Konten dari Pengguna

Peran Kepemimpinan dalam Menjaga Partisipasi dan Solidaritas Kelompok Muslimah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BELLA AGUSTINA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelaksanaan Program Kerja yang dihadiri oleh Kelompok Muslimah di Perumahan Argo Kencana (Sumber: Dokumentasi Internal Kelompok 30 FBD UB 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Pelaksanaan Program Kerja yang dihadiri oleh Kelompok Muslimah di Perumahan Argo Kencana (Sumber: Dokumentasi Internal Kelompok 30 FBD UB 2026)

Peran perempuan dalam dinamika kehidupan bermasyarakat dan keagamaan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Meskipun pemikiran patriarkal tradisional kerap membatasi peran perempuan pada ranah domestik, dalam realitas sosial di tingkat akar rumput (grassroots), perempuan justru tampil sebagai pilar utama yang menggerakkan berbagai aktivitas kemasyarakatan. Salah satu ruang artikulasi publik yang sangat vital bagi perempuan adalah kelompok atau organisasi keagamaan lokal, seperti majelis taklim dan kelompok pengajian warga. Di ruang privat-publik ini, perempuan tidak hanya menjalankan ritual keagamaan formal, tetapi juga merajut jaringan sosial, membangun solidaritas emosional, dan mendorong gerakan pemberdayaan ekonomi warga.

Konteks Sosial Masyarakat Heterogen Argo Kencana

Perumahan Argo Kencana yang terletak di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, menyajikan konteks sosial yang khas bagi keberadaan organisasi perempuan Muslim. Sebagai kawasan pemukiman suburban yang heterogen, struktur masyarakatnya terdiri atas latar belakang sosial, ekonomi, hingga afiliasi keagamaan yang bervariasi, khususnya perbedaan tradisi keagamaan dan ormas antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dalam kondisi sosial yang majemuk ini, menjaga keberlanjutan partisipasi warga serta memelihara solidaritas kelompok memerlukan figur kepemimpinan yang adaptif, komunikatif, dan akomodatif.

Transformasi Nomenklatur: Dari "Muslimat" Menjadi "Muslimah"

Sejak mengemban amanah sebagai Ketua Kelompok Muslimah pada Februari 2026, Ibu Dra. Elly Alfiah membawa pembaruan kepemimpinan yang berfokus pada inklusivitas dan penguatan kapasitas kolektif anggota. Salah satu langkah strategis yang sangat signifikan adalah meredefinisi wadah organisasi dari "Muslimat" menjadi "Muslimah". Perubahan nomenklatur ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan strategi kebudayaan dan simbolik untuk meruntuhkan sekat-sekat sektarian sehingga warga berlatar belakang NU maupun Muhammadiyah dapat bergabung secara setara dalam satu wadah kolektif. Selain itu, kepemimpinan beliau secara integratif memadukan visi penguatan spiritualitas (kecerdasan religius) dengan kepedulian nyata terhadap kesejahteraan ekonomi warga, khususnya para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menggugat Perspektif Kepemimpinan Maskulin (Male-Bias)

Kajian konvensional mengenai kepemimpinan secara umum didominasi oleh sudut pandang maskulin (male-bias) yang mengukur keberhasilan pimpinan dari otoritas komando formal, struktur hierarkis top-down, dan penguasaan kekuasaan koersif. Perspektif maskulin ini sering kali gagal menangkap esensi kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas yang justru bertumpu pada interaksi interpersonal, empati, musyawarah, dan kesetaraan.

Temuan Utama Riset Lapangan

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi lapangan di Mushola Al-Istiqomah, Perumahan Argo Kencana, Desa Donowarih, penelitian ini menemukan bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh ketua kelompok terbukti bersifat relasional, empatik, dan partisipatif. Pemimpin secara integratif memadukan visi penguatan spiritualitas dengan dukungan nyata terhadap pemberdayaan ekonomi UMKM warga guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan dialogis serta fleksibilitas dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi berhasil memelihara tingkat partisipasi aktif anggota secara konsisten hingga mencapai 95–100%. Ditinjau dari perspektif feminisme empiris, temuan lapangan ini mempertegas bahwa perempuan memiliki kapasitas kepemimpinan yang sangat signifikan di ruang publik-komunitas melalui pendekatan non-hirarkis dan inklusif.

Kesimpulan

Praktik kepemimpinan perempuan dalam Kelompok Muslimah Perumahan Argo Kencana membuktikan bahwa pendekatan relasional dan partisipatif berkontribusi secara nyata dalam memelihara partisipasi aktif dan solidaritas kelompok di tingkat lokal. Melalui peleburan sekat sektarian dan integrasi pemberdayaan ekonomi, perempuan mampu tampil sebagai penggerak utama keharmonisan masyarakat.