Pendidikan Kolese: Menjawab Tantangan Zaman

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konteks Pendidikan Kolese
Manajemen modern yang berdasarkan inspirasi Paradigma Pedagogi Ignatian/Reflektif (PPI/R) diyakini mampu menyerap sisi positif perubahan zaman dan sekaligus dapat memaknai proses pendidikan yang terjadi di dalam sekolah unggul yang dikelola oleh para Jesuit (selanjutnya disebut kolese). Jesuit dan rekan pendidik awam sangat memperhatikan konteks dan evaluasi keberadaan sekolah di tengah masyarakat.
Aneka pengalaman yang dialami kolese diwujudkan dalam aksi dan refleksi. Siklus pengalaman yang dibentuk melalui aksi-refleksi merupakan unsur kuat yang memungkinkan kolese dapat berkembang sesuai dengan konteks zaman dan tetap berakar pada Latihan Rohani St. Ignatius Loyola dan PPI/R yang tertuang dalam Ratio Studiorum.
Jesuit dan rekan pendidik awam terus menerus didorong untuk melakukan tindakan edukatif berdasarkan PPI/R. Cara bertindak yang memuat nilai-nilai Ignatian di kolese memungkinkan lembaga dapat menyesuaikan diri dalam kondisi yang berbeda-beda. Dengan demikian ketahanan kolese -- dalam menghadapi perubahan zaman – tetap dapat diandalkan sustainability/ keberlanjutannya.
Pedagogi Ignatian dalam Kurikulum Sekolah Jesuit di Era Revolusi Industri (RI) 4.0
PPI/R dapat dirasakan pengaruhnya dalam budaya kolese. Tradisi Ignatian yang dikembangkan dalam literasi Jesuit dan rekan pendidik awam mewarnai dinamika pembelajaran yang terjadi di lingkungan kolese. Di tempat itu pula para pendidik dan murid bertumbuh dan berkembang secara formatif. Mereka -- dalam keseharian merasakan -- turut membentuk dan dibentuk oleh pengalaman yang direfleksikan. Hasil refleksi yang mereka buat akan diwujudkan dalam muatan kurikulum yang berbasis nilai Ignatian. Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, Alur Tujuan Pembelajaran, dan Modul Ajar dalam kurikulum tertulis (written curriculum) kolese merupakan hasil olahan refleksi manajerial antara Pedagogi Ignatian dan konten bahan ajar yang kemudian menghasilkan pengetahuan dan pengertian yang bermakna.
Kurikulum -- yang berbasis pada Latihan Rohani St. Ignatius -- membutuhkan manajemen pendidikan yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan zaman. Manajemen modern dirancang oleh Jesuit dan rekan pendidik awam untuk menjawab tantangan RI 4.0. Dalam konteks sekarang, PPI/R perlu dioptimalkan fungsinya untuk memaknai aneka pembelajaran yang terjadi di ruang-ruang kelas daring maupun luring. Para Jesuit bersama rekan pendidik awam menggunakan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) untuk membantu mengembangkan sistem pembelajaran di sekolah. Penerapan TPACK yang terintegrasi secara baik akan menghasilkan produktivitas pembelajaran yang berkualitas prima secara bertahap.
Berdasarkan gagasan Mauri, Figueiredo, & Rashford (2015) dalam Sumber Foto, kurikulum yang diajarkan di ruang-ruang kelas akan menghasilkan tambahan kualitas pembelajaran yang meningkat, seturut capaian Bloom’s Taxonomy. Dengan demikian pembekalan content knowledge modern dan bermakna dapat menjadi bekal yang memadai bagi para murid untuk menjawab tantangan zaman.
Interaksi pengalaman, refleksi, dan tindakan dimulai dari skala yang kecil kemudian berproses tahap demi tahap sampai menghasilkan lingkaran pengaruh yang semakin besar seiring dengan penambahan waktu pembelajaran. Setiap tingkatan pada kolese mempunyai target pencapaian kualitas Ignatian yang berbeda-beda. Jika formasi pendidikan berlangsung semakin lama, maka profil lulusan yang dihasilkan semakin berkualitas.
Masing-masing murid di kolese mempunyai pertumbuhan formatif yang berbeda-beda. Perbedaan hasil merujuk pada keunikan kepribadian dan talenta yang dimiliki para murid. Para Jesuit dan rekan pendidik awam berkolaborasi membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dengan pertumbuhan kognitif, afektif, dan psiko-motorik para murid.
Melalui pendampingan Cura Personalis (CP), para murid secara personal berproses bersama pendidik mencapai tujuan bersama menjadi manusia bermartabat, berakhlak mulia, dan mau peduli terhadap sesama. Dalam CP keunikan para murid mendapat tempat istemewa untuk mencapai maksud dan tujuan kolese diadakan.
Pedagogi Ignatian dalam praksis dapat diterapkan dalam berbagai metode pembelajaran di luar sekolah karya propria Serikat Jesus. Sistem pendidikan kolese dapat diadaptasikan dalam berbagai bentuk lembaga pendidikan, sebagai contoh misalnya persekolahan dalam Perkumpulan Strada.
