Konten dari Pengguna
Terang Guru yang Tak Pernah Padam
9 Juli 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Terang Guru yang Tak Pernah Padam
Di sanalah Pak Darmo mengajar—seorang guru sepuh yang datang dari Jawa tiga belas tahun silam dan memilih menetap, meninggalkan kenyamanan kota demi memenuhi suara hati. Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di sebuah pelosok perantauan di luar Pulau Jawa, berdiri sebuah sekolah dasar yang tembok-temboknya mulai memudar dimakan cuaca dan waktu. Atapnya sebagian bocor, dindingnya dihiasi coretan kapur yang tak pernah benar-benar hilang, namun dari tempat sederhana itulah pancaran ilmu dan kasih sayang memancar, menyentuh hati banyak anak.
ADVERTISEMENT
Di sanalah Pak Darmo mengajar—seorang guru sepuh yang datang dari Jawa tiga belas tahun silam dan memilih menetap, meninggalkan kenyamanan kota demi memenuhi suara hati.
Beliau tidak datang karena ditugaskan, melainkan karena terdorong oleh panggilan batin, yakni mendidik anak-anak yang nyaris luput dari perhatian dunia. Baginya, pendidikan bukan sekadar pekerjaan, tetapi ibadah panjang yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan.
Pak Darmo tidak pernah memiliki harta melimpah. Ia hidup sederhana di sebuah rumah kayu kecil di tepi sungai, sendirian, dengan buku-buku sebagai sahabat sejatinya. Setiap pagi, ia berjalan kaki sejauh empat kilometer menuju sekolah, menapaki jalan tanah yang licin saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Usianya telah lanjut, dan tubuhnya mulai rapuh. Asma akut yang ia derita membuatnya sering terbatuk, dadanya sesak, dan suaranya kadang tersendat saat menjelaskan pelajaran. Namun tidak sekali pun ia mengeluh. Dengan napas yang tertatih-tatih, ia tetap berdiri di depan kelas, memegang kapur dengan tangan gemetar, dan tetap menatap anak-anak dengan mata yang penuh harapan.
ADVERTISEMENT
Bu Ida, kepala sekolah yang juga rekan seperjuangannya, sering khawatir melihat kondisi fisik Pak Darmo yang makin lemah. “Pak Darmo, beristirahatlah. Kami bisa ambil alih kelas,” katanya dengan nada cemas suatu pagi.
Tapi Pak Darmo hanya tersenyum kecil, menatap langit yang mulai memerah, lalu berkata dengan suara lirih namun mantap, “Selama kaki ini masih bisa melangkah dan mulut ini masih bisa menyebutkan kata ‘belajar’, saya akan tetap datang.” Kalimat itu menjadi mantra yang terus terngiang di telinga para guru muda.
Salah satu dari mereka adalah Bu Julia, guru baru yang awalnya menganggap Pak Darmo terlalu kaku dan idealis. Namun hari demi hari, Julia mulai melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia melihat bagaimana Pak Darmo bukan hanya mengajarkan angka dan huruf, tetapi menanamkan nilai, kejujuran, dan harapan.
ADVERTISEMENT
“Pak Darmo bukan cuma mengajar pelajaran, Bu,” kata Bu Julia suatu sore kepada Bu Ida sambil menatap halaman sekolah yang sepi. “Dia mengajarkan cara hidup. Dan itu tidak semua guru bisa lakukan.”
Para murid pun memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Pak Darmo. Riko, anak laki-laki yang terkenal nakal dan sulit diatur, berubah menjadi lebih rajin sejak tulisannya dipuji oleh Pak Darmo.
Jarot, yang menderita gagap, mulai berani berbicara di depan kelas karena Pak Darmo selalu sabar menunggunya menyelesaikan kalimat. Maria, Siti, dan Rosdiah, tiga siswi dari keluarga kurang mampu, sering menerima roti atau buah dari Pak Darmo yang diam-diam disisihkan dari bekal hariannya. Ia tak pernah meminta balasan, cukup dengan melihat anak-anak itu tersenyum dan bersemangat datang ke sekolah.
