Tidak Semua yang Kita Takutkan Akan Terjadi

Mahasiswi Fakultas Psikologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Embun Bening Di Moravia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengalaman putus cinta tidak selalu selesai bersamaan dengan berakhirnya sebuah hubungan. Ada kalanya, seseorang sudah meninggalkan masa lalunya, tetapi rasa takut yang muncul dari pengalaman tersebut masih terbawa ke hubungan berikutnya.
Perasaan itu bisa muncul dalam bentuk kekhawatiran sederhana: takut pasangan mulai bosan, cemas melihat perubahan sikap, hingga terus meminta kepastian bahwa hubungan akan baik-baik saja. Padahal, belum tentu ada masalah yang sedang terjadi.
Bagi sebagian orang, ketidakpastian semacam ini terasa lebih menakutkan daripada yang terlihat. Bukan semata-mata karena mereka terlalu bergantung pada pasangan, melainkan karena pengalaman sebelumnya membuat kemungkinan kehilangan terasa semakin nyata.
Luka Lama dan Ketakutan yang Terulang
Perpisahan dapat meninggalkan berbagai pertanyaan, terutama jika alasan berakhirnya hubungan sulit dipahami. Seseorang mungkin mulai mempertanyakan apa yang salah, apakah dirinya kurang baik, atau mengapa orang yang pernah mencintainya akhirnya memilih pergi.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan. Akibatnya, pengalaman lama bisa mempengaruhi cara seseorang memandang hubungan baru.
Perubahan kecil dalam komunikasi, misalnya, dapat memicu kekhawatiran berlebihan. Pasangan yang sedang sibuk mungkin dianggap mulai menjauh. Balasan pesan yang lebih singkat bisa ditafsirkan sebagai tanda kebosanan. Pikiran pun bergerak lebih cepat daripada fakta yang tersedia.
Dalam psikologi, kecenderungan merasa cemas terhadap kemungkinan penolakan atau kehilangan kedekatan dapat berkaitan dengan attachment anxiety, yaitu kecemasan dalam keterikatan emosional. Orang dengan kecenderungan ini mungkin lebih sensitif terhadap perubahan dalam hubungan dan membutuhkan kepastian lebih sering untuk merasa aman.
Meski demikian, pengalaman putus cinta tidak otomatis menyebabkan seseorang memiliki pola keterikatan tertentu. Respons terhadap kehilangan dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk pengalaman hidup, lingkungan, dan cara individu memaknai hubungan.
Ingin Diperjuangkan, tetapi Takut Tidak Dipilih
Keinginan untuk merasa dicintai dan dihargai merupakan hal yang wajar. Dalam hubungan, seseorang ingin mengetahui bahwa dirinya berarti bagi pasangan dan bahwa hubungan tersebut dijalani atas keinginan kedua belah pihak.
Masalahnya, kebutuhan untuk merasa dipilih terkadang bercampur dengan ketakutan akan penolakan. Alih-alih mengungkapkan perasaan secara langsung, seseorang mungkin menguji pasangannya untuk mengetahui seberapa besar keinginannya mempertahankan hubungan.
Salah satu contohnya adalah meminta putus bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hubungan, melainkan untuk melihat apakah pasangan akan berusaha mencegah perpisahan.
Penolakan pasangan terhadap permintaan putus bisa memberikan rasa lega. Sebaliknya, jika pasangan akhirnya menerima keputusan tersebut, muncul kekecewaan karena respons itu terasa seperti tanda bahwa dirinya tidak cukup berarti.
Padahal, menerima permintaan putus tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Ia mungkin memilih menghormati keputusan pasangannya atau merasa bahwa hubungan tersebut memang sudah tidak dapat dilanjutkan.
Perbedaan antara kebutuhan emosional dan cara menyampaikannya inilah yang kerap menimbulkan kesalahpahaman. Keinginan untuk diyakinkan justru disampaikan melalui tindakan yang berpotensi menjauhkan dua orang.
