Kisah Mbah Wiryo, Lansia Sebatang Kara yang Mencari Makan dari Tempat Sampah

KLATEN - Sungguh menyedihkan, kisah hidup yang dialami oleh Mbah Wiryo (90), seorang Lansia asal Klaten. Dirinya hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil yang berada di samping pemakaman belakang Soto Blangkon Klaten.
Kondisi rumahnya begitu memprihatinkan, sangat kotor dan juga berantakan. Atap rumahnya ada yang bocor dan di dalam rumah juga terdapat beberapa ekor kambing.
Istri Mbah Wiryo sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Mbah Wiryo juga tidak mempunyai satu orang anak pun.
Setiap harinya, Mbah Wiryo ditemani oleh 2 ekor anjing yang dibelinya seharga Rp 200.000. Dirinya menceritakan bahwa awalnya mempunyai 10 ekor anjing yang kemudian hilang diambil oleh orang yang tak bertanggung jawab.
Tubuhnya yang bungkuk membuatnya sekarang hanya dapat mendorong becaknya ke tempat-tempat mengumpulkan rongsok di sekitar rumah. Dari rongsok yang diperolehnya tersebut, kemudian dia jual kembali untuk sekadar mencari uang makan.
"Setiap hari pakai becak dapat rongsok itu di dalam karung. Kalau enggak laku rongsoknya itu ya enggak dapat uang. Ya, sedapatnya uang berapa, buat beli nasi bungkus di pinggir jalan," ungkap Mbah Wiryo.
Namun pengakuan mengejutkan disampaikan oleh Yunia Asmiarti, salah satu warga yang pernah melihat Mbah Wiryo makan dari makanan yang berasal dari tempat sampah.
"Aku pernah lihat (Mbah Wiryo) makan dari tempat sampah. Lalu aku datangin buat kasih makan, tapi dia cuma lihatin saja. Maaf aku pikir gangguan jiwa," ujarnya ketika diwawancara tim Bengawan News.
Tak hanya Yunia, ternyata ada warga lain yang pernah melihat Mbah Wiryo makan dari tempat sampah yaitu Farah. Warga Klaten yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal beliau.
"Mbah Wiryo itu biasanya dorong becak. Lalu sampah-sampah makanannya itu ditaruh di becaknya, Mas. Bersama dengan rosok-rosok yang masih bisa dimakan, lalu dia makan," terang Farah.
Meskipun kini hidupnya sebatang kara di usianya yang telah senja. Namun Mbah Wiryo masih semangat bekerja mencari rosok dengan becak dan beternak kambing. Semangat pantang menyerah dan pantang mengemis Mbah Wiryo tersebut patut kita acungi jempol. (Fernando Fitusia)
