Konten dari Pengguna

Mengungkap Sisi Gelap Futōkō: Fenomena Pendidikan di Jepang Yang Perlu Diketahui

Benedicta Prasasti Cinta Ayundra

Benedicta Prasasti Cinta Ayundra

Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Budaya Prodi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Benedicta Prasasti Cinta Ayundra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pelajar di Sekolah Jepang (pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pelajar di Sekolah Jepang (pexels.com)

Jepang, negara yang dikenal dengan disiplin dan kemajuan dalam pendidikan, kini menghadapi masalah serius yang mengancam masa depan generasi mudanya dengan fenomena futōkō. Istilah ini merujuk pada siswa yang berhenti bersekolah tanpa alasan yang jelas, dan angka yang mencolok menunjukkan betapa mendesaknya masalah ini.

Apa Itu Futoko?

Futōkō yang berarti "tidak bersekolah," adalah kondisi di mana siswa tidak menghadiri sekolah selama lebih dari 30 hari tanpa alasan yang sah. Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Jepang (MEXT) mencatat lebih dari 181.000 siswa terlibat dalam fenomena ini pada 2019—sebuah angka yang mengkhawatirkan dan patut dicermati.

Mengapa Futoko terjadi?

Ada tiga faktor utama yang mendorong terjadinya futōkō:

  1. Faktor Keluarga: Hubungan yang buruk dengan orang tua, perubahan besar dalam keluarga, dan masalah ekonomi dapat memicu siswa untuk enggan bersekolah. Dukungan keluarga sangat penting bagi stabilitas emosional anak.

  2. Faktor Sekolah: Lingkungan sekolah yang penuh tekanan—seperti bullying dan tuntutan akademik yang tinggi—dapat membuat siswa merasa tidak aman. Ketidakcocokan dengan guru juga bisa berkontribusi pada keputusan mereka untuk tidak hadir.

  3. Faktor Individu: Masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi, sering kali menjadi penghalang bagi siswa untuk pergi ke sekolah. Ini menunjukkan perlunya perhatian lebih pada kesehatan jiwa siswa.

Ilustrasi Siswa di Jepang (pexels.com)

Dampak Futōkō yang Kian Mengkhawatirkan

Dampak dari fenomena ini sangat luas dan merugikan:

  1. Bagi Siswa: Siswa yang terjebak dalam futōkō mengalami penurunan prestasi akademik, yang berdampak pada peluang kerja di masa depan. Dengan meningkatnya angka pengangguran, masa depan mereka semakin terancam.

  2. Bagi Masyarakat: Penurunan jumlah individu dengan pendidikan formal dapat mengurangi kualitas sumber daya manusia. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah sosial, seperti meningkatnya kemiskinan dan kejahatan.

  3. Bagi Sistem Pendidikan: Penutupan sekolah akibat berkurangnya siswa dapat mengancam keberlanjutan sistem pendidikan Jepang. Tanpa penanganan yang tepat, masalah ini dapat merusak kredibilitas pendidikan di negara tersebut.

Upaya Pemerintah: Langkah Menuju

Solusi

Menanggapi fenomena ini, pemerintah Jepang melalui MEXT telah meluncurkan sejumlah kebijakan untuk menangani futōkō:

  1. Elaborasi Kebijakan: Pengesahan undang-undang yang menjamin kesempatan pendidikan setara bagi semua siswa, serta dukungan khusus bagi mereka yang berisiko tidak hadir.

  2. Kolaborasi dengan Organisasi: Kerja sama dengan organisasi non-profit untuk menyediakan program dukungan dan konseling bagi siswa yang mengalami masalah.

Fenomena futōkō adalah tantangan serius dalam sistem pendidikan Jepang. Dengan memahami penyebab dan dampaknya, serta melaksanakan kebijakan yang efektif, kita dapat berharap untuk melindungi masa depan pendidikan di Jepang.

Melalui upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat, diharapkan fenomena ini dapat diminimalisir. Setiap siswa berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Mari kita dukung upaya ini demi generasi mendatang!