Konten dari Pengguna

Film Animasi Merah Putih: Niat Baik yang Berakhir Buruk

Arvenda Prihanarko

Arvenda Prihanarko

Guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung, Alumnus Magister Manajemen Pendidikan Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arvenda Prihanarko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Instagram.com/merahputihoneforall
zoom-in-whitePerbesar
Instagram.com/merahputihoneforall

Menjelang peringatan ke-80 Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Film Merah Putih: One For All hadir sebagai film animasi yang bertujuan menumbuhkan semangat kebangsaan melalui kisah delapan anak dari berbagai suku berkolaborasi menyelamatkan bendera pusaka sebelum upacara.

Seharusnya kita, terutama dunia pendidikan, bisa menyambutnya dengan baik. Film ini dapat menjadi media nonformal dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), yang dapat menggambarkan nilai persatuan, tanggung jawab dan bela negara. Tapi mengapa banyak netizen yang menolaknya?

Diterjang Kritik

Meski ide dan pesan film patut diapresiasi, tanggapan publik terhadap kualitas teknisnya cukup tajam. Trailer film dianggap menampilkan animasi yang kaku, minim ekspresi, dan detail grafis yang terkesan seperti cutscene game PS2.

Bahkan, terdapat spekulasi penggunaan aset 3D siap pakai (dari platform seperti Daz3D dan Reallusion) yang dibeli hanya beberapa puluh dolar, ini jelas mengecewakan karena tidak ada nuansa lokal dan tidak orisinil.

Cerita yang disampaikan pun dianggap klise, linear, dan lebih menyerupai iklan layanan masyarakat daripada kisah yang seharusnya menggugah emosi.

Mungkin kekurangan tersebut bisa terjadi karena waktu produksi yang hanya sekitar satu bulan saja. Namun hal ini menjadi berbahaya karena kualitas visual dan narasi yang belum matang dapat sangat melemahkan pesan nasionalisme bahkan bisa jadi blunder.

Sutradara Hanung Bramantyo berkomentar bahwa dengan anggaran sekitar Rp 6,7 miliar, film ini "terlihat belum rampung dan masih berada di tahap previsualisasi." Ia menekankan bahwa nominal tersebut sudah cukup untuk animasi streaming, bukan layar lebar.

Anggota DPR, Lalu Hadrian Irfani, menyambut apresiasi terhadap niat film ini sebagai karya anak bangsa, namun menganggap kritik kualitas visual dan penggunaan anggaran sebagai masukan penting untuk evaluasi industri animasi nasional ke depan.

Film Patriotik Klasik Indonesia Jauh Lebih Baik

Jika kita kilas balik, ada beberapa film patriotik Indonesia yang secara kualitas sangat baik. Sebut saja "Darah dan Doa" (1950) dan "Enam Djam di Jogja" (1951) oleh Usmar Ismail, yang sukses membangkitkan semangat perjuangan kemerdekaan dengan kedalaman karakter dan sejarah yang autentik.

Ada pula "November 1828" (1979) karya Teguh Karya, yang sukses menyampaikan identitas dan semangat kebangsaan lewat teknik sinematografi unik, hingga mendapat banyak penghargaan dan menjadi film kebanggaan era itu.

Lalu ada film "Janur Kuning" (1980), yang walaupun dikritik sebagai propaganda Orde Baru, namun tetap membekas sebagai karya yang membangkitkan patriotisme di benak masyarakat.

Di film animasi sendiri, ada "Battle of Surabaya" (2015) yang meraih berbagai penghargaan internasional dan mendapat perhatian luas, termasuk dari Walt Disney Asia-Pacific. Tentu kualitasnya nggak kaleng-kaleng.

Membuat film memang tidak bisa seperti menggoreng tahu bulat yang bisa dadakan, apalagi ini film tentang semangat patriotisme. Perlu penyusunan anggaran dan waktu produksi yang realistis, perlu kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan sineas mumpuni, animator berpengalaman, penulis naskah yang kuat dan masukan dari pakar sejarah atau pendidikan. Film animasi lokal "Jumbo" yang sebelumnya meledak di pasaran bisa menjadi barometer untuk para pembuat film animasi setelahnya.

Padahal, kita sangat membutuhkan film animasi anak yang mempunyai pesan kuat untuk mengembangkan karakter, menumbuhkan jiwa cinta tanah air, nasionalisme dan patriotisme. Namun jika dikerjakan dengan tidak matang, minim persiapan dan jadinya asal jadi, alih-alih membuat kesan baik malah menjadi kesan buruk.

Jadi tolong jangan dibandingkan dengan film animasi dari Jepang yang juga sedang tayang ya, Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba.

Tidak aple to aple tentu saja.