Metode AVT Jadi Terapi Intervensi Dini untuk Anak dengan Gangguan Pendengaran
·waktu baca 2 menit

SOLO - Auditory-Verbal Therapy (AVT) dapat menjadi sebuah terapi intervensi dini untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran. Terapi tersebut dianggap efektif, lantaran melibatkan seluruh anggota keluarga yang kerap berinteraksi dengan anak.
Hal ini dikatakan Rini Nurbaeti selaku terapis wicara dalam Seminar ‘AVT Bekal dalam Mendampingi Anak Istimewa Menggunakan Teknologi Mendengar’ yang digelar Komunitas Difabel Dengar Solo Raya (DDSR) dan Kasoem Hearing Center di Adhiwangsa Hotel & Convention, Solo, Minggu (26/06/2022).
Menurut Rini, AVT adalah terapi untuk anak-anak gangguan pendengaran setelah menggunakan alat bantu dengar.
“Karena teknologi alat bantu pendengaran adalah salah satu faktor penentu keberhasilan pendengaran anak tersebut. Sedangkan AVT bertujuan untuk melatih pendengarannya. Jadi dibutuhkan support akses yang baik untuk menangkap konsep yang diajarkan,” jelas dia.
Keterlibatan keluarga yang mendampingi anak selama 24 jam di rumah, juga menjadi kunci penting keberhasilan terapi anak-anak dengan gangguan pendengaran.
“Jadi 95 persen yang anak dapatkan itu ada di rumah. Kelebihan AVT, metode ini benar-benar membimbing orang tua. Jadi orang tua atau anggota keluarga lain juga harus hadir. Nggak bisa cuma anak sama terapis,” urai Research and Development (R&D) Kasoem Hearing Center ini.
Rini menjelaskan, pada prinsipnya AVT akan melatih orang tua menjadi model bahasa bagi anak dengan gangguan pendengaran. Dengan demikian metode pengajaran bahasa di rumah bisa optimal.
“Di rumah saat anak main sendiri, saat ibu masak, ganti baju, apapun dan kapanpun bisa digunakan teknik itu. Tidak ada patokan waktu. Semakin banyak dia belajar, semakin banyak paparan bahasa, akan semakin bagus,” terang dia.
Penasehat Komunitas DDSR, Sukoco, menekankan pentingnya peran orang tua dalam pendampingan anak difabel.
”Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus ini belum semua siap mengetahui kondisi anak mereka. Nah, psikis orang tua ini yang perlu disiapkan karena tidak sedikit juga orang tua yang memiliki anak tuna rungu rela mengeluarkan banyak uang untuk terapi atau metode penyembuhan yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan,” papar Sukoco.
(Fernando Fitusia)
