Konten Media Partner

Ramadan, Pelukis Piring Kaligrafi Asal Solo Kebanjiran Pesanan

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fairus Ali Ba'sir mengerjakan kerajinan tangan kaligrafi di tempat produksinya. FOTO: Fernando Fitusia
zoom-in-whitePerbesar
Fairus Ali Ba'sir mengerjakan kerajinan tangan kaligrafi di tempat produksinya. FOTO: Fernando Fitusia

SOLO - Ramadan mendatangkan berkah bagi Fairus Ali Ba’sir, pemilik kerajinan tangan kaligrafi di media piring bekas asal Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo.

Usaha kerajinannya kebanjiran pesanan, terutama kaligrafi yang berlafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’.

Alhamdulillah, pesanan lafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ dari piring atau kayu buat hiasan dinding banyak pesanan. Baik dari Jogja maupun Solo. Sejak 3 hari ini, sudah dapat pesanan kurang lebih 20 pasang,” kata Fairus.

Kerajinan kaligrafi bernuansa Islami, diakuinya, memang laris selama bulan puasa.

“Biasanya kalau di bulan Ramadan saya memang mesti bikin tulisan ‘Allah’ dan ‘Muhammad’. Mungkin karena berbau Ramadan, jadi banyak yang suka.”

Kerajinan piring kaligrafi itu dikerjakan Fairus seorang diri. Dalam sehari, ia dapat menyelesaikan 5-10 pasang piring kaligrafi berlafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’.

"Piring yang dipakai bisa piring bekas maupun baru. Bisa berbahan porselen, bisa juga piring gembreng dari kayu," jelasnya.

Dalam sehari, Fairus Ali Ba’sir bisa menyelesaikan 5-10 piring kaligrafi. FOTO: Fernando Fitusia

Adapun cat yang dipakai untuk melukis lafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’, Fairus menggunakan cat enamel dan besi. “Kalau untuk melukis bunga-bunga di samping lafaz, pakai cat khusus.”

Seluruh karya Fairus dipasarkan melalui akun Instagram @fairusartt. Sepasang piring kaligrafi berlafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ dihargainya Rp 75 ribu.

Fairus sudah menekuni lukis dengan media barang-barang bekas sejak 7 tahun lalu. Selain piring, ia kerap melukis di peralatan rumah tangga lain seperti teko dan lampu badai.

“Saya dari dulu memang suka melukis. Saat lihat barang bekas banyak yang dibuang, kok rasanya eman-eman (sayang). Akhirnya saya cuci, saya kasih motif-motif seperti bunga untuk hiasan,” jelasnya.

(Fernando Fitusia)