Jejak Pertama, Langkah Terakhir di Kuta

Master of Management lulusan STIE YKPN Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Benediktus Solistyo Nasri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Langit Kuta kala senja adalah lukisan Tuhan yang tak pernah bosan aku pandangi—gradasi jingga yang membakar cakrawala, seolah menggambarkan rasa rindu yang tak pernah sempat aku rangkum dalam kata. Di antara desir angin yang membawa aroma asin laut, aku berdiri di tepi pantai, menatap jejak-jejak kaki yang ditelan ombak. Ada satu jejak yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatanku—jejaknya.
Pertama kali aku melihat Anna, ia duduk bersila di atas pasir yang hangat, membiarkan rambutnya diterpa angin tanpa peduli. Senyum kecilnya saat menatap matahari terbenam bukan sekadar indah, tapi seperti mantra yang mengunci langkahku untuk tak beranjak.
"Aku suka senja," katanya saat itu, tanpa menoleh.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena ia tahu caranya pergi dengan anggun," jawabnya, sebelum akhirnya menatapku dan menambahkan, "seperti kita, nanti."
Aku belum mengenalnya. Tapi entah mengapa, sejak kalimat itu, hatiku merasa sudah lama tinggal di dekat hatinya.
Kami tak berbicara banyak hari itu. Tapi di antara jeda dan diam, ada bahasa tak bersuara yang menyatukan kami. Pantai Kuta menjadi saksi—bukan hanya tentang dua insan yang bertemu, tapi dua jiwa yang entah mengapa, merasa sudah lama saling mencari.
Tiga hari setelah pertemuan pertama, aku kembali ke tempat yang sama, berharap pada kebetulan yang sama.
Dan di sanalah dia—Anna, duduk di atas kain tipis berwarna biru laut, membaca buku yang tampak lebih tua dari usianya. Seolah waktu tak pernah bergerak sejak terakhir aku melihatnya.
"Senja hari ini lebih pucat," kataku sambil menjatuhkan diri di pasir di sampingnya.
Anna melirik, lalu tersenyum. "Mungkin karena langit tahu kita sedang saling mencari."
Sejak hari itu, Pantai Kuta menjadi ruang kecil kami yang luas. Kami tak pernah bertukar janji, hanya waktu yang menyusun pertemuan. Anna mengajariku membaca langit, mengukur waktu dengan suara ombak, dan mengartikan cinta tanpa harus mengucapkannya.
"Kalau kamu bisa jadi apa saja di dunia ini," tanyanya suatu senja, "kamu mau jadi apa?"
Aku menatap wajahnya yang berkilau keemasan oleh cahaya sore. "Aku ingin jadi angin, supaya bisa menjagamu dari jauh tanpa kau tahu."
Ia tertawa kecil, lalu menatap laut. "Kalau begitu, aku ingin jadi langit, agar bisa menunggu angin setiap hari."
Hari-hari bersama Anna seperti barisan puisi yang tak pernah selesai ditulis. Kadang kami berbicara panjang lebar tentang mimpi, kadang kami hanya diam, mendengarkan suara alam yang menyatu dengan detak jantung.
Ia pernah berkata, “Jangan jatuh cinta padaku kalau kau takut kehilangan.”
Dan aku hanya menjawab, “Aku tak takut kehilangan, aku hanya takut tak pernah sempat memiliki.
Hubungan kami berjalan seperti alur ombak: tenang, lalu kadang riuh, tapi selalu kembali ke pantai yang sama.
Namun waktu adalah tamu tak diundang yang selalu membawa berita. Suatu sore, Anna datang dengan mata yang tak lagi memantulkan cahaya senja. Ada kegelisahan yang ia sembunyikan di balik senyumnya.
"Aku harus pergi," katanya, menatap ujung cakrawala yang menelan matahari.
"Kemana?" tanyaku, meski hatiku sudah tahu jawabannya.
"Jogja. Dapat beasiswa. Setahun."
Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan gemetar yang bahkan tak bisa disembunyikan oleh angin.
Aku diam. Karena terkadang, diam adalah satu-satunya cara untuk tidak menangis.
"Kita janji..." katanya, "setahun dari sekarang, tanggal yang sama, tempat yang sama, kita kembali ke sini. Kalau kita benar-benar ditakdirkan, alam pasti bantu kita bertemu lagi."
Aku mengangguk, meski dalam hati aku tahu: waktu bisa menjadi jembatan, tapi juga bisa menjadi jurang.
Setahun berlalu seperti angin yang mengembara tanpa tujuan. Dan aku kembali ke pantai itu, dengan hati yang setengah yakin, setengah ragu. Pasir masih hangat, ombak masih menyapa, tapi Anna tak kunjung datang.
Jam terus berjalan. Matahari turun perlahan, seolah ikut menunduk karena sedih.
Aku menunggu sampai malam jatuh, lalu akhirnya berdiri dan menulis satu kalimat di pasir:
“Aku datang. Tapi mungkin takdir kita harus mencari jalan lain.”
Aku melangkah pergi. Tapi tidak sepenuhnya putus asa. Karena cinta yang sejati tahu bagaimana caranya pulang, meski harus tersesat lebih dulu.
Tiga bulan kemudian, aku menghadiri seminar sastra di Jogja—sebuah acara yang kupilih secara spontan. Dan di antara kerumunan itu, aku melihatnya. Rambut panjangnya, cara ia menoleh, dan langkah kecilnya yang tak berubah.
"Anna?" tanyaku, nyaris tak percaya.
Ia berbalik. Mata itu. Senyum itu. Waktu seolah memutar balik.
"Aku datang ke Kuta. Tapi sehari lebih lambat," bisiknya. "Pesawatku tertunda. Dan aku kira... kamu sudah pergi selamanya."
Kami saling memandang, dan di antara kami tidak lagi ada jarak, tidak lagi ada penantian.
"Mau kita ulang janji itu?" tanyaku.
"Enggak perlu," jawabnya sambil menggenggam tanganku, "karena mulai hari ini, kita tidak perlu menunggu waktu lagi."
Kami tidak kembali ke Kuta untuk berjanji lagi. Kami membiarkan kenangan tetap tinggal di sana — sebagai tanda bahwa cinta bisa lahir, diuji, lalu menemukan jalannya sendiri.
Dan kini, setiap kami berbicara tentang masa depan, kami tak lagi menyebutkan 'jika', hanya 'ketika'.
Karena cinta kami telah menemukan rumahnya — bukan pada tempat, tapi pada satu sama lain.
Benediktus Nasri
