Konten dari Pengguna

Cognitive Appraisal: Cara Kita Memaknai Sebuah Kenyataan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Embun Bening Di Moravia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/photos/human-head-made-from-jigsaw-puzzles-on-purple-background-3d-render-_kirRoOj0vA
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/photos/human-head-made-from-jigsaw-puzzles-on-purple-background-3d-render-_kirRoOj0vA

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut cognitive appraisal (Lazarus dan Folkman (1984)), yaitu proses ketika seseorang menilai dan memaknai suatu peristiwa berdasarkan bagaimana ia memahami situasi tersebut dan apa arti situasi itu bagi dirinya.

Dengan kata lain, respons emosional kita tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi, tetapi juga dengan bagaimana kita menafsirkan kejadian tersebut.

Misalnya, dua orang penggemar mengetahui bahwa idol yang mereka sukai pernah menjalin hubungan romantis. Penggemar pertama mungkin menganggap informasi tersebut sebagai bagian biasa dari kehidupan idolanya. Sementara itu, penggemar kedua bisa merasa cemburu, kecewa, atau kehilangan suasana hati setelah mengetahuinya.

Informasi yang mereka terima sama, tetapi pengalaman emosional mereka belum tentu sama.

Perbedaan ini bukan berarti penggemar kedua tidak memahami bahwa idolanya berhak memiliki kehidupan pribadi. Ia bisa saja sepenuhnya menyadari hal tersebut, tetapi informasi yang diterimanya tetap memiliki makna emosional tertentu baginya.

Bisa jadi, kabar itu membuat gambaran yang selama ini terbentuk tentang idolanya terasa berbeda. Bisa juga ada keterikatan emosional atau ekspektasi tertentu yang baru disadari setelah informasi tersebut muncul. Namun, kita tidak bisa memastikan penyebabnya tanpa memahami pengalaman masing-masing individu.

Di sinilah cognitive appraisal menjadi relevan. Cara kita memaknai sebuah peristiwa turut berperan dalam membentuk respons emosional terhadapnya. Memahami bahwa suatu kejadian adalah hal yang wajar tidak selalu berarti kita akan langsung merasa nyaman ketika mengalaminya.

Kita bisa menilai suatu keadaan sebagai sesuatu yang tidak salah, tetapi tetap merasakan kesedihan, kecemburuan, atau kekecewaan. Penilaian rasional dan respons emosional bukanlah dua hal yang selalu bergerak secara bersamaan.

Karena itu, rasa sesak ketika mengetahui masa lalu percintaan seorang idol tidak otomatis menunjukkan bahwa kita menganggap idol tersebut bersalah. Perasaan itu bisa menjadi petunjuk untuk mengenali bagaimana kita memaknai informasi tersebut, bukan bukti bahwa penilaian kita terhadap kenyataan harus ikut berubah.

Memahami proses ini bukan berarti kita harus membenarkan setiap perasaan atau menuruti semua dorongannya. Sebaliknya, kita bisa menggunakan perasaan tersebut sebagai kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri.

"apa sebenarnya yang membuat informasi ini terasa berarti bagi gue?"

Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang. Dan justru dengan mengenali perbedaan itu, kita bisa mulai memahami emosi tanpa buru-buru menghakimi diri sendiri maupun orang lain.