Konten dari Pengguna

Cara Menghitung Current Ratio

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Current Ratio. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Current Ratio. Foto: Pexels

Current ratio atau yang dikenal dengan rasio lancar merupakan alat yang digunakan untuk mengevaluasi posisi solvabilitas jangka pendek suatu bisnis. Solvabilitas jangka pendek sendiri mengacu pada kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek atau kewajiban lancar jatuh tempo selama dua belas bulan.

Berikut rumus untuk menghitung current ratio yang perlu kamu ketahui.

Current Ratio = Aset Lancar / Kewajiban Lancar

  • Aset Lancar meliputi kas dan setara kas, piutang, persediaan dan aset lancar lainnya.

  • Kewajiban termasuk utang, akrual, utang bunga, dan kewajiban lancar lainnya.

Contoh dan Perhitungan Current Ratio

Suatu perusahaan memiliki saldo Aset Lancar dan Liabilitas Lancar di Laporan Posisi Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 April 2021.

Aset lancar

Kas dan Setara Kas : Rp 50.000.000

Piutang Usaha : Rp 200.000.000

Persediaan : Rp 250.000.000

Aset Lancar Lainnya : Rp 100.000.000

Kewajiban Lancar

Utang Akun : Rp 30.000.000

Utang Pajak Saat Ini : Rp 120.000.000

Beban Akrual : Rp 100.000.000

Pinjaman : Rp 50.000.000

Berapa Rasio Lancar dari perusahaan di atas?

Total Aset Lancar : Rp 600.000.000

Total Kewajiban Lancar : Rp 405.000.000

Current Ratio : Rp 600.000.000/ Rp 300.000.000 = 2

Rasio lancar perusahaan tersebut menunjukkan angka 2. Artinya, aset lancar perusahaan tersebut 2 kali lebih banyak dari kewajiban lancarnya. Angka tersebut masih dianggap baik oleh kreditur karena perusahaan tersebut dinilai memiliki kemampuan untuk membayar kewajiban lancarnya.

Syarat menilai keadaan current ratio

Ilustrasi Current Ratio. Foto: Pexels

1. Posisi Nilai Ideal

Dalam keadaan ini semakin tinggi rasio lancarnya, akan semakin besar likuid perusahaannya. Akan tetapi, perusahaan menganggap hasil dari rasio lancar sebesar 2 kali dikatakan lebih ideal. Sehingga, bisa diperkirakan memiliki posisi keuangan yang aman dan mampu membayar piutang atau tagihannya dalam membayarkan utang lancarnya.

2. Posisi Nilai Rendah

Nilai rasio lancar yang rendah dengan nilai di bawah satu kali, pada kondisi ini nilai rasio lancar yang rendah menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan berada dalam kesulitan posisi keuangan untuk memenuhi utang lancarnya. Akan tetapi, investor maupun kreditor tetap memperhatikan arus kas yang digunakan untuk operasional. Sehingga bertujuan untuk memahami tingkat likuiditas perusahaan.

3. Posisi Nilai Terlalu Tinggi

Untuk nilai rasio lancar jika terlalu tinggi akan memiliki nilai di atas 2 kali, sebab rasio lancar terlalu tinggi akan terjadi kemungkinan perusahaan kurang mempergunakan aktiva lancarnya ataupun utang lancarnya dengan efisien. Sehingga menyebabkan adanya suatu masalah dalam mengelola modal kerja. Namun dari sudut pandang kreditur rasio lancar dengan nilai yang tinggi, perusahaan akan lebih bisa memenuhi utang lancarnya yang akan jatuh tempo paling lambat 12 bulan atau satu periode.

Itulah ulasan singkat mengenai current ratio. Semoga bermanfaat!

(AAG)