Video: Melihat Pembuatan Batik Abstrak, di Kampung Batik Laweyan
SOLO - Batik merupakan sebuah warisan budaya, terdapat beragam motif batik yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah motif batik kontemporer atau abstrak yang dapat kita jumpai di Batik Pandono Abstrak di Kampung Batik Laweyan, Solo. Di Batik Pandono Abstrak kita dapat menjumpai beragam batik dengan motif yang abstrak atau kontemporer.
Batik abstrak berbeda dengan batik motif klasik atau tradisional. Batik motif abstrak memiliki warna yang lebih cerah dan bernuansa modern. Batik motif abstrak terdiri dari perpaduan warna yang indah dan juga beragam.
Proses pembuatannya tidak berbeda jauh dengan batik motif klasik atau motif tradisional. Bedanya pada saat menggoreskan canting di atas kain tidak ada pakem tertentu. Sang pembatik hanya mengikuti imajinasi yang ada di fikirannya kemudian di tuangkan ke dalam kain.
Pandono, pemilik Batik Pandono Abstrak menceritakan awal mula menggeluti dunia batik adalah warisan dari orang tuanya yang diturunkan dari generasi ke generasi.
“Jadi dari awalnya memang orang tua saya sudah berkecimpung di dunia batik. Saya hanya melanjutkan, kebetulan saja saya menggelutinya dibidang abstrak atau kontemporer,” jelas Pandono.
Pandono menambahkan, dirinya mulai fokus menekuni batik baru sejak tahun 2000. Pandono hanya mengaplikasikan karya para pendahulunya, kemudian diberikan sedikit penambahan agar lebih bisa mengikuti selera pasar.
“Saya tidak menciptakan tapi saya hanya mengaplikasikan karya para pendahulu, kemudian saya menambah-menambahi supaya lebih elegan atau lebih bisa mengikuti arah pasar,” terang Pandono.
Dari segi harga, Pandono menjual karya batik abstraknya mulai dari harga Rp 200.000/2 Meter kain batik. Harga ini menurut Pandono sudah sesuai karena yang dijual adalah seni dan juga desain. Dari batik abstrak ini Pandono kemudian mengaplikasikannya ke dalam suatu bentuk pakaian atau fashion supaya lebih bisa diterima di pasar. Bagi yang ingin melihat dan membeli karya Batik Abstrak Pandono dapat dikunjungi di Setono, RT 02 RW 02, Laweyan, Solo.
(Fernando Fitusia)
