Cryptomania Akankah seperti Tulipmania?

Penulis merupakan pemerhati, utamanya terkait finance.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Benyamin Sadin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun yang lalu pada saat para penggagas Uang Crypto (UC) memulai debutnya mereka ingin mengalahkan atau mengambil alih posisi Uang Fiat (UF). Dengan menunjukkan berbagai kelemahan yang terdapat pada UF. Antara lain mereka membandingkan sejarah harga emas atau barang-barang lain dengan mata uang Dolar Amerika Serikat bahwa mata uang Amerika Serikat sudah mengalami penurunan nilai yang sangat parah atau inflasi terhadap barang-barang seperti emas.
Selain itu mereka juga ingin menghilangkan peranan bank sebagai intermediator transaksi-transaksi yang melibatkan UF dengan alasan, salah satunya ongkos kirim uang yang dibebankan kepada si pengirim atau si penerima kiriman uang akan hilang jika menggunakan UC. Dan jangan lupa UTOPIA mereka bahwa kelak UC akan menjadi alat tukar pengganti yang sangat efisien dan anti inflasi untuk menggantikan UF. Semuanya dalam bentuk digital dan nilainya akan sangat-sangat stabil.
Ironisnya apa yang mereka perbuat, semua produk turunan dari UC menjiplak produk-produk perbankan dibuat secara digital, perbedaannya dengan produk perbankan, produk perbankan basis produknya adalah UF sedangkan produk-produk yang dibuat di atas protoko blockchain adalah UC. Hebatnya lagi, nomenklatur yang mereka buat adalah nomenklatur ZAMAN NOW. Dengan meng asosiasikan bahwa kalau tidak bermain dengan produk-produk ini anda bukan bagian dari zaman now. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi saya sebagai bahan diskusi.
Di dalam tulisan ini saya hanya akan berusaha untuk secara bersama-sama kita melihat, apakah apa yang di idamkan oleh penggagas UC itu benar seperti apa yang mereka janjikan?
Sekarang mari kita lihat satu persatu. Mengenai stabilitas UC. UF dan UC ini memang sudah menjadi semacam komoditas yang diperjualbelikan, namun demikian untuk UF perdagangannya selalu di awasi oleh negara yang mengeluarkan dan terikat dengan perjanjian-perjanjian internasional yang sangat transparan dan banyak pihak di dalamnya ikut terlibat untuk saling menjaga stabilitas UFnya masing-masing.
Jadi kalau terjadi gejolak maka akan segera dapat diatasi dengan baik. Contoh yang pernah dialami oleh Indonesia pada saat terjadinya Krisis Moneter atau Krismon pada tahun 1998, nilai tukar rupiah dari Rp.2,500 per Dolar Amerika serikat dalam waktu singkat menjadi Rp.15,000,- per Dolar Amerika Serikat. Lantas apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia? Pada saat itu pemerintah Indonesia langsung mengundang lembaga-lembaga keuangan internasional untuk mencari jalan keluar mengatasi krismon tersebut.
Yang terjadi selanjutnya kita sudah dapat lihat sampai sekarang stabilitas moneternya dapat tercapai dengan baik. Berbeda dengan apa yang terjadi dengan UC saat ini. Nilai UC tertinggi per unit USD 68,000,- (enampuluh delapan ribu dolar Amerika serikat) dan per hari ini, saya mengambil UC yang dianggap paling bisa diandalkan yaitu Bitcoin, pada saat saya membuat tulisan ini nilainya tinggal USD 19,000,-(sembilan belas ribu dolar Amerika serikat).
Dan jangan lupa! Pada saat Bicoin diluncurkan tidak ada harganya, memang Bitcoin bukanlah alat tukar yang secara hukum dilindungi oleh undang-undang negara mana pun untuk bernilai berapa. Kalau FC, setiap emisi baru harus ada nilainya berapa dan dilindungi oleh undang-undang suatu negara yang mengeluarkan. Dengan tanpa nilai berarti para pemainnya bisa mempermainkan harga seenaknya.
Dengan uraian singkat yang baru saja saya tulis, apakah dengan tanpa adanya perlindungan undang-undang suatu negara suatu mata uang bisa stabil? Silakan para pembaca menjawab sendiri.
Bitcoin pada saat diluncurkan tidak ada harganya, lantas bagaimana tiba-tiba bisa menjadi sangat berharga, walaupun kita tahu bahwa Bitcoin itu substansinya hanyalah cryptography (software)? Di sini saya terpaksa berburuk sangka! Ini pasti ulah bandar atau spekulan untuk menaikkan harga se enaknya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Apakah bandar-bandar ini mau menopang harga Bitcoin untuk mengembalikan ke USD 68,000,-?