Mencari Kepastian yang Tak Pernah Bertahan Lama
Kecemasan dalam hubungan dapat mendorong seseorang mencari kepastian berulang kali. Ia mungkin bertanya apakah pasangannya masih sayang, meminta janji agar tidak ditinggalkan, atau terus memikirkan kemungkinan terburuk meskipun belum ada tanda yang jelas.
Jawaban yang menenangkan memang bisa meredakan kecemasan untuk sementara. Namun, jika sumber ketakutannya belum dipahami, keraguan yang sama dapat kembali muncul dalam situasi berikutnya.
Pola ini berisiko melelahkan kedua pihak. Seseorang terus membutuhkan diyakinkan, sedangkan pasangannya mungkin merasa harus berulang kali membuktikan bahwa hubungan mereka masih baik-baik saja.
Bukan berarti kebutuhan akan kepastian merupakan sesuatu yang keliru. Komunikasi dan kejelasan justru penting dalam hubungan yang sehat. Persoalannya terletak pada cara seseorang menghadapi ketidakpastian dan apakah kecemasan tersebut mulai mempengaruhi perilakunya terhadap pasangan.
Memahami alasan di balik ketakutan dapat membantu seseorang mengenali pola tersebut tanpa harus menyalahkan dirinya sendiri. Perasaan yang muncul mungkin memiliki latar belakang, tetapi tindakan yang diambil tetap dapat dipelajari dan diubah.
Belajar Merasa Aman Tanpa Harus Menguji Cinta
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membedakan fakta dari asumsi. Saat muncul pikiran bahwa pasangan mulai bosan, seseorang dapat berhenti sejenak dan mempertimbangkan apakah ada bukti nyata yang mendukung kekhawatiran tersebut.
Bukan untuk mengabaikan tanda-tanda hubungan yang bermasalah, melainkan agar keputusan tidak semata-mata didasarkan pada rasa takut.
Kebutuhan emosional juga dapat disampaikan secara lebih terbuka. Daripada menguji apakah pasangan akan bertahan, seseorang dapat menjelaskan bahwa dirinya sedang merasa cemas dan membutuhkan kejelasan. Cara ini memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk membicarakan kebutuhan masing-masing tanpa ancaman perpisahan.
Di sisi lain, membangun rasa aman juga berarti memahami bahwa nilai diri tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan orang lain. Penolakan memang menyakitkan, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang kurang baik atau tidak layak dicintai.
Proses ini membutuhkan waktu. Tidak semua ketakutan dapat hilang hanya melalui satu percakapan atau satu hubungan yang berjalan baik. Namun, kesadaran terhadap pola diri sendiri merupakan langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Jika kecemasan terus mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.
Tidak Semua Hubungan Baru Harus Berakhir dengan Luka yang Sama
Pengalaman masa lalu memang dapat mempengaruhi cara seseorang mencintai, tetapi pengalaman tersebut tidak harus menentukan akhir dari hubungan berikutnya.
Orang yang hadir hari ini bukanlah orang yang sama dengan mereka yang pernah menyakiti kita. Karena itu, hubungan baru perlu dinilai berdasarkan perilaku dan kenyataan yang ada, bukan hanya berdasarkan kemungkinan buruk yang dibayangkan.
Tidak ada hubungan yang dapat menjamin bahwa seseorang akan selalu tinggal. Namun, ketidakpastian itu bukan alasan untuk terus-menerus hidup dalam kecemasan atau mempersiapkan diri menghadapi perpisahan sebelum masalah benar-benar muncul.
Mencintai setelah mengalami kekecewaan membutuhkan keberanian untuk membuka diri sekaligus kesediaan memahami batas diri sendiri. Ada kebutuhan yang perlu dikomunikasikan, ketakutan yang perlu dikenali, dan pola yang mungkin perlu diubah.
Merasa aman dalam hubungan bukan hanya tentang mengetahui bahwa seseorang memilih untuk bertahan. Rasa aman juga tumbuh dari pemahaman bahwa diri tetap berharga, bahkan jika suatu hari hubungan yang dijalani tidak berakhir seperti yang diharapkan.
