Berbagi Bubur Samin, Tradisi Warga Keturunan Banjar saat Ramadhan

SOLO - Sudah puluhan tahun Masjid Darussalam Jayengan, Serengan, Kota Solo rutin membagikan Bubur Banjar Samin saat bulan puasa tiba. Tradisi ini sudah menjadi turun-temurun dilakukan oleh masyarakat keturunan Banjar tersebut. Biasanya, setelah selesai Solat Asar, masyarakat mulai berkumpul membawa wadah kecil untuk mendapatkan bubur yang disajikan. Takmir Masjid Darussalam membuat bubur sebanyak 50 kilo setiap harinya. Masjid Darussalam menyediakan 1.100 porsi bubur untuk dibagikan, 900 porsi untuk masyarakat umum dan 200 untuk jamaah masjid.
Menurut Takmir Masjid Darussalam, H. Muhammad Rosyidin, kegiatan berbagi Bubur Samin Banjar sudah dimulai sejak tahun 1965. Pada saat itu bubur hanya dibagikan untuk jamaah Masjid Darussalam.
"Mulai membagikan Bubur Banjar tahun 1965, tapi go public mulai tahun 1985. Pertama kali membuat 15 kilo, akhirnya sampai sekarang jadi 50 kilo." ujar Rosyidin disela-sela kegiatan bagi-bagi bubur di hari pertama puasa pada Senin (6/5/2019).
Jika dilihat, bubur samin tidak berbeda dengan bubur lainnya. Yang membedakan adalah bubur samin dimasak dengan tambahan rempah-rempah seperti kapulaga, jinten dan resep lainnya. Bubur samain juga dilengkapi dengan daging sapi.
"Bubur ini memiliki ciri dan rasa yang khas, yakni penambahan bumbu rempah-rempah, minyak samin, dan daging. Alhamdulillah masyarakat suka" kata Rosyidin.
Anang Sakroni merupakan pencetus pertama yang membuat Bubur Samin yang berasal dari daerah Banjar. Dia menceritakan bagaimana perjalanan Bubur Samin dan kehidupan masyarakat Banjar di Kota Solo
"Warga Banjar asli dulu ada 200 orang, namun sekarang hanya tinggal 4 orang. Yang lainnya adalah keturunan Banjar. Saat ini, yang membuat bubur ada sekitar 11 orang." jelas Anang secara singkat. (Tara Wahyu N.V.)
