Konten dari Pengguna

Tour de Entete, Jejaknya bagi Warga NTT

Benediktus Solistyo Nasri
Master of Management lulusan STIE YKPN Yogyakarta
22 September 2025 16:53 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tour de Entete, Jejaknya bagi Warga NTT
Balap sepeda di NTT membawa kebanggaan dan peluang, tapi juga tantangan bagi warga. Opini ini menyoroti jejak positif-negatifnya serta harapan agar manfaatnya benar-benar terasa.
Benediktus Solistyo Nasri
Tulisan dari Benediktus Solistyo Nasri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: https://pixabay.com/id/photos/bersepeda-ras-jalan-sepeda-bersepeda-3634551/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: https://pixabay.com/id/photos/bersepeda-ras-jalan-sepeda-bersepeda-3634551/
ADVERTISEMENT
Sejak beberapa hari yang lalu, jalanan di beberapa kota dan kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) dipenuhi warna-warni jersey para pebalap sepeda internasional. Ajang bergengsi seperti Tour de Entete seolah mengubah suasana daerah menjadi panggung olahraga dunia. Warga berjejer di pinggir jalan, menyambut rombongan pembalap yang melintas dengan kecepatan tinggi.
ADVERTISEMENT
Kemeriahan ini tentu membanggakan. Nama NTT terangkat di mata dunia, diberitakan di berbagai media. Namun di balik sorak sorai itu, muncul pertanyaan sederhana: apa jejak nyata dari balap sepeda ini bagi kehidupan warga NTT?
Saya percaya, ajang besar seperti ini bukan sekadar lomba olahraga, melainkan juga cermin bagaimana sebuah daerah menyiapkan diri, menyambut tamu, sekaligus mengelola dampaknya.
Tidak bisa dipungkiri, ada banyak sisi positif dari hadirnya tour sepeda di NTT.
Pertama, pariwisata. Nama Flores, Timor, dan pulau-pulau lain makin dikenal wisatawan. Foto-foto pemandangan indah tersebar luas lewat publikasi event. Hal ini memberi peluang bagi daerah untuk mempromosikan potensi wisata yang sebelumnya mungkin jarang terdengar.
Kedua, ekonomi lokal. Kehadiran tamu dari luar, baik pebalap, tim pendukung, maupun penonton, membuat pedagang kecil ikut merasakan rezeki. Penjual makanan, penginapan sederhana, hingga jasa transportasi lokal mendapat keuntungan meski dalam waktu singkat.
ADVERTISEMENT
Ketiga, infrastruktur. Demi kelancaran balapan, beberapa ruas jalan diperbaiki. Ini tentu memberi manfaat langsung bagi masyarakat yang sehari-hari melintas di jalan tersebut.
Dan tak kalah penting, kebanggaan identitas. Warga NTT merasa daerahnya dihargai. Anak-anak muda yang menyaksikan balap sepeda bisa termotivasi untuk mencintai olahraga dan menjaga kesehatan.
Ilustrasi: https://pixabay.com/id/photos/di-luar-ruangan-sepeda-wanita-gadis-4437215/
Meski begitu, tidak semua sisi berjalan mulus. Ada juga tantangan yang muncul. Manfaat ekonomi, misalnya, tidak merata. Hanya sebagian kecil warga yang langsung merasakan keuntungan. Petani atau nelayan di desa yang jauh dari rute balap mungkin tidak mendapatkan apa-apa. Selain itu, ketimpangan muncul. Pengusaha besar—seperti hotel dan restoran—lebih banyak mendapat pemasukan, sementara pedagang kecil kadang hanya mendapat sisa. Bagi warga, ajang ini juga bisa menjadi gangguan aktivitas harian. Jalan ditutup berjam-jam demi kelancaran lomba, sehingga ada yang kesulitan pergi ke pasar, bekerja, atau ke sekolah.
ADVERTISEMENT
Dan satu hal yang sering disorot: keberlanjutan. Setelah lomba selesai, apa yang tersisa? Jalan memang diperbaiki, tetapi perhatian wisatawan tidak selalu berlanjut. Akhirnya, event ini terasa seperti pesta sehari, yang kemudian hilang tanpa jejak mendalam.
Di sela-sela keramaian, kita bisa mendengar kisah nyata. Ada pedagang keliling yang mengaku senang karena dagangannya laris saat penonton menunggu pebalap lewat. Tetapi ada pula petani yang kesal karena harus menunda perjalanan ke kebun sebab jalan ditutup.
Kedua cerita itu sama-sama benar. Dan di situlah letak pentingnya mendengar suara warga. Event sebesar apapun tidak akan berarti jika manfaatnya tidak benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil, yang sehari-hari menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.
Tour sepeda di NTT bisa menjadi pintu masuk untuk membangun pariwisata dan ekonomi daerah. Tetapi pemerintah daerah perlu memastikan bahwa dampaknya lebih dari sekadar pencitraan.
ADVERTISEMENT
Bayangkan jika setiap kali event berakhir, ada program tindak lanjut: pelatihan usaha kecil, promosi wisata berkelanjutan, atau dukungan bagi komunitas sepeda lokal. Dengan begitu, jejak yang ditinggalkan bukan hanya foto di media sosial, tapi juga perubahan nyata bagi masyarakat.
Harapan saya sederhana: jangan biarkan event besar ini hanya jadi tontonan sesaat. Jadikan ia bagian dari pembangunan yang adil, menyentuh sampai ke desa-desa, bukan hanya di pusat kota.
Tour de Entete memang membawa dua sisi: kebanggaan dan tantangan, manfaat dan gangguan. Namun pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada jumlah negara peserta atau banyaknya pemberitaan, melainkan sejauh mana warga merasakan dampak positifnya.
Karena pada hakikatnya, jalanan tempat roda sepeda berputar adalah juga jalan kehidupan sehari-hari warga. Maka, jejak yang ditinggalkan seharusnya bukan hanya roda yang melintas, melainkan juga perubahan yang menetap.
ADVERTISEMENT
Benediktus S. Nasri M.M