isu lingkungan seperti yang dipahami saat ini, tetapi prinsip moralnya menegaskan bahwa manusia seharusnya bertindak sesuai dengan imperatif kategoris, yakni bertindak sedemikian rupa sehingga prinsip tindakan kita dapat dijadikan hukum universal.
Jika diterapkan dalam konteks ekologi, ini berarti manusia “wajib” mengelola alam dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan tidak merusak keseimbangan ekosistem bagi generasi mendatang.
Pandangan Kant dan Implikasinya terhadap Pengelolaan Ekologi
Mengadopsi pandangan Kant tentang alam memiliki dampak etis yang besar terhadap bagaimana manusia memperlakukan lingkungan. Jika kita melihat alam sebagai sistem harmonis dan terstruktur, maka manusia memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keseimbangan tersebut.
Ilustrasi kerusakan lingkungan hidup, sumber: Pexels.
Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan bukan sekadar ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan manusia, tetapi juga mencerminkan kegagalan manusia dalam memenuhi panggilan moral menghargai dan melestarikan alam.
ADVERTISEMENT
Pandangan awal Kant tentang alam dapat mendorong kita agar lebih sadar akan tempat tinggal di dunia. Keindahan dan keteraturan harmonis alam seharusnya menginspirasi manusia agar bertindak dengan rendah hati, bukan dengan keserakahan yang merusak. Dengan demikian, pengelolaan ekologis menjadi keharusan praktis, dan sekaligus panggilan moral yang dijalankan oleh setiap individu.
Pengelolaan Ekologis
Dalam konteks sejarah pemikiran manusia, tugas moral tidak terbatas pada diri sendiri atau sesama manusia, tetapi juga mencakup tanggung jawab terhadap alam.
Kant berpendapat bahwa tugas manusia dalam mencapai pencerahan tidak sekadar berfokus pada peningkatan diri secara individu, tetapi juga dalam membuat dunia secara lebih baik dan kolektif.
Dalam kaitannya dengan ekologi, hal ini berarti bahwa manusia seharusnya berusaha mencapai keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian lingkungan.
ADVERTISEMENT
Perubahan iklim yang semakin nyata saat ini mengingatkan manusia sekarang akan pentingnya panggilan moral, mengelola lingkungan secara berkelanjutan. Jika kita tidak segera bertindak, dampak negatifnya tidak hanya akan dirasakan oleh generasi sekarang, tetapi juga oleh generasi mendatang.
Tanpa pengelolaan ekologis yang bertanggung jawab, manusia akan terus berada dalam jalur menuju kesuraman hidup, di mana eksploitasi lingkungan justru akan membawa penderitaan bagi umat manusia sendiri.
Menghindari Dominasi terhadap Alam
Menghambat transisi menuju pengelolaan ekologi yang berkelanjutan berarti mengabaikan tugas kolektif dalam menyempurnakan spesies manusia, dan merupakan tindakan tidak bermoral terhadap sesama makhluk hidup.
Tanpa sikap baik hati dan penghargaan terhadap keindahan alam, manusia cenderung mengadopsi sikap dominatif terhadap lingkungan. Sikap ini, jika dibiarkan, dapat membawa manusia ke jurang kehancuran.
Ilustrasi panggilan moral, menjaga kelestarian alam, sumber: Pexels.
Panggilan moral manusia dalam menjaga lingkungan menuntut adanya pengelolaan berkelanjutan. Hal tersebut membutuhkan evaluasi ulang terhadap sistem nilai yang dianut, termasuk terhadap para pemangku kebijakan yang menentukan arah kebijakan lingkungan. Kesadaran terhadap keterkaitan antara manusia dan alam seharusnya tercermin dalam tindakan nyata yang bertanggung jawab, baik dalam skala individu maupun kolektif.
ADVERTISEMENT
Sebagai catatan akhir, pemikiran Immanuel Kant mengenai alam dapat memberikan perspektif baru dalam memahami dan mengelola lingkungan secara lebih bertanggung jawab. Dengan mengadopsi pandangan bahwa alam merupakan sistem harmonis dan manusia hanyalah salah satu bagian darinya, kita dapat membangun kesadaran ekologis secara lebih dalam.
Pengelolaan ekologis berkelanjutan bukan hanya masalah teknis atau ekonomi, tetapi juga merupakan panggilan moral. Tanpa upaya untuk menjaga keseimbangan alam, manusia akan terus berada dalam jalur menuju kesuraman hidup dan penderitaan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali menghijaukan Kant—menarik pemikirannya ke dalam diskusi ekologis modern dan menjadikannya landasan bagi upaya pelestarian lingkungan. Dengan begitu, kita dapat menjaga kelangsungan hidup generasi mendatang, dan menjalankan tanggung jawab moral sebagai makhluk berakal budi dalam ekosistem yang lebih luas.
ADVERTISEMENT