Konten Media Partner

Sosok Saifuddin Ibrahim di Mata Adik Tingkatnya: Murah Senyum, Tidak Jaga Image

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saifuddin Ibrahim. FOTO: Tangkap layar Youtube Saifuddin Ibrahim
zoom-in-whitePerbesar
Saifuddin Ibrahim. FOTO: Tangkap layar Youtube Saifuddin Ibrahim

SUKOHARJO - Pendeta Saifuddin Ibrahim atau dikenal dengan nama Abraham Ben Moses kembali menghebohkan masyarakat, saat meminta 300 ayat Al-Quran dihapus.

Diketahui, Saifuddin merupakan lulusan pondok Hajjah Nuriyah Shabran-Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan 1984.

Adik tingkat Saifuddin, Budi Nurastomi Bintriman mengungkapkan jika pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut adalah sosok yang ramah.

Budi dan Saifuddin hanya berbeda angkatan 2 tahun. Budi merupakan alumni Pondok Shabran angkatan 1986.

embed from external kumparan

"Sebagai mahasantri junior, aku memandang Saifudin Ibrahim adalah tipe kakak tingkat yang murah senyum dan tidak jaga image terhadap adik-adik tingkatnya. Ternyata ia memang bersikap begitu kepada siapa saja," kenang Budi, Sabtu (19/03/2022).

Menurut Budi, sifat Saifudin yang periang menjadikannya cepat dikenal para adik tingkat. "Sehingga banyak sekali yang suka dengan keramahannya."

Saifuddin juga kerap dipanggil ‘Bang Kocek’ oleh adik tingkatnya. Nama panggilan itu adalah nama pena Saifudin.

"Saat itu ia juga menjadi penanggung jawab rubrik di media pers mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran-UMS,” ungkapnya.

Budi menganggap, Saifudin adalah kader yang memiliki jaringan luas. Terbukti saat Saifuddin menikah, petinggi pondok hadir dalam pernikahan yang diselenggarakan di Jepara tersebut. “Bahkan penceramah nasihat perkawinannya adalah pucuk pimpinan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran-UMS," kata dia.

Pada 1994, Budi mengabdi di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Sawangan Bogor milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta. Saifuddin, disebut Budi, juga mengabdi di pondok yang sama sejak beberapa tahun sebelumnya.

Saat itu, kata Budi, pesantren tersebut tengah disusupi paham Negara Islam Indonesia Komando Wilayah Sembilan (NII KW IX) pimpinan Abu Toto atau Panji Gurmilang.

"Konon kabarnya, paham itu dibawa atau disusupkan oleh Saifudin. Rupanya sebelum murtad, ia sudah tersesat terlebih dahulu di NII KW IX itu," urai Budi.

Budi bahkan mengaku terkejut saat terakhir bertemu Saifuddin pada 1995. Sebab penampilan Saifuddin sangat parlente.

“Baju, celana, sepatu, sabuk gesper dan arlojinya, semuanya branded. Ia juga pakai cincin emas yang sangat mencolok. Sesuatu hal yang tak terbayangkan bisa nempel pada diri Bang Kocek saat di pondok dulu,” bebernya.

Di pinggang Saifuddin juga terselip alat komunikasi pager, yang dianggap canggih pada 1980-an.

“Kendaraan yang dipakainya pun motor Honda GL 125 cc keluaran terbaru. Motor impian anak-anak muda yang hobi nampang," lanjutnya.

Hingga akhirnya pada 2014, Budi memperoleh kabar jika Saifuddin telah murtad. Pemberi kabar tersebut adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Al-Zaitun Indramayu.

(Tara Wahyu)