Information Overloaded

Tulisan dari Benny Sudrata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasokan informasi pada saat ini sudah begitu dahsyat. Per hari mungkin ada triliunan konten berseliweran di dunia maya yang ingin dibaca, dilihat, atau didengarkan.
Namun jumlah konten yang demikian banyak itu tidak semua bermutu baik, tidak sesuai dengan yang diinginkan, atau penerimanya sudah tidak punya waktu untuk melihat, membaca, atau mendengar. Akibatnya: Terjadi OVER SUPPLY konten. Keadaan inilah yang akan saya bahas di dalam tulisan ini.
Istilah Information Overload (IO) pertama kali ditulis Bertram Gross di dalam bukunya yang terbit pada tahun 1964, The Managing of Organization, kemudian dipopulerkan oleh Alvin Toffler di dalam buku best seller-nya tahun 1970, Future Shock, yang saya baca sekitar tahun 1978.
Pengertian IO per definisi jika dilihat dari aspek waktu dan sumber daya adalah sbb:
IO is a state in which a decision-maker faces a set of information (I.e., an information load with informational characteristics such as an amount, a complexity, and a level of redundancy, contradiction, and inconsistency) comprising the accumulation of individual information cues of differing size and complexity that inhibit the decision maker’s ability to optimally determine the best possible decision.
The probability of achieving the best possible decision is defined as decision-making performance. The suboptimal use of information is caused by the limitation of scarce individual resources. A scarce resource can be limited individual characteristics (such as serial processing ability, limited short-term memory) or limited task-related equipment (e.g., time to make a decision, budget). Definisi ini saya kutip dari Wikipedia, INFORMATION OVERLOADED.
Pada saat ini untuk memproduksi konten bisa dilakukan dengan biaya yang sangat murah, dengan HP kita bisa membuat konten dalam bentuk gambar, video, teks atau suara. Cukup dengan aplikasi WA.
Dan konten-konten seperti ini dalam bilangan milidetik sudah bisa dikirimkan ke manapun di belahan dunia ini, selama tempat yang dituju mempunyai jaringan internet. Untuk konten-konten yang berbiaya lebih besar, pasti dibutuhkan usaha dan biaya yang lebih besar pula.
Namun demikian seperti kita ketahui bersama sekarang dengan kemampuan Teknologi Informasi yang kita miliki, kendala untuk memproduksi/mereproduksi dan menyebarkan konten secara luas dan cepat sudah bukan merupakan kendala lagi. Tapi yang menjadi permasalahan kita sekarang adalah: Mutu konten, yang disebarluaskan apakah memang dibutuhkan oleh masyarakat.
Saya sering menerima e-mail yang saya tidak kenal siapa pengirimnya, tawaran-tawaran produk dari brand yang dijual, walaupun saya tidak butuhkan, teks-teks yang sengaja dikirimkan lewat aplikasi-aplikasi tertentu untuk menawarkan barang, pinjaman, asuransi, dll, setiap hari bisa ratusan banyaknya. Hal seperti ini sering menjadikan saya seperti pembersih sampah konten yang masuk tanpa izin.
Sekarang saya kalau berbelanja barang di toko-toko sering sekali dimintai alamat e-mail, akhir-akhir ini tidak saya berikan karena kalau saya berikan maka akan bertambahlah jumlah e-mail yang harus saya hapus karena tidak berguna, junk mail.
Ada penulis yang mengatakan IO di dalam zaman modern ini karena adanya kegagalan dalam memfilter (filter failure) dari pembuat konten dan sekaligus penerima konten. Beliau rupanya menghendaki pembuat konten menjadi EDITOR YANG BAIK, bisa memilah-milah mana konten yang layak ditayangkan dan mana konten yang tidak layak untuk ditayangkan sekaligus penerima konten juga harus bijak dalam memilih apa yang harus dibaca dan apa yang harus di-sharing.
Dengan besarnya volume konten yang berkeliaran di dunia maya dan audiensnya berjumlah lebih sedikit maka muncul masalah hukum ekonomi, dalam bahasa kerennya “ATTENTION ECONOMY”, DI MANA ATENSI SESEORANG TERHADAP KONTEN DIPERLAKUKAN SEBAGAI SUMBER DAYA EKONOMI YANG LANGKA, HARUS DIPEREBUTKAN DAN BERHARGA.
