Konten Media Partner

Cerita Pembeli Minyak Goreng Curah di Solo: Bawa Nomor Urut, Antre Sampai 4 Jam

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga antre membeli minyak goreng curah di salah satu toko kawasan Pasar Legi, Solo, Rabu (23/03/2022). FOTO: Tara Wahyu
zoom-in-whitePerbesar
Warga antre membeli minyak goreng curah di salah satu toko kawasan Pasar Legi, Solo, Rabu (23/03/2022). FOTO: Tara Wahyu

SOLO - Stok minyak goreng curah di Pasar Legi, Solo mulai menipis.

Kondisi itu mengharuskan konsumen untuk antre, saat membeli minyak goreng curah di pasar induk Kota Solo tersebut.

Seperti terpantau pada Rabu (23/03/2022), di mana 1 toko di kawasan Pasar Legi dihiasi antrian warga Solo maupun luar Solo yang memburu minyak goreng curah tersebut.

Biasanya di kawasan Pasar Legi terdapat 4 toko yang berjualan minyak goreng curah. Namun saat ini hanya 1 toko yang melayani penjualan minyak tersebut.

embed from external kumparan

“Saya tadi antre sejak pukul 07.30 WIB. Sengaja antre sejak pagi, biar belum ada aktivitas (antrean),” tutur salah seorang pembeli, Giyanto (55).

Padahal, toko tersebut baru buka sekitar pukul 08.00 WIB.

Giyanto mengaku sengaja berkendara dari rumahnya di kawasan Grogol, Kabupaten Sukoharjo ke Pasar Legi selama sekitar 20 menit, demi mendapatkan minyak goreng curah seharga Rp 15.400 per liter tersebut.

“Kalau dari sini ya jaraknya 6-7 kilometer.”

Meski mengantre sejak 30 menit sebelum toko buka, Giyanto tetap mendapatkan nomor urut antrian yang lumayan besar. Yakni nomor 55.

Minyak goreng curah yang diincarnya pun baru bisa dibeli sekitar pukul 12.00 WIB, atau lebih dari 4 jam sejak ia mengantre.

Bahkan untuk membeli minyak goreng di toko tersebut, konsumen harus mematuhi sejumlah syarat yang ditetapkan pemilik toko.

“Pembeli harus menyerahkan fotokopi KTP. Syarat (fotokopi KTP) ya hanya untuk syarat saja, sejak minyak goreng langka,” jelas dia.

Demikian pula jika pembeli ingin membeli minyak goreng curah sebanyak 1 jeriken.

Pembeli menata jeriken saat mengantre di kawasan Pasar Legi, Solo. FOTO: Tara Wahyu

“Harus sekalian membeli 2 sak gula atau 50 kilogram. Mau nggak mau syaratnya memang begitu.”

Namun ternyata tak semua pengantre berpikiran sama seperti Giyanto.

Calon pembeli lain, Dariyanti (58) memilih meninggalkan antrian karena merasa hanya membutuhkan minyak goreng.

“Kalau harus gandengan (dengan gula) uangnya mandek (berhenti). Kalau harus sama tepung juga, siapa yang mau pakai,” tandasnya.

Lantaran tak berhasil mendapatkan minyak goreng curah tersebut, Dariyanti pun terpaksa pulang dengan tangan hampa.

“Ya udah hari ini nggak jualan minyak dulu,” tuturnya.

(Tara Wahyu)