Konten Media Partner

Suka Masak, Warga Jepang Berjualan Takoyaki di Solo

Bengawan Newsverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hada Hiroshi dan Nurul Dewi Saraswati.
zoom-in-whitePerbesar
Hada Hiroshi dan Nurul Dewi Saraswati.

SOLO - Dua tahun menetap di Indonesia dan bertinggal di Bekonang, Sukoharjo, membuat Hada Hiroshi (62) warga asli Jepang memutuskan berjualan Takoyaki. Hada sendiri berjualan Takoyaki ditemani sang istri Nurul Dewi Saraswati (41). Warga asli Jepang tersebut memutuskan menyusul istrinya yang merupakan warga negara asli Indonesia setelah pensiun dari pekerjaannya di Jepang. Terbiasa bekerja dari pagi hingga malam hari membuat Hadi tidak betah jika tidak bekerja. Hal itu diungkapkan sang istri yang mewakili Hada yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

"Tahun 2016 saya balik ke Indonesia, tapi suami masih di Jepang. Tahun 2017 dia menyusul ke Indonesia karena nunggu pensiun. Selama di Jepang biasa kerja dari pagi sampai malam. Disini kalau tidak kerja tidak biasa," ungkap Nurul, saat bisa ditemui, Senin (25/11) malam.

Lanjut Nurul, Hada juga pernah membantu tetangga bersih-bersih kebun, tapi itu tidak bertahan lama. Tak lama, Hada membuka usaha Takoyaki di Bekonang. bermodalkan hobi masak sewaktu di Jepang, jualannya laris. Hada mulai berjualan sejak pukul 15.00 wib dan bisa ludes dalam hitungan jam.

"Jualan dari jam 3 sore, nanti selesai maghrib sudah habis," ujarnya.

Hada Hiroshi saat berjualan takoyaki. (Tara Wahyu)

Setelah berjualan di Bekonang, Nurul memutuskan untuk pindah tempat jualan ke Pucang Sawit, Jebres, di depan rumah ibunya. Setelah pindah tempat, kini dirinya membuka menu baru yaitu Ramen. Nurul dan suami selalu mempunyai ciri khas tersendiri untuk mengucapkan terimakasih kepada pengunjungnya. Sang suami selalu mengucapakan terimakasih dalam bahasa Indonesia dan membungkukkan Badan.

Kebiasaan masak Hada sering ia tunjukkan saat musim panas tiba. Cerita Nurul, Hada sering memasak saat sedang ada acara dengan rekan satu kantornya. Hada bahkan selalu ditunjuk sebagai juru masak saat acara berlangsung.

Siapa sangka, sejak mempersunting Nurul 2002 lalu, hingga sampai saat ini Hada tidak bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Sebelumnya, Hada sempat belajar bahasa Indonesia, namun karena faktor umur dirinya susah untuk menghafal.

"Dulu bawa kertas untuk dihafalkan, tapi sekarang sudah enggak. Awal di Indonesia, setiap pergi kewarung atau komunikasi itu pakai handphone buat translate," cerita Nurul.

Bahkan saat di kampung halaman sang istri, Hada sering menjadi bahan lelucon oleh anak-anak. Tak jarang banyak mereka yang menggoda Hada karena tak fasih bahasa Indonesia.

"Anak-anak disana sering menggoda dengan panggilan 'takoyaki-takoyaki'. Kalau pergi ke warung itu biasanya suka nunjukin hp buat translate, tapi sekarang sudah biasa jadi sudah pada tahu," Katanya.

(Tara Wahyu)