Konten dari Pengguna

Diplomasi ala Korea Selatan: Strategi rasa di panggung politik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Belinda Feyza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: fudowakira0/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto: fudowakira0/Pixabay

Gastrodiplomasi

Diplomasi menjadi proses yang krusial dalam menjalin hubungan internasional. Rupanya, perpaduan rasa dan tekstur dalam sebuah sajian makanan memiliki makna yang kompleks dalam hubungan antar negara. Makanan memiliki pesona yang menarik untuk dijadikan sebagai alat diplomasi sebuah negara. Istilah gastrodiplomasi diperkenalkan oleh Paul Rockower (2012) sebagai diplomasi publik melalui upaya penyebaran makanan khas secara global yang bertujuan untuk membentuk sebuah reputasi atau identitas tertentu melalui komponen kuliner. Istilah tersebut memiliki perbedaan dengan diplomasi kuliner yang hanya bertujuan untuk menyebarkan budaya makanan pada pemegang kekuasaan dan para elit saja karena gastrodiplomasi berfokus untuk memberikan pengaruh makanan khas secara luas terhadap masyarakat global (Rockower, 2012).

Saat ini, praktik diplomasi yang modern tidak lagi terbatas pada interaksi antar kepala negara, tetapi juga dapat dilakukan melalui gastronomi yang memiliki nilai sosial budaya (Zhang, 2015). Diplomasi melalui gastronomi dapat dikategorikan sebagai soft diplomacy karena tidak memberikan pengaruh pada negara lain secara gamblang. Meskipun makanan bukan merupakan komponen yang krusial dalam hubungan antar negara, efek yang muncul apabila proses globalisasi makanan berhasil akan mendorong perekonomian hingga pariwisata.

Relevansi Budaya dan Makanan Korea

Korea Selatan merupakan salah satu negara yang terkenal akan makanan khasnya seperti kimchi, ramyeon, gimbap, sundubu-jjigae, hingga bibimbap. Makanan tersebut memiliki cita rasanya yang khas dengan perpaduan rasa pedas, aroma bawang-bawangan, dan saus yang menciptakan ketertarikan dari masyarakat. Bahkan salah satu komponen sausnya, yaitu gochujang, memiliki popularitas tersendiri karena rasanya yang unik. Seiring dengan diplomasi budaya melalui K-Pop yang menyebar dengan pesat, Korea Selatan juga mulai melakukan upaya rebranding melalui gastrodiplomasi untuk menyebarkan kesadaran dan kebiasaan baru pada masyarakat global terhadap makanan Korea (Nirwandy & Awang, 2013). Makanan memiliki kaitan yang erat dengan kondisi sosial budaya sehingga dapat merepresentasikan cara dan gaya hidup masyarakat di Korea Selatan dengan baik. Dengan demikian, globalisasi makanan membentuk citra budaya yang khas sekaligus mempromosikan keunikan budaya lokal untuk menarik wisatawan yang datang. Jika masyarakat merasa dekat dengan makanan Korea, maka pengalaman untuk merasakan langsung makanan tersebut di tempat asalnya menjadi berkali-kali lipat lebih menarik.

Sejarah Globalisasi Makanan Korea

Upaya ekspansi penyebaran makanan Korea oleh pemerintah Korea Selatan dimulai dengan kampanye Korean Cuisine to the World pada bulan April 2009 oleh Lee Myung-bak yang menjabat sebagai kepala negara pada saat itu (Moskin, 2009). Salah satu kegiatan dari kampanye tersebut dilakukan dengan demonstrasi memasak oleh Kim Yoon-ok, istri dari Presiden Lee, sebagai representasi dari kegiatan memasak yang pada zaman dahulu identik dengan kegiatan para wanita, kemudian masakan tersebut diberikan pada seorang veteran perang Korea di New York City secara simbolis (Moskin, 2009). Dalam kampanye yang dilakukannya, Kim menyatakan bahwa makanan Korea menghasilkan reputasi yang mampu mempengaruhi perspektif dari negara lain sebagai poin penting dari proses globalisasi makanan Korea yang tengah diupayakan tersebut (Kang, 2010). Selain itu, Korea Selatan menyediakan 50 milyar won untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah memasak melalui program kelas memasak makanan Korea, sebagai media untuk mempelajari cara pembuatan makanan khasnya, serta beragam festival kuliner internasional untuk membantu mempromosikan sajian kulinernya (Moskin, 2009). Korea Selatan memiliki target untuk meningkatkan keberadaan restoran Korea hingga 40.000 outlet yang menyebar secara global pada 2017 (Rockower, 2012).

Peran Sejarah dan Masyarakat

Makanan Korea yang dijadikan sebagai identitas budaya Korea Selatan merupakan pengembangan dari sajian kuliner pada masa kepemimpinan dinasti Joseon sehingga hansik atau makanan tradisional Korea telah dianggap sebagai kekayaan budaya yang kemudian dijadikan sebagai salah satu komponen strategi pembangunan negara karena Presiden Lee menganggap bahwa makanan Korea dapat menjadi representasi ideal untuk menggambarkan karakteristik Korea Selatan sebagai negara yang independen, berbudaya, dan berintegrasi (Kim, 2017). Akan tetapi, menurut Khoo (2019), gastrodiplomasi merupakan upaya yang prosesnya harus dilakukan secara tatap muka antara masyarakat asli Korea dengan masyarakat global karena peran negara dalam proses globalisasi tidak cukup signifikan untuk mempengaruhi kebiasaan makanan masyarakat global sehari-hari. Hal yang sama terjadi di Korea, di mana pemilik restoran berperan penting dalam memberikan kemudahan bagi para turis asing dengan menyediakan menu terjemahan dan servis terbaik mereka untuk memberikan pengalaman kuliner yang baik bagi pengunjung meskipun terkadang pelaku usaha tersebut tidak mengetahui kampanye globalisasi kuliner yang tengah dilakukan oleh pemerintah (Kuznetsova, 2014). Walaupun demikian, upaya gastrodiplomasi berhasil membawa dampak yang besar pada perekonomian Korea Selatan, khususnya pada ekspor kimchi yang terus meningkat sejak tahun 2011 hingga pada tahun 2020 mencapai peningkatan hingga 37,6% dari tahun sebelumnya sebagai hasil dari program pengenalan kimchi pada komunitas internasional seperti Kimchi Bus (Nihayati, dkk., 2022). Selain itu, kimchi juga termasuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO (UNESCO, 2013). Hal tersebut merupakan pencapaian yang besar karena pengakuan oleh UNESCO dianggap sebagai tingkat keberhasilan yang tinggi dalam dunia internasional.

Masa Depan Gastrodiplomasi

Keberhasilan dari program-program yang telah dilakukan memang belum dapat dilihat efektivitasnya secara keseluruhan, tetapi efek globalisasi makanan Korea di tengah masyarakat global tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Gastrodiplomasi yang dilakukan Korea seharusnya dijadikan kiblat bagi negara lain dalam membentuk citra diplomasi dengan memanfaatkan kekayaan budaya sehingga efeknya dapat membantu untuk mempromosikan budayanya ke dunia internasional sehingga mendatangkan kesempatan bagi aspek lainnya untuk berkembang, terlebih pada aspek pariwisata dan ekonomi. Korea Selatan berkomitmen dalam memanfaatkan kekayaan warisan budayanya untuk membentuk citra diplomasi sehingga mampu mengikutsertakan peran dan keuntungannya kepada pengusaha makanan lokal yang menjadi motor penggerak produksi makanan khas.