Konten dari Pengguna

Orang Tua Toxic? Siapa Takut, Begini Cara Menanganinya

Belinda Agustina

Belinda Agustina

Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Belinda Agustina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang tua perlu belajar dan menerapkan pelajaran pendidikan psikologis anak secara dini agar dapat mengasuh anak dengan baik dari segi fisik maupun mental.

photo by istock https://www.istockphoto.com/id/vektor/kesedihan-anak-gm1351332389-427128586?phrase=mean%20parents
zoom-in-whitePerbesar
photo by istock https://www.istockphoto.com/id/vektor/kesedihan-anak-gm1351332389-427128586?phrase=mean%20parents

Orang tua mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata toxic parent, tetapi apa sih arti dari toxic parent yang sebenarnya? Menurut (Putu Adi Saskara & Bagus Sugriwa Denpasar, 2020) toxic parent atau orang tua toxic berarti orang tua yang tidak memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu. Sebagai orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak, terutama bagi yang baru akan menjadi orang tua tentu akan mengupayakan terbaik bagi tumbuh kembang si kecil baik dari segi fisik maupun mental. Pola asuh buruk dapat merusak mental si buah hati secara perlahan.

Perhatian dan didikan orang tua yang baik sangat penting dan berpengaruh pada tumbuh kembang mental anak. Menurut, Islah (2022) banyak orang tua yang mengasuh, membimbing, dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Tidak sedikit juga orang tua yang terlalu mengatur anak, membentak anak, mengkritik segala perbuatan anak, bahkan sampai melakukan kekerasan verbal pada anak.

Karakteristik Orang Tua Toxic

Pola asuh orang tua toxic sangat buruk bagi kesehatan mental anak lho, tapi bukan berarti bunda harus memanjakan anak. Dikutip dari Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi dan Kesehatan orang tua yang di kategorikan sebagai toxic, memiliki karakteristik seperti memperlakukan anak seperti orang yang bodoh, terlalu melindungi sehingga anak merasa terkekang karena orang tuanya terlalu mengekang, terlalu membebani anaknya dengan rasa bersalah atau dengan kesalahan yang mereka perbuat di masa lalu diungkit terus-menerus oleh orang tuanya, mengatakan kata-kata yang membuat anak tidak merasa dihargai juga dicintai oleh orang tua.

Supaya lebih jelas yuk kita kupas, apa saja sih ciri-ciri dari orang tua toxic? Dilansir dari (Mubina, 2020) dalam webinar "Menghadapi Toxic Parents" ciri-ciri toxic parent yang paling umum dilakukan, yaitu:

1. Menentukan dan melakukan hal-hal yang dinilai benar dan baik melalui perspektif orang tua yang bersifat subjektif.

Dari sudut pandang ahli, orang tua tidak disarankan untuk melarang anak mengutarakan pendapat dan pemikirannya karena menilai kalau pemikiran anak selalu salah dan pemikiran orang tua sudah pasti benar lho bunda.

2. Pemikiran dan perilaku kaku serta sempit.

Penolakan pemikiran dalam menilai dunia secara lebih modern dan selalu berpatokan pada pandangan pada dirinya yang dirasa selalu benar. Nah, bunda pernah melakukan ini nggak?

3. Memiliki sifat yang egosentris (egois) yang tinggi sehingga hanya berfokus pada diri mereka sendiri.

Orang-orang tua yang merasa hanya dirinya sendiri yang paling lelah dan anak harus selalu menurut pada orang tua.

4. Tidak memperhatikan anak dari sudut pandang kebutuhan anak itu sendiri.

Biasanya terjadi pada orang tua yang merasa hanya sudut pandangnya sendiri saja yang baik dan benar. Pemikiran anak dinilai tidak bermutu dan selalu salah.

5. Seringkali berpikir bahwa membesarkan anak adalah investasi orangtua.

Sehingga menganggap anak harus ada untuk orang tua. Pola asuh yang terkesan mengekang pada anak karena seringkali anak tidak di perbolehkan untuk melakukan hal yang dirasa akan meninggalkan orang tua.

6. Menganggap apa yang di lakukan anak sudah seharusnya di lakukan, sehingga tidak memberikan apresiasi.

Sebagai contoh mudah, saat anak mulai menunjukkan hasil karya mereka orang tua malah mengabaikannya dan tidak mengapresiasi hasil karya si anak.

