Kue Moho, Kue Legendaris Yang Kian Redup

SOLO – Kue Moho, mungkin sebagian orang merasa asing dengan nama kue tersebut. Padahal, kue ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Kue ini biasa disebut dengan Hwat Kwe dalam Bahasa Mandarin. Bentuknya mirip dengan bolu kukus dan rasanya hampir sama dengan bakpao.
Memang tak afdol rasanya jika berkunjung ke Kota Solo tanpa mencicipi makanan yang satu ini. Adalah Sri Muwarti, yang sudah puluhan tahun membuat Kue Moho. Kisah Sri Muwarti dimulai saat sang anak ikut bekerja di pembutan Kue Moho selama 2 tahun.
“Awalnya dulu anak saya bekerja ditempat teman setelah lulus SMA. Selama 2 tahun ikut orang, akhirnya coba buka sendiri.” ceritanya saat ditemui Bengawan News pada Sabtu (16/3/2019).
Sri Muwarti membuka usahanya di Kampung Wirengan, Baluwarti, Solo. Sayangnya, makanan ini sudah asing di telinga masyarakat. Menurut Sri, kebanyakan pembeli kue buatannya berasal dari luar kota. Bahkan untuk warga lokal sendiri, hanya beberapa yang berminat membeli Kue Moho.
Dengan ketekunannya, Sri Muwarti masih mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan di Kota Solo, hanya ada 2 penjual Kue Moho, yaitu di Keprabon dan di Baluwarti. Kue Moho miliknya memiliki ciri khas yang ukurannya besar. Bahkan banyak yang mengira bahwa Kue Moho sama dengan bolu kukus.
“Kue Moho bahan dasarnya tape, gandum dan gula. Sedangkan bolu kukus menggunakan telur.” jelas Sri.
Dalam pembuatannya, Sri bisa menghabiskan 50 kilogram gandum untuk membuat Kue Moho, cakue, baling-baling, donat, dan kue samarinda. Untuk Kue Moho sendiri membutuhkan 10 kilogram gandum.
“1 kilogram gandum bisa mengasilkan 40 buah Kue Moho. Adonan dibuat dari jam 6 petang, sehingga besok paginya tinggal dibuat.” terangnya.
Kue Moho buatan Sri memiliki beberapa varian rasa. Jika awalnya hanya ada warna merah muda, kini juga ada cokelat dan juga diberi meses diatasnya. Toko Kue Moho Baluwarti milik Sri buka mulai pukul 09.00 sampai 14.00 WIB. (Tara Wahyu N.V.)