Ini jawaban saya! Mereka akan melihat apakah mereka masih bisa mencari keuntungan kalau harga Bitcoin ini mereka kembalikan ke level lebih tinggi. Atau masih adakah orang-orang GREEDY yang masih bisa ditipu untuk mendapatkan keuntungan? Kalau sudah tidak bisa menjadi alat mencari orang yang bisa ditipu atau mencari keuntungan lagi mereka pasti akan meninggalkannya, akibatnya orang-orang yang masih memegang Bitcoin akan merana.
Apakah negara mau ikut campur dalam hal rusaknya harga Bitcoin? Pasti tidak! Karena memang Bitcoin bukanlah produk yang dikeluarkan dan dijamin oleh pemerintah. Dan bagaimana dengan nasib UC lainnya selain Bitcoin? Menurut pendapat saya, karena Bitcoin dianggap sebagai jangkar dari UC maka UC lainnya juga akan ikut runtuh kalau Bitcoin runtuh. Maka sarana dan prasarana penunjang keberadaan UC akan runtuh atau berubah bentuk menjadi hal lainnya dengan membawa kerugian tidak sedikit bagi orang-orang yang masih memegang UC pada saat harganya jatuh lebih jauh namun tidak sempat menjualnya.
Bill Gate pendiri Microsoft mengatakan "Bandar-bandar seperti ini membeli Bicoin biasanya mencari orang GREEDY (maaf "lebih bodoh") sebagai tempat untuk menjual kembali dengan harga lebih tinggi, menipu. Filosofi mereka adalah mencari keuntungan dari orang-orang yang bisa dan mau dijadikan sasaran penipuan.
Hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Dan yang cukup legendaris adalah kejadian di Belanda pada abad ke 17. Yang dikenal dengan TULIPMANIA, harga umbi bunga Tulip di GORENG harganya oleh para spekulan menjadi sangat tinggi dan tidak rasional kemudian berakhir dengan menjadi tidak berharga lagi. Bedanya dengan UC, isu yang digoreng pada bunga Tulip adalah KEINDAHAN BUNGANYA sedangkan pada UC isu yang digoreng adalah keuntungan yang besar dan cepat didapatkan.
Apakah UC akan mengalami hal seperti Tulip ini? Waktu yang akan bercerita! Pada abad ke 17 belum ada internet, yang terkena dampak Tulipmania ini sangat terbatas, orang-orang di negara Belanda saja. Sekarang dengan adanya internet dan sosial media, dampaknya mendunia.
Jadi tesis para penggagas UC bahwa, UC stabil dan akan bisa menggantikan UF menurut pendapat saya adalah salah! UF itu produk dari undang-undang sistem pembayaran di dalam suatu negara. Jadi kalau bermimpi ingin menggantikan UF dengan UC ciptaan mereka tanpa ada perlindungan negara saya kira tidak akan bisa. Untuk khalayak ramai berhati-hatilah dalam ber investasi di dalam instrumen-instrumen yang kita tidak pahami betul bagaimana cara kerja permainan investasi itu dengan baik.
Untuk yang berikut ini saya akan berusaha membahas apakah benar dengan bertransaksi menggunakan UC menjadi lebih efisien daripada menggunakan UF karena hilangnya intermediator (Bank).
Untuk mempermudah, mari kita simak bagaimana kita sekarang kalau melakukan transaksi pengiriman uang baik secara domestik maupun internasional. Untuk mengirim uang kemanapun kita pasti dikenai ongkos kirim yang dibebankan oleh bank yang mem proses transaksi pengiriman kita. Di dalam tesis para penggagas UC dikatakan bahwa pengiriman uang dari satu individu ke individu lainnya (tanpa nama) tidak ada biaya karena menggunakan jaringan internet tanpa melalui intermediator seperti bank.
Kenyataannya bagaimana? Ternyata apa yang terjadi? Pada saat kita melakukan transaksi pengiriman atau jual beli UC kita harus membayar juga. Besaran biaya yang harus kita bayarkan tergantung dari platform transaksi yang kita gunakan. Dan jangan lupa prosesnya pun ternyata sangat rumit. Kenapa saya katakan sangat rumit? Semua transaksi yang akan di lakukan di dalam jaringan blockchain (teknologi penunjang UC) harus di validasi oleh semua jaringan yang terlibat di dalam sistemnya (untuk bitcoin disebut Proof of Work) dan sistemnya akan melakukan updating semua ledger (catatan keuangan, akun) yang ada di dalam jaringannya.
Berbeda dengan transaksi yang sering kita lakukan di dalam sistem perbankan. Di dalam sistem perbankan suatu transaksi hanya melibatkan ledger dari orang per orang yang melakukan transaksi melalui mekanisme kontrol masing-masing bank di mana kita bertransaksi dan tidak melakukan updating untuk seluruh rekening yang ada di dalam sistem dan tidak untuk dibaca oleh pihak-pihak yang tidak terlibat dalam transaksi yang bersangkutan di dalam bank yang bersangkutan, sesuai dengan peraturan kerahasiaan bank, sangat sederhana.