Fenomena ini muncul disebabkan beberapa aplikasi yang beredar sekarang, terutama aplikasi yang berhubungan dengan transaksi IKLAN, menghitung biaya yang dibebankan ke pengiklan didasarkan dengan jumlah audiens yang mengakses konten yang di tayangkan.
Di dalam ekonomi konvensional, hukum permintaan dan penawaran banyak ditentukan oleh ketersediaan/kelangkaan barang, barang dari sisi pasokannya, semakin langka barang yang ditawarkan dibandingkan dengan permintaan maka harga barang tersebut semakin mahal demikian pula sebaliknya.
Berbeda dengan informasi, pasokannya boleh dikatakan tidak terhingga karena biaya produksinya kecil sekali, namun yang bisa ditarik untuk mengakses dan mengkonsumsi kecil sekali maka atensi terhadap konten menjadi ajang perebutan, sehingga atensi dari calon konsumen saja sudah menjadi komoditi yang diperebutkan di dalam dunia maya.
Sebenarnya fenomena ini sudah terjadi pula pada industri-industri yang mempunyai karakter pasar persaingan yang sangat ketat (red ocean).
Keadaan di mana atensi saja sudah mempunyai nilai ekonomi, ini hanya dimungkinkan di dalam industri sosial media, di mana tingkat keberhasilan untuk mengubah audiens menjadi pembeli adalah sangat kecil dengan biaya yang relatif juga kecil bila dibandingkan dengan media TV.
Jangkauan audiens, potensinya besar walaupun tingkat potensi menjadi efektifnya kecil. Industri media sosial mempunyai karakter biaya yang tidak linier, jadi biaya per satuan produk di dalam satu periode waktu, yang dikeluarkan akan menjadi semakin murah bila penggunanya semakin banyak karena hampir semua biayanya adalah biaya tetap dalam kaitannya periode waktu tertentu.
Dengan banjirnya informasi di dunia maya yang kebanyakan tanpa kontrol mengakibatkan orang bisa saja setiap saat menelan informasi-informasi yang sangat dangkal atau informasi yang menyesatkan. Dengan hanya menekan huruf/angka pada keyboard kita langsung bisa mendapatkan informasi apa saja yang kita butuhkan dalam sekejap. Masalah informasi itu akurat atau tidak, bermutu atau tidak dan melanggar hukum atau tidak, bukan tanggung jawab pembuat konten dan bukan pula menjadi tanggung jawab dari penyelenggara website (kecuali untuk media berkredibilitas tinggi) atau mesin pencari.
Beberapa penulis sangat khawatir dengan gejala ini. Orang-orang yang terekspose dengan email atau sumber-sumber yang dihasilkan teknologi informasi akan terpengaruh dalam hal proses berpikir, terganggu di dalam berpikir secara mendalam dalam suatu isu tertentu sehingga sulit untuk bisa mengerti suatu masalah secara komprehensif yang berakibat sulit untuk mempertahankan ingatan mengenai isu yang bersangkutan dalam jangka panjang.
Hal ini saya pernah rasakan pada saat saya masih di bangku sekolah menengah, pada saat itu sudah ada kalkulator, namun demikian, kami tidak diperkenankan menggunakan kalkulator untuk menghitung, kami tetap harus menggunakan cara-cara konvensional dengan metode PIPO LONDO (ping, poro, lan, sudo, ini Bahasa Jawa, dalam Bahasa Indonesia-nya: Perkalian, pembagian, tambah, dan kurang) tanpa kalkulator walaupun cara perhitungan seperti itu sudah bisa dilakukan dengan kalkulator.
Apalagi mengenai ilmu-ilmu dasar seperti matematika seharusnya memang seperti yang saya alami sehingga pengetahuan yang diajarkan melekat di otak dan diingat lebih lama. Akhir-akhir ini saya sering melihat banyak sekali orang berbicara mengenai suatu bidang disiplin tertentu walaupun dia bukan seorang pakar di bidang yang bersangkutan, kebanyakan yang saya lihat adalah pencari panggung agar diliput oleh media, mungkin karena mencari pengetahuan melalui Google atau YouTube dan dia beranggapan dia sudah cukup kepakarannya untuk bisa bicara di depan publik, yang sangat mungkin apa yang dia sampaikan adalah menyesatkan buat audiensnya karena sangat dangkal pengetahuannya.
