Konten Media Partner

Kisah Pengubur Jenazah COVID-19 di Sragen, Diancam hingga Nyaris Dilempar batu

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para relawan pengubur jenazah COVID-19 di Sragen. (dok Humas UNS)
zoom-in-whitePerbesar
Para relawan pengubur jenazah COVID-19 di Sragen. (dok Humas UNS)

SRAGEN-Angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia pekan ini menembus angka 50 ribu jiwa. Kondisi ini membuat para relawan pengubur jenazah pasien COVID-19 selama pandemi ini tidak pernah jeda dalam menjalankan tugasnya.

Banyak tantangan serta risiko yang dihadapi oleh para relawan. Hal ini diceritakan oleh relawan dari Badan Koordinasi Pelaksana (Bakorlak) SAR Universitas Sebelas Maret (UNS), Supriyanto Nugroho, yang saat ini tengah menjadi relawan pengubur jenazah pasien COVID-19 di Sragen.

Keikutsertaannya sebagai relawan COVID-19 bermula saat dia mendengar keluh kesah seorang relawan di RSUD dr Moewardi Solo. Mereka mengeluhkan banyaknya hambatan dalam memakamkan jenazah COVID-19 di daerah Sragen.

“Lalu, saya dan teman-teman Bakorlak SAR UNS berembuk dengan relawan lain dari SAR MTA," kata Supriyanto, Sabtu (29/05/2021). Mereka bersepakat untuk membantu RSUD Moewardi dalam memakamkan jenazah pasien COVID-19 yang meninggal, khususnya di wilayah Sragen.

Para relawan memakamkan jenazah pasien COVID-19 di Sragen. (dok Humas UNS)

Keterlibatan Supriyanto sendiri semua kurang mendapat dukungan dari keluarganya. Namun, setelah memberikan penjelasan, akhirnya keluarga merestuinya untuk ikut bergabung sebagai volunteer di pekerjaan penuh risiko itu.

Dalam proses penguburan jenazah pasien COVID-19, Supriyanto dan relawan dari Bakorlak SAR UNS telah dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD) dan alat kubur, seperti helm, kacamata google, sepatu boot, masker, bambu, dan tali plastik/ tambang.

Selama menjalani aktivitas itu, Supriyanto akhirnya merasakan hal-hal yang pernah dikeluhkan oleh relawan dari RSUD Moewardi. Mereka banyak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat, terutama masyarakat di sekitar lokasi pemakaman.

Perlakuan itu dihadapi dalam berbagai bentuk, mulai dari cemoohan, ancaman hingga nyaris dilempari batu. Hal itu dialaminya saat hendak menguburkan jenazah asal Madiun ke pemakaman yang ada di kawasan Gondang, Sragen.

Meski demikian, Supriyanto dan kawan-kawannya tidak menyerah. Mereka terus bekerja tanpa menerima honor dari pihak manapun. Sebenarnya, Pemkab Sragen telah menyediakan insentif bagi relawan. Namun para relawan tidak pernah mengambilnya.

"Biar dana itu untuk keperluan lain, masih banyak yang membutuhkan," kata Supriyanto.

(Agung Santoso)