Dan anehnya, kerumitan semacam ini dianggap sebagai alat kontrol yang sangat efektif di dalam teknologi blockchain.Apakah benar? Selain itu dengan satu transaksi saja, kalau, misalnya ledger yang ada di dalam sistemnya dua juta set maka ledger yang akan di update adalah dua juta record. Walaupun transaksi ini dilakukan oleh mesin akan tetapi mesin ini butuh energi untuk dapat melakukannya, yang berakibat biaya transaksinya menjadi sangat mahal. Karena transaksi UC yang dilakukan oleh para pemainnya kebanyakan tanpa nama (dengan menggunakan code) yang berarti kita tidak tahu siapa lawan transaksi kita maka kalau sampai terjadi kesalahan maka berarti hilanglah aset yang kita transaksikan itu entah ke mana/siapa? Atau kalau kita lupa dengan kata sandi untuk membuka akun kita, maka hilanglah aset yang kita miliki.
Hal konsumsi energi ini akhir-akhir ini sudah menjadi kekhawatiran banyak negara karena penggunaan tenaga listrik yang berlebihan. Kembali dapat kita lihat bahwa tesis bahwa dengan menggunakan UC akan lebih efisien dibandingkan dengan menggunakan UF tidak dapat kita buktikan. Maka jargon-jargon para pendukung UC mengenai isu lebih hemat ini pun tidak mempunyai dasar pemikiran yang kuat. Belum lagi kalau kita kaitkan dengan bagaimana kita melakukan AUDIT untuk transaksi-transaksi yang terjadi di dalam sistem ini. Mimpi buruk kata teman saya!
Beberapa bulan sebelum tulisan ini saya buat, saya dipinjami buku oleh teman saya yang isinya kurang lebih dengan panjang lebar menjelaskan tentang mania-mania yang terjadi di dunia. Yang saya lihat banyak kemiripannya dengan yang terjadi dengan UC sekarang ini. Judul bukunya adalah:"EXTRAORDINARY POPULAR DELUSION" and Madness of Crowds. Dengan notes pada sampulnya sbb: "The follies of mankind are not unique to modern world". Terbitan pertamanya Tahun 1841. Ditulis oleh Charles Mackay.
Singkatnya di dalam buku tersebut menjelaskan tentang krisis-krisis keuangan yang terjadi walaupun ada krisis yang di lindungi oleh Raja Prancis dengan berbagai instrumen-instrumen investasi maupun instrumen-instrumen moneter yang berakibat dengan runtuhnya sistem keuangan di Prancis pada saat itu. Hanya saja ada perbedaan yang cukup besar dengan apa yang terjadi di Prancis pada saat itu dengan yang terjadi dengan UC. UC penciptanya bukanlah penguasa (spekulan) dan dampaknya belum sampai merusak sistem moneter suatu negara. Kecuali untuk negara yang sudah meng adopsi UC menjadi alat pembayaran yang sah di dalam negaranya seperti EL SALVADOR.
Celakanya El Salvador pun hanya ikut-ikutan menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, bukan mata uang yang mereka ciptakan sendiri. Nasib mata uang El Salvador tergantung pada spekulan? Jadi sekali lagi kita dapat melihat bahwa sebuah mata uang adalah merupakan kewenangan suatu negara untuk menciptakannya sebagai alat tukar yang sah di dalam teritori suatu negara. Dengan alasan apa pun kewenangan negara ini di masa sekarang masih belum dapat digantikan dengan instrumen lain. Apakah UF suatu negara tidak bisa mengalami krisis?
Seperti kita ketahui dan pernah kita alami, krisis semacam ini bisa juga melanda mata uang suatu negara kalau pengelolaannya tidak sehat. Namun demikian krisis UF suatu negara akan menjadi urusan negara yang bersangkutan karena, kalau tidak maka penduduk negara yang bersangkutan akan banyak mengalami kesulitan ekonomi yang akan berakibat pada keresahan sosial dan stabilitas politik.
Berdasarkan beberapa uraian singkat sebelumnya, saya kembali untuk mengimbau para pembaca untuk menghindari ikut-ikutan membeli instrumen investasi yang substansi dan cara bermainnya tidak dapat anda cerna dengan nalar yang sederhana. Kalau tidak maka anda akan sasaran empuk dari para spekulan yang memang ingin mengambil uang anda dengan cara-cara yang tidak elok. Teman saya seorang yang sangat biasa bermain dengan pasar yang spekulatif. Waktu saya tanya, "kenapa dia suka dengan permainan spekulatif", dia menjawab: "Saya bermain seperti ini seperti mengambil makanan dari mulut harimau", adreanlinnya memuaskan saya!
Akhirnya saya jadi bertanya-tanya pula, 'Apakah adrenalin sudah menjadi barang yang bernilai ekonomi? Seperti layaknya kita pergi ketempat hiburan untuk mendapatkan kesenangan".