7. Terang-terangan bersikap pilih kasih terhadap salah satu anak dan mengabaikan yang lain.

Sikap seperti ini sudah pasti dapat menimbulkan luka bagi hati si anak. Seperti contoh saat orang tua hanya memperhatikan adik dan selalu menyalahkan kakak, dari sudut pandang kakak sudah jelas perlakuan tersebut membuat hatinya terluka. Lama-kelamaan tidak menutup kemungkinan dapat tumbuh rasa iri hati dan dendam terhadap saudara sendiri.

Apakah bunda berpikir bahwa ciri-ciri diatas tidak pernah dilakukan atau hanya sesekali dilakukan? Kenyataannya banyak juga lho orang tua yang menerapkan pola asuh yang salah secara tidak sadar. Kalau sudah sadar pun kebanyakan orang tua tidak mau atau tidak terima dengan cap toxic parent, dan melimpahkan kesalahannya pada anak. Keadaan seperti ini secara perlahan mental anak akan terganggu yang lama kelamaan dapat mengakibatkan mental anak yang rusak karena sudah terlalu sering di remehkan, di bandingkan, sampai di jadikan kambing hitam oleh orang tuanya sendiri.

Upaya Sederhana Menghadapi Toxic Parent

Berikut ini beberapa contoh upaya yang dapat dilakukan oleh anak dalam menghadapi toxic parent :

• Memahami mengapa orang tua menjadi toxic.

• Membangun nilai-nilai baru yang lebih positif tentang orang tua.

• Bersikap sopan dan hormat dalam bersikap tegas.

• Berkenalan dengan cara meredakan stres yang efektif.

• Hargai dan cintai diri sendiri. Luangkan waktu khusus untuk kebahagiaan diri sendiri.

• Mengontrol reaksi emosi yang muncul.

• Meningkatkan kompetensi diri.

Contoh Sikap Baik untuk Orang Tua

Poin utama dalam merubah pola asuh ialah orang tua harus mau instropeksi diri serta mengakui kesalahan pola didikannya dalam mengasuh si anak. Orang tua juga harus menyertai dengan tindakan-tindakan yang menunjang perbaikan pola asuh pada anak, tidak harus langsung dengan hal-hal yang besar. Tindakan-tindakan kecil dapat dimulai dengan cara berikut :

1. Menyempatkan mendengar cerita anak setiap hari.

2. Mengapresiasi setiap tindakan kecil yang dilakukan anak.

3. Berusaha bersikap adil terhadap sesama anak. Hindari tindakan yang mengakibatkan pandangan pilih kasih di mata anak.

4. Mencoba membuka pola pikir dan coba pahami kebutuhan anak dari perspektif mereka.

5. Hindari pemikiran bahwa orang tua selalu benar dan anak selalu salah. Pemikiran seperti ini dapat memicu rasa superior atau dominan dalam diri orang tua.

Pada intinya, komunikasi menjadi kunci penting dalam keharmonisan suatu keluarga juga apresiasi kecil yang di lakukan orang tua bagaikan hadiah terbaik yang diterima oleh anak. Kebanyakan anak lebih menyukai di apresiasi dan di hargai oleh orang tuanya di bandingkan dengan orang tua yang hanya memberikan barang tanpa ada ucapan yang tulus.

Jadi bunda mulai sekarang harus bisa instropeksi diri dalam menerapkan pola asuh anak. Ayo berhati-hati dalam bertindak dan berbicara agar si anak dapat tumbuh dengan sehat dari segi fisik juga mental.

Daftar Pustaka

Islah, M. (2022, November 25). Toxic parents: anak menjadi pemalas dan mudah emosi. Geotimes. https://geotimes.id/opini/toxic-parents-anak-jadi-pemalas-dan-mudah-emosi/

Mubina, N. (2020, June 29). Menghadapi toxic parents. Deepapsikologi. https://deepapsikologi.com/website-seminar-parenting-menghadapi-orangtua-toxic

Putu Adi Saskara, I., & Bagus Sugriwa Denpasar, G. (2020). Peran komunikasi keluarga dalam mengatasi “toxic parents” bagi kesehatan mental anak. Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2). https://www.ejournal.ihdn.ac.id/index.php/PW/issue/archive