Konten Media Partner

Darwin, Bocah SMP Jualan Cilok demi Beli Kuota

Bengawan Newsverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Darwin Jazilin (12) bocah kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu harus rela membagi waktu belajar dan bermainnya untuk berjualan. Darwin membantu orang tuanya berjualan cilok untuk bisa membeli kuota internet untuknya belajar
zoom-in-whitePerbesar
Darwin Jazilin (12) bocah kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu harus rela membagi waktu belajar dan bermainnya untuk berjualan. Darwin membantu orang tuanya berjualan cilok untuk bisa membeli kuota internet untuknya belajar

SUKOHARJO - Darwin Jazilin (12) bocah kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu harus rela membagi waktu belajar dan bermainnya untuk berjualan. Ya, Darwin membantu orang tuanya berjualan cilok untuk bisa membeli kuota internet untuknya belajar. Di masa pandemi COVID-19 ini, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) memang dilakukan secara Daring (Dalam jaringan) atau online.

Darwin sendiri sudah mulai berjualan sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 6. Kini hasil dari ia berjualan untuk membeli kuota dan juga untuk dirinya jajan dengan adiknya. Ditemui di kediamannya Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Darwin terlihat sedang bermain dengan adiknya.

Darwin sendiri mulai berjualan pada pukul 13.00 WIB sampai pukul 15.30 WIB. Ia berjualan siang lantaran saat pagi hari, ia harus mengerjakan tugas terlebih dahulu.

"Jualan jam 13.00 siang, biasanya sampai sore baru pulang," ujar Darwin saat dijumpai di rumahnya.

Setiap harinya, Darwin mengambil Rp 20.000 untuk membeli kuota dan juga jajan adiknya. Dari Rp 20.000 itu, ia membeli kuota Rp 11.000 setiap harinya.

Darwin sendiri sudah mulai berjualan sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 6. Kini hasil dari ia berjualan untuk membeli kuota dan juga untuk dirinya jajan dengan adiknya

"Jualan mau bantu orang tua. Pulang sekolah dulu waktu SD biasanya jam 1 siang sampai sore. Kalau puasa kemarin dari sore sampai jam 8 malam," ungkapnya. 

Bahkan saat awal pembelajaran Daring atau saat masuk ke SMP, Darwin mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah. Lantaran ia harus menggunakan handphone ayahnya yang dibawa untuk bekerja. 

"Ngerjainnya pagi, tapi kalau Bapak berangkat dibawa Bapak karena punya handphone satu," ucapnya. 

Sekarang, Darwin telah diberi handphone oleh istri dari gurunya di SMP Negeri 24. Kini Darwin sudah mempunyai handphone sendiri, jadi ia bisa mengerjakan tugas saat ayahnya bekerja.

"Diberi handphone dari sekolah sekitar seminggu yang lalu. Sehari mengerjakan tugas dua sampai tiga tugas," tutupnya. (Tara Wahyu)