Konten dari Pengguna

Oyek, Kuliner Tradisional Singkong Khas Cilacap yang Mulai Langka

Bella Syifa Amanah

Bella Syifa Amanah

Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan Universitas Al Irsyad Cilacap

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bella Syifa Amanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oyek adalah salah satu kuliner tradisional khas Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang terbuat dari singkong fermentasi. Cilacap, selain terkenal dengan pantai-pantai indah dan peninggalan sejarah seperti Benteng Pendem, juga menyimpan kekayaan kuliner yang mulai jarang dijumpai. Oyek dulunya menjadi sumber karbohidrat utama dan penyelamat keluarga saat masa sulit, terutama ketika beras sulit diperoleh atau harga melambung tinggi.

Cerita tentang oyek sering terdengar dari orang tua atau kakek-nenek di desa, sebagai kisah sederhana tentang ketahanan, kreativitas, dan kebersamaan masyarakat setempat. Hidangan ini tidak hanya memberi rasa kenyang, tetapi juga menjadi simbol budaya dan tradisi yang patut dilestarikan.

Sumber:Dok.Pribadi

Oyek merupakan makanan pokok pengganti nasi yang dibuat dari singkong yang difermentasi selama beberapa hari hingga muncul aroma asam khas. Teksturnya mirip nasi kering dengan cita rasa gurih alami berpadu sedikit asam yang unik. Di masa ketika beras sulit didapat atau harganya melambung, masyarakat Cilacap dan sekitarnya menjadikan oyek sebagai sumber karbohidrat utama karena bahan bakunya murah, mudah diperoleh, dan tahan lama.

Proses oyek membutuhkan ketelatenan. Singkong segar dikupas, diparut halus, lalu difermentasi selama dua hingga tiga hari. Setelah itu, parutan dijemur hingga kering sempurna sebelum dikukus kembali untuk disajikan. Hasil akhirnya berupa butiran lembut dengan aroma khas yang menggugah selera, pantas disebut warisan rasa yang penuh makna.

Bagi generasi tua di Cilacap, oyek bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya. Biasanya disajikan dengan sambal terasi, atau ikan asin. Namun kini, keberadaannya mulai memudar. Anak muda jarang mengenal atau mencoba oyek, tergantikan oleh nasi instan dan makanan cepat saji. Padahal, di desa-desa seperti Kroya, Kedungreja, Majenang, bahkan pasar tradisional, oyek masih menyimpan nostalgia dan kehangatan masa lalu.

Meski mulai langka, semangat untuk melestarikan oyek tetap hidup. Masih ada masyarakat dan orang tua di Cilacap yang secara rutin membuat dan menjual oyek di pasar tradisional maupun di desa-desa. Kehadiran mereka menjadi jembatan antara generasi lama dan muda, menjaga agar kuliner tradisional ini tetap dikenal dan dinikmati di era modern.

Di tengah arus modernisasi, oyek mengingatkan kita bahwa kesederhanaan bisa menjadi identitas berharga. Melestarikan oyek berarti menjaga sejarah, rasa, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Jika suatu hari Anda berkunjung ke Cilacap, sempatkan mencicipi oyek di pasar tradisional—karena dari sepiring oyek, kita bisa merasakan cerita panjang tentang ketekunan dan cinta pada tradisi.