Konten dari Pengguna

Peran Interaksi Sosial dalam Mengelola Kekosongan Emosional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Embun Bening Di Moravia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.unsplash.com/photo-1562646329-0d0f4d3bf503?q=80&w=1170&auto=format&fit=crop&ixlib=rb-4.1.0&ixid=NHwxMjA3fDA%3D
zoom-in-whitePerbesar
https://images.unsplash.com/photo-1562646329-0d0f4d3bf503?q=80&w=1170&auto=format&fit=crop&ixlib=rb-4.1.0&ixid=NHwxMjA3fDA%3D

Pernahkah kalian merasa bahagia ketika berkumpul bersama teman, tetapi kembali merasa kosong saat sendirian? Tawa dan percakapan memang dapat menghadirkan kebahagiaan, tetapi perasaan tersebut terkadang hanya bertahan selama interaksi berlangsung.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian orang memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan, tugas, atau menghabiskan waktu bersama teman untuk mengalihkan perhatian dari kesedihan. Namun, ketika aktivitas berakhir, perasaan kosong terkadang kembali muncul. Fenomena ini dapat dipahami melalui psikologi sosial, terutama terkait kebutuhan manusia akan hubungan interpersonal dan dukungan emosional.

Dalam psikologi sosial, kebutuhan untuk menjalin hubungan yang positif dan berkelanjutan dikenal sebagai need to belong. Baumeister dan Leary (1995) menjelaskan bahwa kebutuhan untuk memiliki ikatan interpersonal merupakan salah satu motivasi mendasar manusia.

Kebutuhan tersebut bukan sekadar keinginan untuk memiliki banyak teman, melainkan juga untuk merasa diterima, dihargai, dan memiliki hubungan yang bermakna. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, hubungan sosial dapat menjadi sumber kenyamanan emosional.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan tersebut dapat terlihat ketika seseorang memilih menemui temannya saat sedang sedih. Percakapan sederhana dan kebersamaan dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi. Namun, kehadiran orang lain belum tentu sepenuhnya memenuhi kebutuhan akan kedekatan emosional.

Dukungan Sosial dan Pengelolaan Emosi

Dukungan sosial merupakan salah satu sumber daya yang membantu individu menghadapi tekanan emosional. Cohen dan Wills (1985) menjelaskan bahwa dukungan sosial dapat berperan sebagai penyangga terhadap dampak negatif stres. Dukungan tersebut tidak selalu berupa nasihat, tetapi juga dapat berbentuk perhatian, kesediaan mendengarkan, dan kebersamaan.

Selain mencari dukungan sosial, individu juga dapat menyibukkan diri untuk mengelola emosi. Dalam psikologi, proses ini dikenal sebagai emotion regulation atau regulasi emosi. Gross (1998) menjelaskan bahwa regulasi emosi mencakup berbagai proses yang mempengaruhi bagaimana seseorang mengalami dan mengekspresikan emosinya, termasuk melalui pengalihan perhatian.

Menyelesaikan pekerjaan atau menghabiskan waktu bersama teman dapat memberikan kelegaan sementara. Namun, pengalihan perhatian tidak selalu menyelesaikan persoalan yang mendasari kesedihan. Ketika aktivitas berakhir, perasaan yang sebelumnya teralihkan mungkin kembali muncul. Oleh karena itu, selain mencari pengalihan, individu juga perlu mengenali dan memahami emosinya.

Mengapa Kesepian Dapat Kembali Meski Dikelilingi Teman?

Memiliki banyak teman tidak selalu membuat seseorang terbebas dari kesepian. Hawkley dan Cacioppo (2010) menjelaskan bahwa kesepian berkaitan dengan persepsi individu terhadap keterhubungan sosial yang dimilikinya, bukan semata-mata keadaan ketika seseorang sedang sendirian.

Seseorang mungkin menikmati kebersamaan dengan teman, tetapi tetap merasa belum memiliki hubungan yang cukup dekat untuk berbagi perasaan. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah interaksi sosial tidak selalu mencerminkan kualitas hubungan emosional.

Kesepian juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kehilangan hubungan, perubahan lingkungan, dan tekanan kehidupan. Karena itu, pengalaman kesepian setiap individu dapat berbeda dan tidak selalu memiliki penyebab yang sama.

Memahami Kebutuhan Emosional di Balik Kesepian

Menghadapi kesepian tidak selalu berarti memperbanyak pertemanan atau mencari pasangan. Mengenali kebutuhan emosional menjadi langkah penting untuk memahami perasaan yang dialami. Individu dapat mulai memperhatikan situasi yang memicu kesedihan serta bentuk interaksi yang membuatnya merasa nyaman dan diterima.

Hubungan sosial yang suportif dapat membantu individu menghadapi tekanan emosional. Namun, apabila perasaan kosong dan kesedihan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional, seperti berkonsultasi dengan psikolog, dapat menjadi pilihan.

Interaksi sosial dapat menjadi sumber kenyamanan sekaligus jeda dari kesepian. Namun, kelegaan yang diperoleh melalui kebersamaan tidak selalu menghilangkan perasaan kosong yang mendasarinya.

Melalui perspektif psikologi sosial, kesepian dapat dipahami sebagai pengalaman yang berkaitan dengan kebutuhan akan hubungan bermakna, dukungan sosial, dan keterhubungan emosional. Dengan mengenali kebutuhan tersebut, individu dapat lebih memahami perasaannya serta menemukan bentuk dukungan yang sesuai.