Hati yang Penuh Kasih

Bentang Shavarani
Undergraduate Journalist Student at Jakarta State Polytechic
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 6:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Bentang Shavarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Picture by Bentang Shavarani
zoom-in-whitePerbesar
Picture by Bentang Shavarani
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Apakah kamu pernah mengunjungi panti asuhan, rumah tiap anak-anak yang tidak memiliki keluarga? Jika sudah, mari bertukar cerita dengan saya.
ADVERTISEMENT
Saat melangkah masuk ke halaman panti asuhan ini, saya merasakan getaran yang berbeda. Tempat ini bukan sekadar bangunan tua dengan dinding penuh dengan coretan-coretan, melainkan sebuah rumah bagi belasan anak-anak yang penuh semangat dan harapan. Di sini, saya hanya seorang tamu yang ingin memahami lebih dalam kehidupan anak-anak yang mungkin berbeda dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari.
Saya mulai melihat ke sekeliling rumah. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan foto-foto anak kecil, yang menunjukkan perjalanan hidup mereka sejak pertama kali tiba di panti hingga kini. Foto-foto itu memancarkan kebahagiaan dan kebanggaan, seolah-olah setiap potret adalah cerita tentang harapan baru dan mimpi yang ingin dicapai.
Suasana di panti ini begitu hangat dan penuh kasih sayang. Para pengasuh terlihat berdedikasi, mengawasi anak-anak dengan penuh perhatian dan cinta. Mereka bukan sekadar merawat, tetapi juga menjadi keluarga pengganti bagi anak-anak ini. Saya melihat seorang pengasuh membimbing seorang anak kecil belajar menulis, sementara di sudut lain, ada yang sedang mengajari kitab suci.
ADVERTISEMENT
Saya melihat mereka, tatapan yang polos dan penuh rasa ingin tahu. Mata mereka memancarkan semangat yang tulus, meskipun di baliknya mungkin ada cerita-cerita yang menyayat hati. Setiap anak di sini memiliki kisah yang berbeda, namun mereka semua berbagi satu kesamaan, yaitu sebuah keinginan untuk dicintai dan diberikan perhatian. Saat saya datang, wajah-wajah mereka yang tadinya penuh dengan kekhawatiran dan ketegangan segera berubah menjadi sorotan mata yang berbinar-binar. Mereka menyambut kedatangan saya dengan senyuman yang tulus, seolah-olah saya membawa semangat dan keceriaan baru ke dalam kehidupan mereka.
Kedatangan saya kali ini memiliki tujuan yang sangat pribadi. Saya meminta mereka untuk mendoakan saya agar bisa lolos ujian UTBK. Saya merasa sedikit gugup ketika mengutarakan permintaan ini, tetapi respon mereka sungguh luar biasa. Anak-anak itu segera berkumpul, menundukkan kepala mereka, dan mulai berdoa dengan khusyuk. Suara mereka yang lembut dan penuh keyakinan memenuhi ruangan, membuat saya terharu. Di usia mereka yang masih begitu muda, mereka sudah paham tentang pentingnya agama dan kekuatan doa.
ADVERTISEMENT
Saya terdiam, merenungkan betapa minimnya ilmu agama saya sendiri. Di hadapan anak-anak ini, saya merasa sangat kecil. Mereka, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mampu menunjukkan keimanan yang tulus dan murni. Saya merasa sangat tersentuh dan sekaligus malu pada diri sendiri.
Namun, di balik semuanya, saya juga merasa penasaran tentang kehidupan mereka. Bagaimana mereka melewati rintangan dan mungkin perasaan iri saat melihat teman yang lain memiliki kehidupan yang lebih baik? Dalam hati kecil saya, saya bertanya-tanya tentang ketabahan dan kekuatan batin yang mereka miliki untuk tetap berdiri tegar di tengah cobaan hidup yang mungkin lebih berat dari yang saya bayangkan.
Saat saya mengamati lebih dekat, saya melihat bahwa setiap anak di panti asuhan ini membawa beban yang berat di pundak mereka. Beberapa dari mereka memiliki tubuh yang kecil dan kurus, menunjukkan kurangnya nutrisi dan perawatan yang memadai sejak lahir. Luka-luka kecil di kulit mereka menceritakan kisah pahit tentang perjalanan hidup yang keras dan sulit.
ADVERTISEMENT
Diantara mereka mungkin ada yang mengalami trauma dari masa lalu yang kelam, meninggalkan bekas yang mendalam di hati mereka. Terlepas dari usaha pengasuh untuk memberikan perlindungan dan kasih sayang, beberapa di antara mereka masih terlihat rapuh, kadang-kadang tersesat dalam lamunan yang penuh dengan ketakutan dan kecemasan.
Mereka adalah anak-anak kecil yang masih murni, dengan hati yang polos dan tulus. Mereka tidak meminta banyak dalam hidup ini, hanya ingin merasakan kebahagiaan yang mungkin seringkali mereka lihat dari kehidupan orang lain. Saat saya memandang wajah-wajah mereka yang lembut, saya merasakan kepedihan yang mendalam. Mereka, yang seharusnya dikelilingi dengan cinta dan perlindungan, harus menghadapi kesulitan dan kecemasan yang seharusnya tidak menjadi beban anak-anak seumur mereka.
ADVERTISEMENT
Tapi mereka tetap tegar, berusaha mencari cahaya di tengah kegelapan. Setiap senyuman yang mereka tunjukkan adalah bukti dari ketabahan yang mereka miliki, meskipun di baliknya tersimpan rasa sakit yang mungkin sulit bagi kita untuk memahami. Melihat mereka, saya merasa tergugah untuk melakukan lebih banyak lagi, untuk memberikan mereka kebahagiaan yang layak mereka dapatkan. Kehadiran saya di sana bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai saudara yang siap berbagi beban dan memeluk mereka dalam perlindungan dan kasih sayang.
Melihat kehidupan mereka, saya merasa sangat terinspirasi. Mereka mengajarkan saya bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari harta benda, tetapi dari cinta dan kebersamaan. Di tengah segala keterbatasan, anak-anak ini tetap mampu menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Mereka adalah pahlawan kecil yang pantang menyerah, terus berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Saya yang lebih beruntung bisa belajar banyak dari mereka tentang arti sejati dari kebahagiaan dan keluarga.
ADVERTISEMENT