Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten Media Partner
Fakta Menarik Acara Ngunduh Mantu Putra Presiden Jokowi dari Kacamata Sejarah
2 Desember 2022 16:35 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
SOLO – Kalangan pengamat sejarah menilai prosesi ngunduh mantu putra Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep yang menikah dengan Erina Gudono, akan menjadi hal yang menarik.
ADVERTISEMENT
Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UNS, Insiwi Febriary Setiasih, menyebut tasyakuran ngunduh mantu yang digelar di Pura Mangkunegaran, Solo, menandakan dua hal. Pertama akan menunjukkan hubungan dinamis antara pemerintah pusat dengan entitas kebudayaan lokal.
Kedua, dengan digelarnya salah satu rangkaian acara di Pura Mangkunegaran, akan menunjukkan bahwa Pura Mangkunegaran bisa digunakan untuk kegiatan lain selain kegiatan Istana Mangkunegaran. “Tapi kemudian seberapa jauh digunakan Istana Mangkunegaran itu sendiri," terangnya saat dihubungi, Jumat (02/12/2022).
Pendopo, menurut sejarah, merupakan simbol dari ruang depan, ruang teras dari rumah-rumah Jawa masa lalu.
"Secara sejarah, pendopo ini (Pura Mangkunegaran) pernah digunakan sebagai tempat acara perkawinan dari Pangeran Kanjeng Gusti Adipati Mangkunegoro VII waktu beliau mempersunting Gusti Kanjeng Ratu Timoer, putri dari Hamengkubuwono ke VII di Yogyakarta," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Pada waktu itu, acara pertunjukkan kesenian ngunduh mantu dilakukan di pendopo ndalem. Pada acara tersebut juga diwarnai pertunjukkan wayang orang, pesta dansa, dan lainnya.
"Saat itu, mungkin juga hampir sama dengan esensi yang dilakukan oleh Presiden Jokowi. Ada unsur politis sekaligus unsur seni budaya. Jadi dari sisi historis, ini memang yang kedua setelah masa Mangkunegoro VII. Beliau menikah itu pada 14 September 1920 dan pindah ke Mangkunegaran," paparnya.
Kemudian sejauh ini belum ada lagi yang mengunduh mantu di Mangkunegaran selain Mangkunegara VII. “Bisa dikatakan, tasyakuran Kaesang besok itu jadi yang kedua," tutupnya.
(Fernando Fitusia)