Adaptasi Pedagogi Ignatian ke dalam Perkumpulan Strada
Perkumpulan Strada merupakan lembaga pendidikan milik Keuskupan Agung Jakarta yang sejak awal pendirian dikelola oleh Serikat Jesus. Sejak tanggal 2 Desember 2007, Perkumpulan Strada menjadi anggota ASJI (Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia). Sebagai anggota ASJI, kurikulum pembelajaran yang dipraktikkan menggunakan model Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR).
Dalam PPR, metode PPI diserap secara lengkap dan diadaptasikan dengan kebutuhan Perkumpulan Strada. Dengan adanya PPR, Perkumpulan Strada dapat mengembangkan budaya kolese berdasarkan prinsip-prinsip pedagogi Ignatian secara lebih baik.
Para pendidik di Perkumpulan Strada mengikuti dan mengembangkan model pendidikan kolese dalam dinamika keseharian di sekolah. Mereka merancang kurikulum pembelajaran dengan cermat dan konten pengetahuan yang diberikan kepada para murid didasarkan pada nilai-nilai Ignatian yang selama ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah Jesuit.
Dalam praksis, sebenarnya tidak ada bedanya antara Perkumpulan Strada dengan kolese-kolese pada umumnya. Dengan sistem yang sama, Perkumpulan Strada sudah mempunyai tradisi yang panjang, hampir 100 tahun. Perkumpulan Strada secara defakto merupakan sekolah khas dengan model kolese yang sekaligus merupakan lembaga pendidikan milik Keuskupan Agung Jakarta.
Perkumpulan Strada bersama kolese-kolese yang lain berkomitmen bergerak bersama menghadapi peluang dan tantangan RI 4.0 di abad ke-21. Perkumpulan Strada berdasarkan tradisi kolese membuat sistem pendidikan lembaga yang kuat yang berakar pada spiritualitas Ignatian untuk menjawab kebutuhan zaman.
Konten pengetahuan yang diajarkan dimaknai secara mendalam melalui mekanisme evaluasi refleksi guna melakukan tindakan yang lebih baik dan berkualitas prima. Para murid di sekolah Jesuit, termasuk di Perkumpulan Strada dikader secara baik, agar mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang andal, yang dapat hidup dan beradaptasi ke dalam dunia modern yang diwarnai oleh Revolusi Industri 4.0.
Kesulitan dan Tantangan Sekolah Jesuit
Kesulitan sekolah Jesuit termasuk Perkumpulan Strada dalam menerapkan Pedagogi Ignatian/Reflektif terletak pada asumsi mengenai gambaran ideal mengenai suatu cara atau strategi agar konten pengetahuan dapat diajarkan secara mendalam.
Dalam sekolah Jesuit kadang diandaikan begitu saja bahwa para pendidik sudah mempunyai sikap atau attitude yang prima sehingga di banyak kolese yang terbilang baru mengalami kesulitan menerapkan Pedagogi Ignatian/Reflektif.
Para pendidik yang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dapat menjadi kekuatan, tetapi sekaligus kelemahan, tergantung kemampuan pimpinan sekolah mengorkestrasi tim kerja kolese.
Sekolah Jesuit, termasuk Perkumpulan Strada perlu melibatkan pendidik awam secara lebih sebagai kolaborator. Sebagai kolaborator (dalam educatemagis.org), anggota komunitas sekolah perlu memanfaatkan peluang dan program untuk memperdalam pemahaman dan penggunaan spiritualitas Ignatian dan pembentukan kemitraan. Dengan demikian kesulitan pengadaan personalia yang andal dapat lebih mudah diatasi.
Sekolah Jesuit yang bermutu membutuhkan waktu panjang dalam membangun tradisi pendidikan kolese. Panjangnya waktu membuat kurikulum khas sekolah Jesuit sulit untuk diduplikasi dalam jumlah yang besar di waktu yang singkat.
Seharusnya Indonesia yang luas dan berpenduduk lebih dari 270 juta jiwa mempunyai ribuan sekolah seperti kolese Jesuit -- yang mempunyai standar kualitas yang terukur, tetapi kenyataannya tidak banyak. Salah satu tokoh pendidikan nasional, Prof. Dr. Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2016-2019 (dalam, cnnindonesia.com, 2017) mengungkapkan keinginan mengadopsi pendidikan karakter sekolah Katolik. Salah satu model pendidikan Katolik yang unggul adalah sistem kolese Jesuit.
Tantangan sekolah Jesuit ke depan adalah bagaimana menularkan sistem pendidikan kader -- melalui kolaborasi bersama -- ala kolese ke lembaga-lembaga pendidikan lain supaya mereka mempunyai standar pendidikan yang kurang lebih berimbang. Dengan demikian, tujuan mulia mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai sesuai yang diharapkan para pendiri bangsa.