ADVERTISEMENT
Suatu pagi yang mendung, Pak Darmo tidak datang ke sekolah. Murid-murid menunggu di halaman, gelisah. Waktu terus berjalan, tapi pintu kelas tetap tertutup. Bu Julia dan Bu Ida memutuskan menyusul ke rumahnya.
Mereka menemukan Pak Darmo terbaring lemah, tubuhnya gemetar, matanya sayu namun masih memandangi tumpukan buku di meja kayu. Napasnya satu-satu, tersengal, namun tetap mencoba bicara, “Maaf… saya tidak bisa ke sekolah hari ini… Tolong… ajarkan anak-anak seperti saya mengajarkan kalian… Jangan tinggalkan mereka.” Kata-kata itu menjadi pesan terakhirnya.
Sore harinya, Pak Darmo menghembuskan napas terakhirnya. Ia pergi dengan tenang, seperti lilin yang telah menunaikan tugasnya menerangi. Kabar kematiannya menyebar cepat, dan desa pun diselimuti duka.
Tak ada yang menyangka kepergian itu datang begitu cepat. Murid-murid kehilangan bukan hanya guru, tetapi juga ayah, sahabat, dan panutan. Bahkan Riko yang jarang menunjukkan emosi, duduk di sudut kelas dan menangis diam-diam.
ADVERTISEMENT
Jarot tak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang hari. Maria dan Siti membuat karangan bunga dari kertas lipat yang biasa mereka gunakan untuk prakarya. Rosdiah menulis sebuah puisi sederhana yang ia tempel di papan kelas: “Guru kami, pelita di jalan kami, tak akan padam di hati kami.”
Hari pemakaman itu menjadi hari paling sunyi di desa itu. Para murid datang mengenakan seragam rapi, sebagian membawa bunga liar yang mereka petik di pinggir jalan. Di depan iring-iringan, seorang siswa mengangkat papan tulis kecil yang bertuliskan: Terima kasih, Pak Darmo.
Tak ada musik, tak ada upacara megah, hanya isak tangis pelan dan doa-doa yang dibisikkan dengan tulus. Bu Ida memimpin doa singkat, dan Bu Julia membacakan surat pendek yang ditulis oleh anak-anak kelas enam: “Kami janji akan terus belajar, Pak. Akan kami teruskan impian Bapak.”
ADVERTISEMENT
Sepeninggalnya, tidak ada gedung baru yang dibangun atas namanya, tidak pula patung atau prasasti. Tapi jejak keteladanan Pak Darmo tertanam dalam-dalam di hati semua orang yang pernah mengenalnya.
Di ruang guru, Bu Ida menggantung selembar kertas bertuliskan kutipan dari Pak Darmo: "Mengajar bukan sekadar profesi, tapi cara mencintai masa depan." Kalimat itu menjadi semboyan hidup baru bagi para guru, terutama bagi Bu Julia yang kini mengajar dengan semangat yang berbeda—semangat yang diwariskan dari seorang guru sejati.
Setiap pagi saat lonceng sekolah berbunyi, seakan ada yang hilang, tapi sekaligus ada yang hadir. Suara Pak Darmo yang lembut dan tegas seolah masih terdengar di antara gemerisik daun dan celoteh anak-anak: “Ayo belajar, dunia ini menunggu kalian tumbuh.”
ADVERTISEMENT
Dan dalam setiap langkah kecil yang diambil oleh murid-muridnya, hidup kembali semangat sang pelita, yang meski telah padam secara fisik, cahayanya tak akan pernah benar-benar hilang. Ia tetap menyala di hati, di ingatan, dan di masa depan yang dibentuk oleh tangan-tangan kecil yang dulu ia bimbing.
Begitulah akhir kisah Pak Darmo, guru tua yang memilih jalan sunyi namun mulia. Ia mungkin telah tiada, namun pelita yang dinyalakannya tak akan pernah padam. Ia adalah wajah keteladanan yang sesungguhnya, yang mengajarkan kita bahwa kematian seorang pendidik bukanlah kehilangan, melainkan kelahiran kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan banyak orang.

