Konten Media Partner

Pemerhati Budaya Sebut Adopsi Boneka Arwah Sudah Jamak di Jawa

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemerhati budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung Wahadi Sutirto. FOTO: dok UNS
zoom-in-whitePerbesar
Pemerhati budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung Wahadi Sutirto. FOTO: dok UNS

SOLO – Warganet tengah dihebohkan oleh praktik adopsi boneka arwah atau spirit doll, oleh sejumlah selebriti atau selebgram.

Meski baru mencuat beberapa waktu belakangan, pemerhati budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung Wahadi Sutirto, menilai jika fenomena tersebut sudah jamak terjadi di Pulau Jawa.

“Masyarakat memang sudah lama mempercayai boneka arwah. Dalam mitologi Jawa, ada perilaku supranatural menggunakan media visual, seperti boneka, untuk berdialog dengan entitas arwah,” ungkap dia, Selasa (04/01/2022).

Tundjung menyebut Jelangkung sebagai contohnya. Dalam mitologi Jawa, boneka yang terbuat dari gayung kulit kelapa dan kayu itu diyakini mampu menjadi media untuk mendatangkan arwah.

embed from external kumparan

“Jelangkung dipersonifikasikan sebagai figur laki-laki. Kalau perempuan disebut Nini Thowok.”

Menurut dia, kepercayaan terhadap kekuatan roh sudah berkembang sejak zaman Mesolitikum.

"Hadirnya Hindu-Budha semakin memperkaya kepercayaan terhadap roh yang sebelumnya sudah ada. Akhirnya terbangun harmonisasi dengan entitas roh," jelasnya.

Beberapa seni tradisional, kata Tundjung, juga tak jauh dari praktik menghadirkan roh. “Di Jawa kesenian itu misalnya Jathilan, Sintren, Jaran Kepang dan sebagainya,” terang dia.

Penggunaan kekuatan spiritual dalam konteks historis perilaku, disebut Tundjug, sering muncul dalam masa-masa krisis. “Seperti krisis ekonomi tahun 1929, yang mempopulerkan visualisasi makhluk halus yang dikenal sebagai Nyi Blorong,” paparnya.

Atas penilaian tersebut, Tundjung menganggap jika esensi dari fenomena adopsi boneka arwah ini terus bertahan sejak dulu. “Era mistis selalu ada dan berkembang sesuai konteks zamannya,” tegas Tundjung.

(Agung Santoso)