Hidup di Bekas Bangunan Pabrik Es Angker, Keluarga di Solo Ini Tetap Survive
SOLO - Sungguh miris yang dialami oleh keluarga dari Agus Prayitno (35) dan Kecup Ani Noviyanti (36) beserta ketiga anaknya yang tinggal di bekas bangunan pabrik es angker yang berada di Jalan Prof. Dr. Soeharso, Kelurahan Jajar, Kecamatan Laweyan, Surakarta.
Sebagai sumber penerangan di malam hari, dia dan keluarga hanya mengandalkan satu buah lampu dan satu buah aki kecil.
Sedangkan untuk air, dirinya mengambil air di Klinik Sri Murti Husada di samping bangunan pabrik es tersebut, yang dipisah untuk mandi dan juga untuk memasak. Jika ingin ke kamar mandi, dia menumpang ke tetangga terdekat.
Ditemui di bekas bangunan pabrik es, Rabu (17/06), Agus menceritakan awal mula ia menempati bangunan pabrik es angker tersebut, yang sempat ditinggal pergi lama kemudian pulang kembali dengan mengajak keluarganya.
"Pertama kali saat masih bujangan, saya jadi pengamen di lampu merah Fajar Indah. Setiap kali melakukan kenakalan, saya masuknya di sini. Istilahnya mau mabuk, mau judi masuknya di sini semua. Kemudian, setelah jadi pengamen, saya bekerja, punya istri, lalu lihat di sini kok kotor sekali. Lalu saya bersihkan dan tempati bersama istri," terang Agus.
"Jadi sempat saya tinggal lama sekali setelah saya bekerja, kurang lebih 10 tahunan ada. Tahun 2005 enggak ke sini, kemudian tahun 2015 baru ke sini lagi sama keluarga, itu pun kondisinya kosong sudah seperti ini," tambah Agus.
Untuk listrik, Agus menjelaskan bahwa memang belum ingin mengajukan. Dia cukup menggunakan aki kecil saja sebagai sumber listrik.
"Kalau listrik belum mau mengajukan. Mau nebeng listrik ke tetangga juga enggak enak, takutnya ada apa-apa. Ya, ini yang penting ada lampu saja, jadi tidurnya biar agak cerah, terang," ucap Agus.
Menempati bekas bangunan pabrik es tua yang sudah lapuk selama 5 tahun, Agus mengungkapkan bahwa sering mendengar suara-suara tangisan dan suara aneh.
"Kalau sosok enggak pernah menemui, tapi kalau suara-suara sering. Ya, suara perempuan, laki-laki, anak kecil, suara tangisan, kadang terdengar malam hari, kadang juga siang," ungkapnya.
Selain akrab dengan suara-suara tangisan aneh. Dirinya juga sering menemui hewan liar seperti ular.
"Kalau ular juga ada, sudah beberapa kali menemukan. Tapi yang ketangkap cuma satu ekor. Ularnya enggak berbisa, cuma ular biasa. Untuk perlindungan anak-anak, setiap malam hari ditutup dengan seng," tutupnya. (Fernando Fitusia)
