Benarkah Anak Sains Lebih Pintar Dari Anak Seni?

Seorang pelajar bersekolah di SMA Ciputra Kasih Surabaya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Queeny Trixia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di masyarakat kita, ada pandangan yang sudah lama ada. Anak yang masuk ke jurusan sains atau matematika dianggap lebih pintar daripada anak yang mahir dalam bidang seni. Mereka yang mendalami sains seringkali dijadikan sebuah standar. Sementara mereka yang mendalami seni, dikesampingkan dan dianggap hanya mengandalkan bakat. Padahal, jika dilihat lebih dalam, pandangan ini merupakan sebuah prasangka yang tidak lagi relevan. Logika matematika bukanlah satu-satunya tolok ukur kecerdasan manusia, karena proses berpikir kreatif dalam seni juga membutuhkan proses berpikir yang sama-sama kompleksnya.
Prasangka bahwa anak sains lebih pintar dari anak seni sebenarnya berakar dari bias pada pendidikan tradisional. Sejak dulu, kurikulum sekolah menilai kemampuan siswa dengan tes-tes yang berbasis pada angka dan hafalan. Hal ini dibuktikan lewat analisis seorang ahli psikologi bernama Howard Gardner, melalui teorinya Multiple Intelligences. Gardner (dalam Metzler, 2026) menuliskan bahwa sistem sekolah dan pandangan masyarakat mengenai standar kecerdasan didasari pada dua modalitas, yakni kecerdasan linguistik dan kecerdasan logika-matematika. Akibatnya, jenis kecerdasan lain seperti visual-spasial dan musikal, dikesampingkan.
Selain itu, banyak orang mengira bahwa menghasilkan karya seni merupakan proses yang hanya “mengandalkan perasaan”. Namun pandangan ini dapat digantikan dengan bukti sains modern. Untuk menghasilkan sebuah karya seni, seorang seniman perlu memikirkan banyak ide abstrak. Penelitian neurosains berbasis fMRI oleh Roger Beaty dan timnya pada 2016 menemukan bahwa saat seseorang menggunakan pemikiran kreatif, otak mereka mengaktifkan dua jaringan besar secara bersamaan. Yang pertama adalah Default Network (area yang mengatur imajinasi), dan Executive Control Network (area yang mengatur logika dan analisis). Penggunaan kedua jaringan otak ini jarang terjadi pada aktivitas biasa, membuktikan bahwa otak bekerja secara kompleks saat seseorang membuat karya seni.
Ditambah dengan maraknya perkembangan teknologi, kemampuan berpikir kreatif manusia sangat dibutuhkan. Saat ini, AI telah membuktikan bahwa keahlian dalam bidang sains maupun seni dapat dengan mudah digantikan oleh mesin. Yang tidak dapat digantikan adalah kemampuan Berpikir Kreatif, atau Creative Thinking. Di mana berpikir kreatif sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan ide baru dan memecahkan masalah dengan cara yang unik. Lembaga pendidikan internasional OECD telah memasukkan "Creative Thinking" ke dalam asesmen standar global PISA pada 2022 dengan sains dan matematika. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan berpikir kreatif bukan hanya sekadar bakat, namun sebuah kompetensi yang nilainya sama dengan sains.
Kesimpulannya, anggapan bahwa anak sains lebih pintar dibanding anak seni merupakan sebuah mitos tidak relevan yang sebaiknya kita tinggalkan. Baik sains ataupun seni merupakan dua bentuk kecerdasan manusia yang saling melengkapi satu sama lain. Sains dapat membantu kita memahami dunia lewat data dan rumus, sedangkan seni membantu kita memahami dunia lewat imajinasi dan estetika. Sudah saatnya bagi kita untuk mengapresiasi setiap bentuk kecerdasan secara setara.
