Konten dari Pengguna

Cara Menghitung Harga Wajar Saham untuk Investor

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menghitung nilai wajar saham. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menghitung nilai wajar saham. Foto: Pexels

Harga wajar suatu saham kerap disebut juga sebagai nilai intrinsik (intrinsic value), yaitu suatu nilai saham yang dianggap betul-betul mewakili performa suatu perusahaan.

Apabila harga suatu saham berada di bawah harga wajarnya, saham tersebut disebut dengan undervalued. Ini menjadi kesempatan bagi investor untuk membelinya karena harganya menjadi turun.

Penting bagi investor untuk melakukan penilaian atau valuasi saham. Dengan mengetahui nilai wajar saham, maka investor akan lebih tenang dalam menghadapi gejolak pasar serta mampu membuat keputusan investasi yang tepat.

Cara Menghitung Nilai Wajar Saham

Ilustrasi menghitung nilai wajar saham. Foto: Pexels

Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk menghitung harga wajar dari sebuah saham. Dalam buku Rahasia Analisis Fundamental Saham: Teknik Memilih Saham (2020) karya Raymond Budiman, berikut metode menghitung nilai wajar saham yang kerap digunakan.

1. Metode Pendekatan DCF (Discount Cash Flow)

Valuasi dengan pendekatan DCF merupakan pendekatan yang dapat memprediksi dividen, tingkat pertumbuhan, serta tingkat diskonto.

Adapun rumus valuasi DCF menjadi sebagai berikut:

Valuasi Saham= Dividen per Tahun/ Tingkat Diskonto - Ekspektasi Pertumbuhan

Sebagai contoh, PT AAA akan membagikan dividen Rp1.000 per lembar, dan diharapkan akan bertumbuh sebesar lima persen per tahun. Dengan tingkat diskonto 12 persen, berapa nilai wajar dari perusahaan tersebut?

Valuasi PT AAA: Rp 1.000 per lembar/ 12 persen-5 persen= Rp 14.825 per lembar.

Dengan demikian, dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa nilai wajar saham perusahaan PT AAA adalah sebesar Rp14.825 per lembar.

Baca Juga: Arti UMA dalam Saham, Penyebab, dan Langkah yang Perlu Investor Ambil

2. Metode Multiples

Cara menghitung harga wajar dengan pendekatan multiples lebih sederhana dibandingkan dengan pendekatan DCF. Pendekatan ini dapat diandalkan untuk membantu dalam pengambilan investasi.

Pendekatan multiples menggunakan berbagai rasio seperti Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) untuk mencari harga wajar saham. Caranya dengan membandingkan rasio tersebut dengan industri sejenis atau dengan data-data historis.

Berikut rumus untuk menghitung harga wajar dari sebuah saham.

  • Harga saham= PER rata-rata industri x Earning Per Share (EPS)

  • Harga saham= PBV rata-rata industri x Nilai buku per lembar.

Sebagai contoh, perusahaan properti AB memiliki EPS sebesar Rp2.000 dan nilai buku per lembar (BVPS/Book Value per Share). Dalam suatu perhitungan, diketahui bahwa rata-rata rasio PER industri properti sebesar 11,5 kali dan rata-rata rasio PBV industri properti sebesar 1,4 kali.

Dengan data tersebut, untuk menghitung harga wajar perusahaan properti AA sebagai berikut.

Berdasarkan rasio PER, harga wajar perusahaan properti AB dihitung dengan mengalikan PER rata-rata industri sebesar 11,5 dengan EPS perusahaan AB sebesar Rp2.000. Dengan begitu, harga wajar yang didapatkan perusahaan AB sebesar Rp23.000.

Harga wajar= 11,5 x Rp2.000 = Rp 23.000

Berdasarkan rasio PBV, harga wajar dihitung dengan mengalikan PBV rata-rata industri sebesar 2,4, dengan nilai buku per lembar sebesar Rp 16.000. Dengan demikian diperoleh hasil harga wajar perusahaan AB sebesar Rp22.400.

Harga wajar= 1,4 x Rp16.000 = Rp 22.400

Dari penghitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa harga wajar perusahaan properti AB berada pada Rp22.400.00 hingga Rp23.000.

(SA)