Jelang ASEAN Para Games, Viral Video Difabel Dilarang Naik KRL Solo-Jogja
·waktu baca 2 menit

SOLO - Video yang menggambarkan penyandang disabilitas dilarang petugas menaiki kereta rel listrik (KRL) jurusan Solo-Jogja, viral di media sosial Instagram.
Dalam video yang diunggah akun @mlampahsolo diceritakan, seorang difabel dihentikan oleh sejumlah petugas keamanan Stasiun Solo Balapan.
“Kursi yang roda 3 tidak bisa masuk dalam KRL. Kita menyarankan masnya naik transportasi yang lain, karena ini perintah dari atasan,” terang salah seorang petugas keamanan dalam video tersebut.
Calon penumpang yang diketahui bernama Yoham itu, lantas mendebat petugas.
“Saya naik KRL nggak gratis, saya bayar. Saya nggak pernah dapat penolakan lho di mana-mana. Saya mau ngomong sama atasannya,” sahut Yoham.
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, mengaku telah melihat video tersebut.
“Sebenarnya tidak apa-apa, coba nanti saya cari (info lebih lanjut), harusnya nggak apa-apa. Naik BST aja nggak apa-apa kok,” kata Gibran, Rabu (27/07/2022).
Gibran mengaku akan berkomunikasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), untuk mencari tahu duduk perkara dalam video itu.
“Itu bukan wewenang saya, tapi nanti coba kami komunikasikan dengan KAI. Kota Solo harus menjadi kota yang ramah untuk difabel, ramah untuk wisatawan. Harusnya teman-teman disabilitas malah diprioritaskan, bukan disingkir-singkirkan seperti itu,” tegasnya.
Gibran pun menyayangkan masalah ini muncul saat Solo bersiap menggelar ASEAN Para Games 2022.
“Saya lihat dulu aturannya seperti apa. Tapi kasihan kalau ditolak. Saat ini kan kita juga sering didatangi orang-orang luar dan orang-orang itu yang menggerakan ekonomi Solo juga.”
Sementara itu Manager External Relations & Corporate Image Care KAI Commuter, Leza Arlan, saat dikonfirmasi melalui telepon menjelaskan, selama ini standar yang diterapkan KAI baru standar kursi roda.
“Jadi selama ini standarnya standar kursi roda aja. Karena di dalam KRL sendiri kan ada aturan barang bawaannya. Ya itu sih,” jelas dia.
“Mungkin nanti kita akan berkoordinasi ke komunitas difabel, yang berhubungan dengan difabel. Bahwa seperti apa sih standarnya alat bantu difabel,” imbuhnya.
(Fernando Fitusia)
