News
·
21 Februari 2021 9:03

Viral di TikTok, Burung Jalak Lawu Tolong Pendaki yang Tersesat

Konten ini diproduksi oleh Bengawan News
Viral di TikTok, Burung Jalak Lawu Tolong Pendaki yang Tersesat (31996)
Ilustrasi pendakian Gunung Lawu (dok)
KARANGANYAR-Seorang pendaki tersesat saat mendaki Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beruntung, dia ditolong oleh seekor burung Jalak Lawu. Burung itu menjadi penunjuk jalan bagi pendaki yang tersesat itu.
ADVERTISEMENT
Pendaki itu lantas mengunggah video pengalamannya itu melalui aplikasi TikTok melalui akun @mocha-doang. Dalam waktu tiga hari, foto itu menarik perhatian netizen dengan memberikan nyaris 10 ribu tombol suka dan ratusan komentar.
Video tersebut memperlihatkan suasana hutan perdu di Lereng Lawu. Dua orang pendaki, termasuk pengambil gambar, berjalan dengan mengikuti seekor burung. Bukannya terbang, burung itu berlompatan di tanah seolah membimbing kedua pendaki itu.
Pemilik akun mengaku memang sedang tersesat saat mendaki gunung. Tiba-tiba, burung itu muncul dan memberikan petunjuk jalan. "Burung itu berhenti saat kami capek," katanya.
Saat mereka mulai berjalan, burung itu berlompatan di depan mereka. Setelah hampir tiba di puncak, burung itu lantas terbang menjauh.
Mitos Jalak Lawu sebagai penolong pendaki yang tersesat sudah lama menjadi mitos bagi para pendaki. "Jalak Lawu memang biasa berinteraksi dengan manusia, terutama pendaki," kata salah satu relawan Anak Gunung Lawu (AGL), Budi Santoso, Sabtu (20/02).
ADVERTISEMENT
Burung berwarna coklat itu biasa ditemui dalam perjalanan, mulai dari pos pendakian hingga puncak gunung. Selain terbang dan hinggap di dahan pohon, dia sering melihatnya lebih banyak berada di bawah atau tanah untuk mencari makan berupa cacing.
Pelaksana Tugas Kepala Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Sudadi mengatakan Jalak Lawu masuk dalam kategori satwa dilindungi.
Hanya saja, dia mengaku belum memiliki data populasi burung endemik Gunung Lawu itu. "Jumlahnya kami belum mengetahuinya secara detail," katanya. Menurut Sudadi, perlu pengamatan dan monitoring yang cukup lama untuk mengetahui jumlah populasi burung di gunung.
(Agung Santoso)