Terobosan Pendidikan: Menyulam Budaya Literasi Lewat Bedah Buku

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, dan Mahasiswa Doktoral Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta.
Konten dari Pengguna
3 April 2024 10:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pameran buku, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pameran buku, sumber: Pexels.
ADVERTISEMENT
Terobosan pendidikan, menyulam budaya literasi lewat "bedah buku" mengingatkan kami pada kebiasaan membaca sejak dini tiga puluh lima tahun silam. Ketika masih duduk di bangku SMP dan SMA, saya bersama beberapa teman seringkali menghadiri pameran buku yang diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) di Istora Senayan.
ADVERTISEMENT
Setiap kunjungan ke sana, menghadirkan kekaguman tersendiri bagi kami, terpesona oleh beragam ide yang tercipta dan terabadikan dalam buku-buku yang dipamerkan.
Pameran IKAPI menjadi tempat pemicu semangat dan antusiasme kami terhadap literatur. Terlebih lagi, kami kerap membawa sejumlah uang yang sudah dikumpulkan dari menyisihkan uang jajan atau tabungan. Dengan uang tersebut, kami bisa merasakan kebahagiaan tersendiri karena mampu membeli buku-buku favorit guna memperluas wawasan serta pengetahuan.
Kehadiran di pameran buku tidak hanya sekadar kegiatan belanja semata, tetapi juga menjadi momen penting yang membantu kami mengembangkan minat dan bakat dalam dunia literasi. Setiap buku yang kami beli menjadi bagian dari petualangan intelektual, dan sekaligus membuka pintu menuju dunia yang lebih luas dan mendalam.
Ilustrasi minat membaca yang kuat, sumber: Pexels.
Melalui pameran tersebut, kami tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga menjalin hubungan yang erat dengan buku-buku yang dimiliki. Pengalaman ini tidak hanya memberi kepuasan pribadi, tetapi juga membentuk kepribadian dan memperkaya jiwa serta pikiran kami dengan beragam cerita dan ilmu pengetahuan yang terdapat dalam setiap halaman buku yang dimiliki.
ADVERTISEMENT
Saya sendiri secara pribadi acap kali menghadiri acara bedah buku dalam berbagai kesempatan, dan setiap kali itu saya merasa sangat beruntung. Acara semacam itu memberikan banyak hal yang berharga. Ketertarikan saya terhadap buku semakin menguat setiap kali mengikuti bedah buku.
Saya merasa sangat bersyukur ketika berhasil mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Rasa syukur itu mendorong saya untuk dengan antusias meresapi setiap halaman buku yang telah ditandatangani, dengan tujuan untuk memahami gagasan-gagasan penulis serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui acara bedah buku, saya merasa terhubung secara lebih dalam dengan karya dan pemikiran penulis yang telah menginspirasi saya.
Adopsi kegiatan bedah buku di lembaga pendidikan dapat menciptakan lingkungan mendukung dalam pengembangan kecerdasan emosional dan sosial murid. Diskusi yang dihasilkan dari bedah buku dapat menjadi ajang berbagi pendapat, menghargai sudut pandang berbeda, serta membangun kemampuan komunikasi interpersonal.
Ilustrasi membaca di perpustakaan sekolah, sumber: Pexels.
Hal ini tidak hanya memperkuat keterampilan akademik, tetapi juga membentuk kepribadian tangguh dan toleran terhadap perbedaan. Dengan demikian, bedah buku bukan hanya tentang menggali pengetahuan, tetapi juga tentang membangun kualitas manusiawi yang kuat dalam diri peserta didik.
ADVERTISEMENT
Di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang, perhatian terhadap kegiatan literasi seperti bedah buku menjadi semakin penting bagi para pendidik. Meskipun tersedia berbagai sumber informasi online yang melimpah, praktik membaca buku cetak dan berdiskusi langsung tentangnya tetap memiliki nilai-nilai yang tak tergantikan.
Aktivitas ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi dunia pengetahuan dalam format yang lebih tradisional, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan analitis, pemahaman, dan kritis yang mendalam.
Melalui proses bedah buku, siswa belajar untuk membaca secara aktif, merenungkan, dan berbagi pemikiran mereka dengan sesama, menciptakan lingkungan belajar interaktif dan berdaya ungkit. Dengan demikian, dalam menghadapi era digital, upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kegiatan bedah buku di sekolah-sekolah menjadi semakin penting sebagai fondasi kokoh dalam membentuk budaya literasi berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
Selain itu, buku-buku cetak masih memainkan peran penting dalam membentuk fondasi literasi yang kokoh dan menyediakan akses ke beragam perspektif dan pengetahuan yang tidak selalu tersedia secara daring. Dengan memperkuat keterampilan literasi di era digital ini, sekolah dapat membantu mempersiapkan generasi masa depan untuk menjadi pembaca yang kritis, kreatif, dan terampil dalam menavigasi kompleksitas informasi modern.
Sebagai catatan akhir, buku di sekolah-sekolah melalui terobosan pendidikan "bedah buku" diharapkan memiliki dampak signifikan dalam memperkaya budaya literasi di masyarakat.
Dengan mengenalkan kegiatan tersebut secara terstruktur dan terjadwal, sekolah memiliki peran krusial sebagai penggerak utama dalam mempromosikan minat membaca sejak dini.
Pendekatan menarik dan disesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik dapat digunakan untuk menanamkan kecintaan pada literasi melalui buku-buku sejak usia dini.
ADVERTISEMENT
Semoga, kegiatan menyulam budaya literasi lewat bedah buku akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan, memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan keterampilan literasi mereka dan menjelajahi dunia pengetahuan luas melalui buku.