Ketika Perbandingan Orang Tua Perlahan Mengikis Kepercayaan Diri Anak

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bellaa Alpiptria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Lihat temanmu, nilainya lebih tinggi.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana dan bahkan sering disampaikan dengan niat baik. Orang tua ingin anak lebih semangat belajar dan tidak tertinggal dari teman-temannya. Namun, ketika perbandingan tersebut terus muncul di rumah, terutama saat membicarakan nilai atau prestasi setelah anak pulang sekolah, anak bisa mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri.
Fenomena ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika orang tua membandingkan anak dengan teman, saudara, maupun anak lain yang dianggap lebih berprestasi. Lalu, mengapa orang tua masih menggunakan perbandingan sebagai cara untuk memotivasi anak? Bagaimana pengaruhnya terhadap kepercayaan diri dan proses belajar anak di sekolah?
Tidak semua orang tua bermaksud menjatuhkan anak ketika melakukan perbandingan. Sebagian justru menganggap bahwa membandingkan anak dengan orang lain dapat menjadi pemicu agar anak berusaha lebih keras. Ketika melihat temannya mendapat nilai lebih tinggi, misalnya, anak diharapkan terdorong untuk belajar lebih giat.
Masalahnya, anak belum tentu menangkap pesan tersebut dengan cara yang sama. Bagi orang tua, kalimat “temanmu saja bisa” mungkin merupakan dorongan. Bagi anak, kalimat itu dapat terdengar seperti “aku tidak cukup pintar”.
Penelitian Zhang dan Yan (2024) terhadap anak usia prasekolah menunjukkan adanya hubungan antara perbandingan sosial yang dilakukan orang tua, konsep diri anak, dan motivasi untuk menguasai suatu kemampuan. Dari perspektif anak, perbandingan yang dilakukan orang tua berkaitan dengan konsep diri yang lebih negatif dan motivasi penguasaan yang lebih rendah.
Dampak perbandingan tidak selalu berhenti ketika percakapan di rumah selesai. Cara anak memandang dirinya dapat terbawa ke lingkungan sekolah. Anak yang merasa dirinya selalu kalah dibandingkan orang lain bisa menjadi lebih ragu ketika diminta menjawab pertanyaan, takut salah, atau enggan mencoba tugas yang dianggap sulit.
Hal ini relevan dengan penelitian Vogels dan Perunovic (2020) yang melibatkan 117 orang tua dari anak usia sekolah dasar. Penelitian tersebut menemukan bahwa situasi perbandingan akademik dapat memengaruhi penilaian orang tua terhadap kemampuan anak dan seberapa penting suatu bidang akademik dianggap bagi masa depan anak.
Artinya, perbandingan bukan hanya memengaruhi perasaan anak, tetapi juga dapat mengubah cara orang dewasa melihat kemampuan anak. Jika perhatian terlalu berpusat pada siapa yang lebih unggul, proses belajar anak justru berisiko hanya dilihat dari hasil akhirnya.
Anak-anak berada dalam tahap perkembangan yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama ketika membaca. Ada pula yang tidak terlalu menonjol dalam nilai akademik, tetapi memiliki kemampuan berbicara, menggambar, bekerja sama, atau memecahkan masalah.
Karena itu, keberhasilan seorang anak tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa dekat dirinya dengan pencapaian anak lain. Anak lebih membutuhkan orang dewasa yang membantu melihat perkembangan dirinya sendiri.
American Psychological Association juga menjelaskan bahwa hubungan orang tua dan anak yang hangat, terbuka, komunikatif, serta disertai batasan yang sesuai berkaitan dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi dan performa sekolah yang lebih baik.
Dari “Kenapa Tidak Seperti Dia?” Menjadi “Apa yang Bisa Kita Coba?”
Bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan target kepada anak. Justru anak tetap membutuhkan arahan dan dorongan. Yang perlu diubah adalah cara menyampaikannya.
Daripada mengatakan, “Kenapa nilai kamu tidak seperti temanmu?”, orang tua dapat bertanya, “Bagian mana yang menurut kamu masih sulit?” atau “Apa yang bisa kita coba supaya besok lebih baik?”
Perubahan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi pesan yang diterima anak berbeda. Anak tidak lagi diarahkan untuk mengalahkan orang lain, melainkan diajak memahami kesulitan dan melihat perkembangan dirinya sendiri.
Persoalan ini juga menjadi perhatian bagi guru sekolah dasar. Guru tidak hanya berperan dalam menyampaikan materi, tetapi juga membantu anak membangun pengalaman belajar yang membuat mereka merasa mampu.
Orang tua dan guru dapat memberikan apresiasi terhadap usaha, keberanian mencoba, dan perkembangan anak, bukan hanya terhadap nilai tertinggi. Dengan begitu, anak belajar bahwa kesalahan bukan tanda bahwa dirinya tidak pintar, melainkan bagian dari proses belajar.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang dewasa yang terus menunjukkan siapa yang lebih pintar darinya. Anak membutuhkan orang tua dan guru yang mampu mengatakan, “Kamu mungkin belum bisa sekarang, tetapi kita bisa mencoba lagi.”
Sebab, setiap anak memiliki jalannya sendiri. Tugas orang dewasa bukan membuat anak menjadi seperti orang lain, tetapi membantu mereka percaya bahwa dirinya juga mampu berkembang.
Referensi:
Zhang, Y., & Yan, N. (2024). Comparing upward: How parental social comparisons shape children's self-concept and mastery motivation in China. Journal of Experimental Child Psychology, 247, 106048.
Vogels, E. A., & Perunovic, W. Q. E. (2020). Comparing the apple of my eye: Parental reactions to academic social comparisons of their elementary school-aged children. Journal of Applied Social Psychology, 50(1), 41–52.
American Psychological Association. Parents and caregivers are essential to children’s healthy development.
