Konten dari Pengguna

Apa yang Dimaksud dengan Kualitas Produk? Ini Penjelasannya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menguji coba kualitas produk. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menguji coba kualitas produk. Foto: Pexels

Kualitas produk merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan pebisnis sebelum mengeluarkan barang baru. Itu karena produk yang berkualitas dapat memberi kepuasan bagi konsumen. Lantas, apa yang dimaksud dengan kualitas produk?

Mengutip buku Penataan Produk SMK/MAK Kelas XII karya Ely Arinawati dan Badrus Suryadi, kualitas produk adalah totalitas fitur dan karakteristik suatu barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun implisit.

Dalam menjamin kualitas produknya, setiap perusahaan harus mengadakan pengujian dan pengawasan secara rutin dan terpadu. Hal tersebut dilakukan agar kualitas produk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen.

Dimensi Kualitas Produk

Ilustrasi menguji coba kualitas produk. Foto: Pexels

Edi Supriyadi mengemukakan dalam buku Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan Statistical Process Control (SPC), terdapat delapan dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis kualitas produk, di antaranya:

  1. Performa (performance), berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk.

  2. Feature, merupakan aspek kedua dari performa yang menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya.

  3. Keandalan (reliability), berkaitan dengan kemungkinan suatu produk berfungsi secara berhasil dalam periode waktu tertentu di bawah kondisi tertentu. Ini merupakan karakteristik yang merefleksikan kemungkinan tingkat keberhasilan dalam penggunaan suatu produk.

  4. Konformitas (conformance), berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan.

  5. Daya tahan (durability), merupakan ukuran masa pakai suatu produk. Karakteristik ini berkaitan dengan daya tahan dari suatu produk.

  6. Kemampuan pelayanan (service ability), merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan/kesopanan, kompetensi, kemudahan serta akurasi dalam perbaikan.

  7. Estetika (aesthetics), merupakan karakteristik mengenai keindahan yang bersifat subjektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan individual.

  8. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), ini bersifat subjektif karena berkaitan dengan perasaan pelanggan dengan mengkonsumsi produk seperti meningkatkan harga diri. Hal ini dapat juga berupa karakteristik yang berkaitan dengan reputasi (brand name atau images).

Baca juga: Bagaimana Cara Menentukan Fungsi dan Kualitas Produk Kerajinan? Ini Tipsnya

Prespektif Kualitas Produk

Ilustrasi menguji coba kualitas produk. Foto: Pexels

Menurut Garvin yang dikutip dalam buku Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan Statistical Process Control (SPC), perspektif kualitas merupakan pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan kualitas suatu produk. Perspektif kualitas tersebut, di antaranya:

1. Transcendental Approach

Menurut pendekatan ini, kualitas produk dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit dioperasionalkan. Fungsi perencanaan produksi dan pelayanan suatu perusahaan sulit menggunakan definisi ini sebagai dasar manajemen kualitas karena sulit mendesain produk secara tepat.

2. Product based Approach

Pendekatan ini menganggap kualitas sebagai karakteristik atau atribut yang dapat dikuantifikasikan dan dapat diukur. Perbedaan dalam kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah unsur atau atribut yang dimiliki produk.

Karena pandangan ini sangat bersifat objektif, maka tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individual.

3. User based Approach

Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang menggunakannya dan produk yang paling memuaskan preferensi seseorang merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.

Perspektif yang subjektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula. Dengan demikian, kualitas bagi seseorang adalah sama dengan keputusan maksimum yang dirasakannya.

4. Manulacturing based Approach

Perspektif ini bersifat supply based dan sangat memperhatikan praktik-praktik perekayasaan, manufakturing, serta mendelinisikan kualitas sama dengan persyaratannya (confomance to requirements).

5. Vakue based Approach

Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan mempertimbangkan trade off antara kinerja produk dan harga, kualitas didefinisikan sebagai "affordable excellence".

Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Akan tetapi, produk yang dibeli akan dianggap paling bernilai.

(NDA)