Hal ini menjadi mungkin karena informasi begitu banyak berserakan di mana-mana dan disajikan secara sangat “POP” agar mudah dimengerti sekalipun dangkal. Dan yang terakhir kita baca melalui media, ada orang yang mengklaim bahwa dia bisa menciptakan vaksin untuk menangkal COVID-19, yang menimbulkan pro-kontra di masyarakat di mana WHO pun belum bisa memberikan satupun rekomendasi. Terjadilah heboh dan gaduh yang tidak perlu.
Kemampuan dan kapasitas otak manusia untuk menerima, mengolah dan bereaksi atas informasi yang masuk sangatlah terbatas jika dibandingkan dengan jumlah informasi yang beredar di dunia maya pada saat ini. Lantas bagaimana kita bisa mengatasi masalah ini?
Pengalaman saya sendiri dalam menghadapi situasi ini adalah dengan mengurangi akses ke situs-situs yang memang saya kurang suka materinya. E-mail yang setiap hari saya terima saya batasi hanya untuk yang berhubungan dengan pekerjaan saya dan sedikit gosip-gosip politik serta olahraga.
Banyak teman saya sering mengajak ngobrol tentang materi yang dia dapatkan di dunia maya, di mana saya tidak mengikutinya, saya katakan pada teman saya, kita beda jurusan nih! Saya banyak tidak tahu mengenai isu-isu itu, malah saya balik bertanya ke teman saya, masalah apa tho? Mulailah teman saya bercerita dari A sampai Z, akhirnya saya menjadi tahu juga hal-hal di luar kesukaan saya.
Gejala ketakutan dianggap ketinggalan informasi sekarang saya lihat sudah cukup mewabah. Terutama di kalangan milenial, maka supaya masih dapat pengakuan dari teman-teman milenialnya bahwa dia adalah orang yang cukup up to date dengan informasi dia harus mengikuti semua informasi yang paling up to date, apa lagi untuk informasi yang sedang VIRAL, wajib hukumnya untuk terinformasikan.
Kita pun diperlihatkan oleh banyak kepala negara di dunia yang menggunakan Twitter untuk menyampaikan gagasan atau pendapatnya dalam isu-isu tertentu. Ini juga merupakan konten yang wajib dibaca oleh banyak orang karena apa yang para kepala negara itu sampaikan sangat mungkin akan berpengaruh terhadap hidup kita.
Seperti definisi yang saya kutip dari Wikipedia, bagaimana kemampuan seseorang bisa menerima, mengolah dan mengambil keputusan dengan benar dalam waktu yang tepat suatu masalah dengan dasar informasi yang dia terima dengan volume yang sangat besar dan sering pula informasi tersebut kompleks, redundant, saling bertentangan dan tidak konsisten.
Dalam keadaan seperti ini dibutuhkan kebijaksanaan dan pengalaman dari si pengambil keputusan untuk bisa mengolah informasi tersebut. Kata teman saya, data yang besar (big data) malah menjadikan keputusan yang kita ambil semakin akurat kalau kita dibantu dengan Artificial Intelligent.
Apakah kita tega mengambil keputusan yang sifatnya nonmatematis hanya didasarkan pada proses komputer? Saya tidak akan melakukan itu! Keputusan non matematis selalu melibatkan intuisi, padahal intuisi ini banyak melibatkan perasaan FEAR AND GREED, komputer tidak punya kemampuan ini. Inilah yang meyakinkan saya untuk mengambil keputusan tidak mau menggunakan komputer. Jadi kalau keputusan saya salah, saya tidak harus mencari kambing hitam, yang salah adalah komputer.
Sebagai kesimpulan saya, kita memang sudah tidak bisa menolak, sekarang dan di masa yang akan datang, kita akan kebanjiran informasi terutama yang dihasilkan oleh teknologi informasi. Yang terpenting dan perlu kita lakukan adalah bagaimana kita bisa mengelola IO ini dengan baik agar kita tidak tenggelam dan menjadi kecanduan, akhirnya menjadi budak dari informasi, terutama informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan dan tidak berguna.
Kita masing-masing di dalam mengarungi keseharian kita, pasti tetap akan membutuhkan pasokan informasi yang benar, kredibel dan dapat dipertanggung jawabkan. PENGHIDUPAN MODERN SUDAH TIDAK MUNGKIN LAGI TANPA INFORMASI. Atau kita akan kembali ke ZAMAN BATU. Atau munculnya ditaktor semacam Hitler, Stalin dan Idi Amin baru di abad ini.
