Umur di Ujung Tanduk: Etika, Kefanaan, dan Jati Diri Manusia

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sudut kelas yang riuh oleh percakapan ringan dan canda remaja, Joni hadir sebagai sosok yang berbeda. Ia tidak banyak bicara, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan mengandung bobot pemikiran yang dalam. Berulang kali ia mengingatkan teman-temannya: hidup ini hanya sementara. Pernyataan itu, yang mungkin terdengar sederhana, justru mengandung kegelisahan filosofis yang tidak lazim bagi seorang pelajar. Joni tidak sekadar mengucapkannya sebagai slogan kosong, melainkan sebagai kesadaran eksistensial yang ia pahami melalui pemikiran Immanuel Kant.
Dalam pandangan Kant, manusia bukan sekadar makhluk yang hidup untuk mengejar kesenangan atau menghindari penderitaan. Ia adalah makhluk rasional yang memiliki martabat karena kemampuannya untuk bertindak berdasarkan hukum moral. Etika, dalam kerangka Kantian, tidak ditentukan oleh akibat atau manfaat, melainkan oleh niat dan prinsip yang melandasi tindakan. Apa yang baik bukanlah apa yang menguntungkan, melainkan apa yang dilakukan karena kewajiban moral itu sendiri. Joni tampaknya menangkap esensi ini: hidup bermakna adalah hidup yang dijalani dalam kebaikan tulus, bukan kebaikan bersyarat.
Ketika Joni mengatakan bahwa umur manusia ibarat berada di ujung tanduk, ia sedang mengafirmasi kenyataan kefanaan yang sering diabaikan oleh banyak orang. Hidup bukanlah sesuatu yang pasti dan stabil; ia rapuh, terbatas, dan sewaktu-waktu dapat berakhir. Kesadaran akan keterbatasan ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk membangkitkan tanggung jawab moral. Justru karena hidup ini singkat, setiap tindakan menjadi signifikan. Setiap pilihan mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.
Dalam konteks ini, kehilangan jati diri bukanlah sekadar persoalan identitas sosial, melainkan kegagalan dalam menjalankan otonomi moral. Ketika manusia bertindak hanya karena dorongan eksternal—entah itu tekanan sosial, keinginan akan pujian, atau ketakutan akan hukuman—ia telah melepaskan kebebasan sejatinya sebagai makhluk rasional. Kant menyebut kebebasan ini sebagai otonomi, yakni kemampuan untuk memberi hukum bagi diri sendiri berdasarkan rasio. Tanpa otonomi, manusia tereduksi menjadi alat dari kepentingan lain, bukan tujuan pada dirinya sendiri.
Joni, dengan cara sederhana namun tajam, mengajak teman-temannya untuk kembali pada inti kemanusiaan: berbuat baik karena itu baik. Pernyataan ini sejalan dengan prinsip imperatif kategoris Kant, yang menuntut agar setiap tindakan dapat dijadikan hukum universal. Artinya, kita tidak boleh bertindak hanya berdasarkan kepentingan pribadi, tetapi harus mempertimbangkan apakah tindakan tersebut layak dilakukan oleh semua orang dalam situasi yang sama. Kebaikan, dengan demikian, bukanlah alat, melainkan tujuan.
Namun, refleksi Joni juga mengandung kritik implisit terhadap cara hidup modern yang sering kali terjebak dalam utilitarianisme sempit—mengukur segala sesuatu berdasarkan keuntungan dan kerugian. Dalam dunia yang serba kompetitif, nilai moral kerap dikompromikan demi efisiensi dan hasil. Di sinilah relevansi pemikiran Kant menjadi semakin kuat: ia mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sebagai sarana, melainkan sebagai tujuan. Etika bukan sekadar pilihan, melainkan fondasi dari martabat manusia.
Kesadaran bahwa umur berada di ujung tanduk seharusnya tidak melumpuhkan, tetapi justru membebaskan. Ia membebaskan manusia dari ilusi keabadian dan mendorongnya untuk hidup secara otentik. Dalam keterbatasan waktu, manusia dipanggil untuk menentukan arah hidupnya dengan penuh tanggung jawab. Setiap detik menjadi kesempatan untuk menegaskan nilai-nilai yang diyakini.
Pada akhirnya, Joni bukan sekadar murid pendiam. Ia adalah cermin dari kegelisahan filosofis yang jarang diungkapkan secara terbuka. Melalui refleksinya, ia mengingatkan bahwa hidup yang singkat ini tidak boleh diisi dengan hal-hal dangkal. Jika benar umur berada di ujung tanduk, maka satu-satunya cara untuk tidak jatuh ke dalam kehampaan adalah dengan berpegang teguh pada kebaikan sejati. Bukan karena menguntungkan, bukan karena dipuji, tetapi karena itulah yang menjadikan manusia tetap manusia.
