Konten dari Pengguna

Nyadranomics: Nyadran, Tradisi Lama, Ekonomi Baru

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafis Muaddab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga Sonoageng berkumpul di makam leluhur, memanjatkan doa bersama dalam ritual Nyadran (Foto dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Sonoageng berkumpul di makam leluhur, memanjatkan doa bersama dalam ritual Nyadran (Foto dokumen pribadi)

Pagi itu, pemakaman Desa Sonoageng berubah jadi lautan aktivitas. Aroma bunga bercampur suara pedagang menawarkan dagangan, anak-anak berlarian di antara ratusan stan UMKM yang berdiri rapat sejak subuh. Perantau dari Surabaya, Kalimantan, hingga Batam datang berombongan; sebagian baru sekali ini pulang setelah bertahun-tahun merantau. “Nyadran ora iso ditinggal. Lek ora melu, ora kepenak neng ati,” kata seorang perantau sambil menuntun anaknya ke pusat makam.

Di tengah keramaian, makam Mbah Said jadi titik perhatian. Raden Mas Said, yang tiba di Sonoageng pada abad ke-18 bersama istrinya dan beberapa pengikut, memberikan pengaruh besar bagi perkembangan spiritual desa. Dari masyarakat yang sebelumnya awam agama, warga perlahan mengenal ajaran Islam. Saat Mbah Said wafat pada malam Jumat Pahing, makamnya yang berada di tengah pemakaman umum—di bawah beringin besar—menjadi pusat Nyadran hingga kini.

Upacara Nyadran, yang juga dikenal dengan istilah bersih desa, sedekah bumi, atau manganan, adalah tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun. Asal-usulnya bisa ditelusuri sejak era Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8–10). Bukti historis seperti Prasasti Wanua Tengah III (908 M) menyebut aktivitas serupa Nyadran dengan istilah madra-wangi—ziarah kubur dengan bunga—sementara naskah Serat Centhini (1814) menggambarkan kegiatan ini sebagai ritual rutin masyarakat agraris Jawa. Tradisi ini awalnya berbasis kepercayaan animisme dan Hindu-Buddha, kemudian diakomodasi dalam Islam Jawa sebagai bentuk slametan atau doa untuk leluhur. Sejak itu, Nyadran bukan sekadar ritual spiritual—ia bertahan dan berkembang menjadi sistem sosial-ekonomi yang canggih dan inklusif.

Beberapa minggu sebelum puncak Nyadran, Desa Sonoageng sudah dipenuhi aktivitas. Warga mulai menyiapkan bahan tumpeng dan ingkung, menanam sayuran, memotong ayam, dan membuat kue tradisional. Anak-anak membantu menata daun pisang, mencuci beras, atau menganyam janur untuk sesaji. Titipan bahan antar rumah menjadi hal biasa, membentuk jaringan distribusi informal yang unik. Semua keluarga ikut terlibat; tercatat sekitar 2.685 kepala keluarga menyiapkan sesaji, membuka stan kuliner, atau kerajinan.

Saat Nyadran, makam Mbah Said dipenuhi tumpeng warna-warni, ayam ingkung, kue tradisional, dan buah lokal. Warga bergiliran berziarah dan berdoa, diiringi tahlil serta alunan gamelan dan kendang dari kelompok seni lokal. Di sepanjang jalan menuju makam, ratusan stan UMKM menjadi pusat aktivitas ekonomi. Pedagang menjajakan pecel, sate, kerajinan bambu, mainan anak, hingga kaos dan suvenir bertema Nyadran. Perantau memanfaatkan momen ini membeli oleh-oleh atau mendukung usaha warga. Interaksi sosial terlihat di mana-mana: tawar-menawar harga, berbagi informasi, hingga reuni singkat antarwarga. Hiruk-pikuk pengunjung dari Nganjuk, Kertosono, Prambon, Wilangan, hingga Jombang dan Madiun menambah semarak suasana.

Walaupun terlihat sederhana—tumpeng, ingkung, doa, dan ziarah—denyut ekonominya bergerak cepat. Penelitian lapangan menunjukkan lebih dari Rp1,03 miliar berputar hanya dari rangkaian kegiatan Nyadran di Sonoageng, dengan rincian Rp805 juta untuk bahan tumpeng dan pangan lokal, Rp181 juta untuk hiburan dan pertunjukan seni, serta Rp50 juta untuk logistik dan operasional stan. Uang bergerak dari dapur ke dapur, petani ke pedagang, pengrajin ke perantau, dan kembali lagi ke warga desa, membentuk sistem ekonomi komunal yang nyata dan inklusif.

Nyadran di Sonoageng membuktikan tradisi lama bisa hidup di zaman modern. Ritual sederhana berubah menjadi pasar rakyat, doa leluhur jadi peluang ekonomi, dan gotong royong warga menciptakan roda finansial yang berjalan tanpa bank, proposal, atau laporan resmi. Dari Mbah Said hingga generasi muda kreatif yang berjualan kaos, Nyadran memperlihatkan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari kepercayaan, kebersamaan, dan budaya—tanpa harus mengorbankan manusia atau lingkungan.