kumparan
7 Juni 2019 8:12

Berawal Dari Medsos, Hingga Rofik Merakit Bom Sendiri

IMG-20190605-WA0029.jpg
Polisi melakukan pemantauan di rumah pelaku guna mengumpulkan alat-alat bukti. (Agung Santoso)
SOLO - Pelaku bom bunuh diri di Pos Pengamana (Pospam) Lebaran 2019, Senin (03/06/2019) di Bundaran Kartosura, Sukoharjo, Rofik Asharudin (22) dipastikan terkena doktrin terorisme melaui telepon genggam. lebih jauh, pelaku juga diarahkan menjadi kader tunggal atau disebut lone wolf, di mana ia menjalankah aksinya sendiri. Bahkan pelaku merakit bom sendiri, bermodal arahan lewat telepon genggam dan uang saku yang didapat dari ibunya. Hal tersebut dikatakan Kapolda Jawa Tengah Irjen Ryco Amelza Daniel usai pengamanan pembagian sembako di Graha Saba, Rabu (04/05/2019)
ADVERTISEMENT
"Dia (pelaku -red) diperkenalkan oleh kenalannya di medsos. Dengan komunikasi, menerima doktrin, dan "pencerahan"," jelasnya.
Menurut Ryco, korban sempat dibaiat pada tahun 2018 oleh orang yang mengaku bernama Abu Bakr al-Baghdadi yang diduga merupakan pemimpin ISIS. Hasil doktrin tersebut terlihat dalam kehidupan pelaku sehari-hari. Pelaku menjadi pemalas, suka berbohong, hingga pernah suatu hari, ia mengajak kedua orang tua, kakak, serta adiknya untuk mengikuti ajaran tersebut.
IMG-20190605-WA0030.jpg
Polisi berjaga-jaga di kawasan Joglosemar untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. (Agung Santoso)
"Kasus ini seperi di Surabaya. Awalnya suaminya kenal di medsos, akhirnya mengajak istri dan anaknya melakukan bom bunuh diri," ujarnya.
Untuk merakit bom, ia membeli perlengkalan seperti belerang, black powder sera alat elektronik lainnya. Ia praktekkan hasil rakitannya di sawah belakang rumahnya hingga berujung pada aksi bom bunuh diri di Pospam Lebaran 2019. Ryco berharap, kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi orang tua untuk lebih memantau pergaulan putra-putrinya.
ADVERTISEMENT
"Mereka yang kena doktrin, biasa berubah perilaku. Menjadi pemalas, berbohong, tertutup walaupun kepada keluarga dan mendadak mengajak amaliah. Saya harap orang tua, ustad, guru dan pimpinan sekolahan untuk memantau anaknya," imbuh Ryco. (Agung Santoso)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan